Bergabung dengan Komunitas Menulis Menjadikan Saya Seperti Sekarang

Bergabung dengan Komunitas Menulis Menjadikan Saya Seperti Sekarang

Ilustrasi menulis © Judit Peter/Pexels

Sejatinya saya tak pandai menulis. Proseslah yang menjadikan saya mampu melakukannya. Semua dimulai di tahun 2006 ketika saya menulis di laman pribadi.

Tentu saja tulisan saya tak sebaik sekarang. Lebih banyak salahnya ketimbang benarnya. Akan tetapi, di masa itu saya sudah berani ikut lomba menulis virtual yang diadakan oleh Blogfam, salah satu komunitas blogger terkenal pada masanya.

Kala itu saya menjadi pemenang ketiga untuk kategori Lomba Mengeluh Gombal, berkat tulisan yang berjudul “I Love You Just The Way You Are”.

Merasa keren, saya akhirnya memberanikan diri ikut lomba menulis lainnya. Kalau tidak salah diadakan oleh komunitas WSC. Ternyata saya gagal. Saya kecewa.

Sempat kondisi itu membuat saya berpikir untuk tak lagi ikut kompetisi menulis. Akan tetapi, derasnya info lomba menulis di timeline Facebook membuat saya tergoda untuk mengikutinya. Meskipun setelahnya saya harus menelan kekalahan lagi dan lagi.

Itu yang kemudian membuat saya tergerak ikut komunitas menulis online seperti UNSA (Untuk Sahabat), BAW (Be A Writer), dan IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis). Ketiganya memiliki tempat tersendiri di hati saya.

UNSA, dengan berbagai lombanya, memacu saya untuk terus produktif berkarya. Di sana pula saya belajar banyak bagaimana bekerja sama dengan penulis lain untuk menyelesaikan satu naskah cerita.

Tidak hanya itu saja, di UNSA pula saya belajar bagaimana menulis novel komedi berantai dengan penulis lebih dari sepuluh orang. Riwehkah? Susahkah?

Tentu saja. Sebab menyamakan ritme dan gaya kepenulisan dengan banyak orang itu tak gampang. Akan tetapi, dari kesulitan itulah saya beroleh pelajaran besar langkah-langkah apa sajakah yang harus dilakukan ketika kita hendak membuat satu karya dengan penulis lainnya. Terlebih jika penulisnya lebih dari dua.

Be A Writer adalah tempat saya belajar banyak soal kepenulisan. Saya rasa tempat inilah yang berperan menjadikan saya seperti sekarang. Saya banyak belajar dari Mbak Eni Martini, Mbak Leyla Hana, Mbak Riawani Elyta, hingga Mbak Afifah Afra.

Tidak hanya belajar menerima kritikan atas karya yang kita gelar, di komunitas menulis ini pula saya tahu cara membuat outline sebuah novel hingga mengirimkannya ke penerbit.

Bukan itu saja, seluk-beluk perbukuan dari mulai terbit hingga pajak pun saya dapatkan dari sana. Ketatnya jadwal menulis harian, membuat anggotanya yang kala itu berkisar puluhan orang, terbiasa mengeluarkan ide-idenya dalam waktu singkat.

Bergaul dengan mereka inilah yang membuat saya setia menjaga mimpi untuk menerbitkan novel, bukan lagi antologi, suatu hari. Tidak heran jika kemudian saya menuliskan ucapan terima kasih pada komunitas ini di dalam novel komedi yang saya tulis bersama Tya dan Fitri (Ragil Kuning).

short girl story
Di novel inilah, saya menuliskan ucapan terima kasih untuk BAW

IIDN adalah salah komunitas lain yang saya ikuti. Saya ingat betul, saya pernah memenangkan lomba menulis ulang cerita rakyat di grup IIDN khusus penulis anak. Saya lupa tahun berapa, tapi yang jelas ilmunya tetap terpakai sampai sekarang. Di grup ini pula seringkali kesempatan menulis dibagikan. Tidak hanya menulis antologi, tetapi juga menulis buku solo.

Jadi siapa yang tidak senang bergabung di sini jika ada banyak kesempatan menulis yang terbuka lebar? Meskipun pada akhirnya tetap kembali pada individu masing-masing perkara berani tidaknya berkompetisi untuk menembusnya.

Maka jika ada yang bertanya seberapa penting mengikuti komunitas menulis bagi saya? Akan saya jawab penting sekali. Karena bersama komunitas menulislah saya berkembang, dari yang tidak tahu apa-apa sampai bisa menembus berbagai kompetisi yang bertebaran.

Bahkan kemudian menembus penerbitan dan menelurkan buku solo seperti yang pernah saya impi-impikan. Itulah kenapa dalam sejarah kepenulisan saya, komunitas menulis menempati sudut yang istimewa. Yang patut diceritakan kepada anak dan cucu saya.

Maka bagi anda, pemula, tak ada salahnya jika bergabung dengan salah satu komunitas menulis yang ada. Carilah yang bisa mengakomodir kebutuhan belajar anda, tak sekadar pamer karya tanpa tujuan.

Ada banyak manfaat bergabung di dalamnya. Di antaranya adalah mengenal banyak orang, berjejaring dengan mereka, hingga mendapat beragam info penting seputar kepenulisan dari ilmu kepenulisan, kompetisi menulis, hingga peluang untuk menembus penerbitan.

Belajarlah tekun, praktekkan ilmu yang didapat di sana, dan jangan lupa buktikan diri lewat ajang menulis. Suatu hari anda yang mendapatkan keuntungan dari buah ketekunan itu yakni bisa menelurkan berbagai karya tulis yang jejaknya bisa ditelusuri di majalah, koran, hingga penerbitan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kemendikbud Dorong Diseminasi Program PINTAR Sebelummnya

Kemendikbud Dorong Diseminasi Program PINTAR

Lagu "Move" Milik Niki Zefanya Dipakai Apple Saat Peluncuran Jam Pintar Barunya Selanjutnya

Lagu "Move" Milik Niki Zefanya Dipakai Apple Saat Peluncuran Jam Pintar Barunya

3 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Ikut komunitas dapat ilmu gratis, ya mbak.

  • Haeriah

    Benar banget, mengikuti komunitas menulis memang banyak banget manfaatnya. Saya pun merasakannya.

  • Dyah Sugesti

    Setuju, ikut komunitas jadi sekalian belajar konsisten menulis juga buat saya

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.