Indonesia-Inggris Danai 6 Riset Kesehatan Rp37 Miliar, Ini Daftar Universitas Penerimanya

Indonesia-Inggris Danai 6 Riset Kesehatan Rp37 Miliar, Ini Daftar Universitas Penerimanya

Ilustrasi © Pixabay/PublicDomainPictures

Kemenristekdikti bersama dengan Inggris melalui program Newton Fund mendanai enam penelitian kesehatan senilai Rp37 miliar.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan, sejak 2015 lalu kementerian dengan Newton Fund telah melakukan kerjasama riset. Tahun ini, katanya, kerjasama akan fokus dibidang kesehatan. Total riset yang akan didanai selama tiga tahun ada enam dimana peneliti Indonesia akan berkolaborasi dengan peneliti Inggris.

"Total dana dari Inggris Rp32 miliar dan Indonesia Rp5 miliar. Dengan harapan dari riset ini ada hasil inovasi kesehatan dan obat-obatan," katanya pada peluncuran Kerjasama Riset Penyakit Menular Indonesia-Inggris melaluio program Newton Fund di Jakarta, seperti dikuti Sindonews.com.

Menristekdikti dan Dubes Inggris saat konferensi pers peluncuran kerjasama riset penyakit menular Indonesia dan Inggris melalui Program Newton Fund antara Medical Research Council (MRC) dan Kemenristekdikti, di Gedung D, Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (13/5). Fpto: Dok. Kemenristekdikti

Menristekdikti dan Dubes Inggris saat konferensi pers peluncuran kerjasama riset penyakit menular Indonesia dan Inggris melalui Program Newton Fund antara Medical Research Council (MRC) dan Kemenristekdikti, di Gedung D, Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (13/5). Foto: Dok. Kemenristekdikti

Dia mengatakan, hasil kolaborasi ini akan meningkatkan ketahanan dan kesiapan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang mematikan. Termasuk melalui intervensi kebijakan dan pengembangan teknologi farmasi dan inovasi alat medis.

Sementara Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste – Moazzam Malik mengatakan, “Selamat kepada enam peneliti yang terpilih yang mendapatkan pendanaan."

Moazzam Malik menjelaskan, ancaman penyakit menular tinggi di Indonesia. Jika tidak ditanggulangi maka akan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat dan perekonomian nasional. "Saya kira 6 projek ini tidak hanya akan buat riset tapi juga akan memastikan berdampak atas kesehatan rakyat," katanya.

Berikut 6 kolaborasi riset kesehatan antara peneliti Indonesia dan Inggris, yang berhasil dihimpun Kompas.com.

Edinburgh Napier University. Foto: Times Higher Education
Edinburgh Napier University bekerja sama dengan Universitas Indonesia dalam penelitian mengenai demam berdarah. Foto: Times Higher Education

Universitas Indonesia dan Edinburgh Napier University

Riset ini bertujuan menguji molekul cathelicidins yang diproduksi sistem kekebalan tubuh manusia, apakah molekul ini dapat dimodifikasi untuk memerangi demam berdarah.

Universitas Hasanuddin dan University of Saint Andrews

Riset ini bertujuan memahami peran interaksi binatang dan manusia dalam penyebaran penyakit menular seperti malaria.

Universitas Katolik Atma Jaya dan University of Chelsea

Riset ini bertujuan menyelidiki pencegahan HIV yang inovatif, baik melalui pelayanan deteksi yang memadai, juga penanganan yang cepat bagi masyarakat yang sudah terkena dampak HIV.

Universitas Padjajaran berkerja sama dengan The London School of Hygiene and Tropical Medicine. Foto: AyoBandung.com
Universitas Padjajaran berkerja sama dengan The London School of Hygiene and Tropical Medicine. Foto: AyoBandung.com

Universitas Padjajaran dan The London School of Hygiene and Tropical Medicine

Dalam hal mengontrol tuberkulosis (TBC), riset ini bertujuan mengidentifikasi pasien tuberkulosis sejak dini dan meningkatkan pengawasan pada masa pengobatan.

Universitas Gadjah Mada dan University of Liverpool

Riset ini bertujuan menyelidiki pemakaian peralatan molekuler yang dapat meningkatkan diagnosa penderita infeksi otak di Indonesia.

Universitas Indonesia dan University of Manchester

Diagnosis penyakit aspergillosis termasuk mahal dan memerlukan peralatan khusus. Riset ini bertujuan mengembangkan uji diagnosa yang lebih mudah dan terjangkau.

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Menristekdikti Dorong Politeknik Pariwisata di Labuan Bajo Sebelummnya

Menristekdikti Dorong Politeknik Pariwisata di Labuan Bajo

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.