Curhatan Seorang Jurnalis yang Sempat Ingin Mogok Menulis

Curhatan Seorang Jurnalis yang Sempat Ingin Mogok Menulis
info gambar utama

Ketika menulis menjadi rutinitas keseharian yang harus dilakukan, seringkali saya merasa hampa. Pekerjaan mengharuskan saya dalam sehari memproduksi empat tulisan, bahkan saya pernah menulis hingga delapan tulisan.

Istirahat hampir tidak ada. Setiap hari selalu terjun ke lapangan dan menulis hingga malam.

Jika ada peristiwa luar biasa terjadi tengah malam atau jam berapapun, mesti siap mengabarkan. Tentu saja bukan hanya kecepatan tangan ini yang dituntut, tapi juga ketepatan dalam menyampaikan setiap informasi yang didapatkan.

Lebih dari tiga tahun pengalaman saya jadi kuli tinta di lapangan, pekerjaan menulis membuat saya melupakan banyak hal seperti piknik, hehehe.

Energi saya seakan habis tercurah hanya di lapangan dan deadline. Mengolah tema tulisan, bertemu narasumber, konfirmasi, konfirmasi, dan konfirmasi. Awalnya semangat saya begitu membara, namun ada kalanya saya begitu lelah. Bahkan untuk melihat keyboard komputer saja saya mual!

Pernah dalam suatu perjalanan usai liputan, saya berpikir untuk berhenti menulis saja. Mogok! Sudah saking jenuhnya. Seperti orang yang tadinya dimabuk cinta, lalu tetiba kehilangan hasrat karena terlalu mabuk. Hehehe.

Suami akhirnya memberikan saran untuk rehat sejenak. Akhirnya saya pun mencoba untuk cuti dari pekerjaan dan mengistirahatkan diri menulis. Waktu lagi scrolling timeline medsos, saya pun melihat satu komunitas ini, Ibu-Ibu Doyan Nulis. Saya lihat, seorang kawan juga anggota komunitas ini. Wah, saya jadi bersemangat.

Meski tidak pernah ikut kopi darat dan hanya aktif di dunia maya, saya sangat bersyukur mengikuti komunitas penulis Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Bagi saya, komunitas ini memiliki harta karun berupa sumber inspirasi yang luar biasa.

Selama ini saya menulis hanya karena pekerjaan. Saat masuk ke komunitas IIDN, saya melihat sendiri bagaimana para perempuan penulis yang sangat produktif dan memiliki artikel yang berkualitas. Hal yang paling menakjubkan adalah, bagaimana interaksi yang terbangun dalam IIDN ini.

Ya, para anggota IIDN tak sungkan berbagai tips, berbagi link tulisan masing-masing, dan berbagi ilmu yang telah mereka miliki dari pengalaman sendiri hingga ilmu yang didapatkan dari ragam kegiatan yang telah diikuti. Sungguh, kegiatan scrolling timeline medsos pun kini membuat saya memiliki banyak pencerahan.

Mereka seperti keluarga, tak segan untuk memberikan apresiasi langsung, berkunjung dan saling meninggalkan komentar di laman situs masing-masing. Hal positif seperti ini membuat saya jadi kian bersemangat lagi.

Sebagai anggota komunitas yang tadinya lebih banyak jadi pembaca dalam diam alias silent reader, kini saya jadi tertantang untuk kembali menulis. Gairah menulis saya kembali membara. Saya merasa sangat berterimakasih dengan IIDN yang menghidupkan minat saya menulis.

Demikian curhatan saya yang sempat ingin mogok menulis. Sekali lagi saya haturkan terima kasih yang mendalam kepada IIDN, selamat ulangtahun ke-9, tetaplah menginspirasi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini