Perempuan Tangguh Tetap Menulis dan Selalu Berada dalam Komunitas Menulis

Perempuan Tangguh Tetap Menulis dan Selalu Berada dalam Komunitas Menulis
info gambar utama

Allah SWT memerintahkan kepada Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama kali pada Nabi Muhammad SAW tentang baca. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan.

Mengapa Allah mewahyukan yang pertama adalah membaca? Kalian tahu?

Hakikatnya, manusia itu dilahirkan tidak mengetahui apa-apa. Dia lahir dalam keadaan suci dan memorinya masih kosong. Saat kemunculan dia di dunia, mulailah ibu dan ayahnya memperkenalkan kata-kata melalui dialog padanya.

Semua perkataan itu akan direkam olehnya, hingga nanti suatu saat jika dia telah dapat berucap, maka segala perkataan yang pernah diajarkan akan keluar dari mulutnya.

Jadi harus hati-hati dalam berucap. Namun, kita tidak membahas tentang si bayi yang bisa bicara. Akan tetapi hakikat membaca yang berhubungan dengan menulis.

Seberapa pentingkah menulis bagi manusia?

Idealnya, setelah manusia membaca dia harus diimbangi dengan menulis. Ibarat sebuah teko, jika terus menerus diisi penuh, maka lama kelamaan akan tumpah.

Agar tidak tumpah isi teko itu harus dipindahkan ke dalam gelas. Demikian juga membaca, jika telah banyak tertampung dalam otak kita, maka sangatlah baik untuk dituangkan ke dalam tulisan.

Apakah setiap manusia harus menulis? Iya, seharusnya setiap manusia harus menulis.

Betapa banyak efek yang bisa dirasakan manakala kita menulis. Mulai dari terapi emosi, merekam jejak, bahkan bisa membuat kita bicara lebih lancar dan masih banyak lagi.

Kalau demikian halnya, apakah menulis ini juga berlaku dengan perempuan? Tentu saja, tanpa membedakan jenis kelaminnya. Bahkan peran wanita dalam tulisan mampu mengubah dari generasi ke generasi.

Kalian tahu mengapa? Dalam Islam, wanita adalah madrasah utama untuk anak-anaknya. Artinya wanita menjadi landasan utama ilmu yang disampaikan kepada anak sebelum anaknya terjun ke dunia luar.

Di manakah perempuan mampu menulis?

Besarnya peranan wanita bagi generasi inilah membuat mereka dituntut bisa menulis. Namun, kadang ada yang mengatakan, bagaimana memulai untuk menulis? Mengungkapkannya dalam sebuah kalimat saja sepertinya sulit banget. Ini adalah pemikiran yang salah.

Dulu aku juga beranggapan seperti itu. Menulis adalah hal yang tersulit yang ku hadapi saat resign dari pekerjaan di luar. Aku dituntut untuk mengasuh para jundi-jundi titipan Allah, karena ingin pengawasan mereka di bawah pengaruhku bukan orang lain.

Di awal aku begitu kewalahan, bingung harus mulai dari mana dan harus menulis apa. Namun atas beberapa saran dari kakak kelas mulailah aku bergerak.

Ada beberapa hal penting yang membuat seorang perempuan percaya diri untuk terjun ke dunia kepenulisan.

Niat

Dalam sebuah hadis dikatakan “Segala sesuatu diawali dengan niat, engkau adalah apa yang engkau niatkan”. Dengan memegang hadist tersebut, kuawali menulisku dengan niat karena Allah swt. Aku ingin tulisanku semata-mata hanya untuk Allah dan ingin menginspirasi banyak orang.

Memotivasi diri

Niat saja tidak cukup untuk melejitkan keinginan kita dalam menulis. Motivasi dari orang lain akan sirna sejalan dengan waktu. Namun, motivasi dari diri sendiri akan memiliki akar yang kuat hingga ke pusat bumi. Jadi selalu memotivasi diri dan memperbaharuinya setiap hari.

Tujuan menulis

Setiap manusia khususnya perempuan memiliki tujuan menulis yang berbeda-beda. Tujuan ini harus dirancang semenarik dan sekuat mugkin. Mengapa? Karena tujuan itulah yang akan menjadikan proses menulis kita pelan, sedang atau cepat.

Misalkan saja, kita ingin menulis dengan tujuan membuat sebuah buku agar membuktikan pada orang tua bahwa perempuan tidak harus bekerja di luar untuk mendapatkan uang. Namun, dengan dia menghasilkan buku, dia juga bisa. Hal ini menyangkut peranannya setelah menikah yang dibatasi oleh haknya sebagai istri dan ibu dalam mendidik anak-anak.

Tapi tidak mengurangi prestasinya untuk terus belajar dan berprestasi asalkan suaminya ridho terhadap semua yang dia lakukan. Menulis bagi perempuan yang telah menikah jauh lebih mulia jika suaminya tidak mengizinkan dia untuk bekerja di luar.

Mengasah tulisan

Sebagai perempuan penulis yang cerdas, dia harus bisa mencari sendiri kira-kira apa saja yang mampu mengasah tulisan-tulisannya. Selain buku, dia bisa mengikuti event-event. Seperti event cerpen untuk mengetahui sejauh mana letak kelemahan tulisan kita dan mempelajari tulisan para pemenang.

Demikian juga event blog, yang memuat konten dengan kreasi desainnya. Di sana kita dituntut berpikir kreatif mengolah tema dengan beberapa persyaratannya. Semakin unik desain grafis yang kita tampilkan melalui tema yang kita bahas, maka akan semakin tinggi poin penilaiannya.

Selalu berada dalam komunitas menulis

Untuk komunitas menulis, kalian bisa search di Google. Ada banyak komunitas menulis yang bisa mengasah tulisan kita. Program mereka bervariasi. Mulai dari challenge menulis selama 30 hari, kompetisi blog, bahkan mereview buku dengan hadiah-hadiah yang bervariasi.

Semua bisa kita dapatkan dalam komunitas menulis. Ilmu yang didapat juga banyak dan variatif.

Sebagai contoh misalnya. IIDN atau Ibu-ibu Doyan Nulis, adalah komunitas para ibu-ibu yang suka sekali sama menulis. Sesuai 'kan dengan namanya. Tanpa disengaja, aku mengikuti komunitas ini melalui Facebook, karena penasaran dengan nama grupnya yang unik, akhirnya aku masuk dan diterima oleh adminnya.

Setelah berada di dalamnya, awalnya kuikuti perkembangan mereka dulu, dan ternyata mereka aktif, meskipun beberapa waktu agak sedikit tertunda. Namun tetap berjalan di beberapa waktu kemudian.

Jadwal kegiatan IIDN full dari Senin sampai Sabtu. Mulai dari lapak (menjual buku-buku karangan kita di grop), blogwalking, puebi, review buku, dan masih banyak lagi. Jadi masuk dalam komunitas IIDN tidak hanya tahu menulis saja, namun ilmu kepenulisan sangat banyak di dalamnya.

Tidak itu saja, ada beberapa komunitas menulis lainnya untuk menambah ilmu kita. Menuntut ilmu tidak hanya harus di satu tempat, tetapi akan lebih baik di banyak tempat. Mengapa? Agar tulisan yang akan kita sampaikan pada dunia akan semakin berbobot.

Perempuan tangguh selalu menulis

Bagi perempuan yang cerdas, untuk mengembangkan potensi menulisnya, tidak hanya cukup dengan membaca, dan berada dalam komunitas menulis. Tapi dia dituntut mencari poin tambahan lain. Baik itu dalam seminar-seminar dalam forum kecil maupun besar.

Dengan demikian, akan lahirlah perempuan-perempuan tangguh yang sukses di rumah tangga dan lingkungannya. Secerdas-cerdasnya perempuan atau setinggi tingginya perempuan menuntut ilmu jika dia tidak mampu untuk menulis, maka dia tidak ada nilainya sama sekali di mata masyarakat.

Oleh karena itu, tanamkan dalam diri, untuk menulis setiap hari, agar bisa memberikan yang terbaik untuk umat. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita. Mungkin dengan kita menulis artinya kita menyampaikan. Hal yang disampaikan haruslah berupa kebaikan agar bernilai dakwah. Pahalanya? Hanya Allah yang berhak menentukan. Wallahualam.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini