Komunitas Mengayakanmu

Komunitas Mengayakanmu

© Pixabay

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Menulis memang kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi agar apa yang ditulis benar-benar sinkron dengan apa yang ada di dalam pikiran penulisnya.

Bahkan untuk mendapatkan hasil tulisan yang bagus, seorang penulis ada yang sampai "menyepi" agar konsentrasinya tidak terganggu.

Hal ini terjadi pada beberapa penulis yang saya tahu, bahwa ketika ia akan membuat tulisan/buku, ia akan menyepi, meninggalkan rumahnya untuk sementara tinggal di hotel selama beberapa hari bahkan minggu.

Mungkin bagi yang berkilah, "Kan memang untuk menulis buku, tulisannya harus panjang berlembar-lembar, berbab-bab. Tentu saja perlu konsentrasi tinggi. Apalagi untuk menjaga benang merah antara bab satu dengan bab lainnya, dan seterusnya."

Ada benarnya. Namun untuk menulis artikel yang hanya 300 kata pun juga perlu konsentrasi, meski tidak seintens menulis buku atau tulisan yang panjang.

Menulis jika sudah memiliki ide, akan sangat mudah melakukannya. Beda lagi dengan keinginan menulis yang tinggi, namun sudah ke sana-ke mari masih belum juga menemukan ide. Menulis akan menjadi hal yang tidak mudah.

Penglamaan <> pengalaman

Ada sebuah cerita. Seorang anak balita, memiliki hobi menggambar. Untuk usianya, gambar hasil karyanya bisa dibilang sangat bagus, seolah melebihi usia si anak. Hasil karyanya seolah bukan karya anak balita, namun hasil karya anak yang sudah SD. Banyak orang berdecak kagum. Anak itu tersenyum senang.

Waktu berlalu, si anak tersebut masih dengan hobi yang sama, menggambar setiap hari. Kini ia sudah duduk di bangku SD.

Hasil menggambarnya memang tetap bagus, namun orang-orang bergumam bahwa hasil karya si anak memang sesuai usianya. "Bagus, anak seusia itu memang rata-rata hasil menggambarnya begitu," ujarnya.

Ada yang berubah. Ke mana decak kagum orang-orang yang dulu mengatakan bahwa karya si anak bagus melebihi usianya?

Kalau saat ini hasil gambarnya tidak lagi melebihi usia si anak, atau dianggap hasil karyanya sesuai usianya, berarti ada kemunduran bukan?

Karena menganggap hasil karyanya tak lagi mengagumkan, si anak tadi semangatnya turun. Bahkan sampai pada titik merasa malas menggambar. Menggambar yang dulu merupakan hobinya, yang mewarnai setiap harinya, kini hilang sudah, entah ke mana. Apa yang salah?

Kurangnya referensi

Selama ini ternyata si anak hanya sibuk menggambar. Tanpa "merasa perlu" melihat-lihat hasil karya orang lain sebagai referensi, atau pun pembanding. Ia terlalu yakin pada dirinya, sehingga merasa apa yang sudah dilakukannya sudah cukup bagus, toh dia juga sudah berlatih setiap hari bukan?

Semangat yang tinggi itu bagus, namun untuk berkembang, perlu ditambah dengan memperkaya khasanah di bidang itu.

Seseorang yang melakukan pekerjaan itu secara terus-menerus selama sekian lama, tanpa ada peningkatan pembelajaran, maka yang didapat orang itu bukanlah pengalaman, namun hanyalah sekedar penglamaan.

Sebaliknya seseorang yang melakukan pekerjaan itu secara terus-menerus dan ia juga memperkaya khasanah ilmu pemahamannya tentang bidang tersebut, melakukan perbaikan terus menerus pada pekerjaan, maka orang ini mendapat pengalaman. Ia bisa menjadi ahli di pekerjaannya.

Begitu juga dengan berkomunitas

Dengan berkomunitas, kita berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama, ketertarikan yang sama, atau bahkan mimpi yang sama. Mencari referensi-referensi, pembanding, akan memperkaya khasanah ilmu kita, yang dibutuhkan untuk berkembang.

Pada komunitas menulis, kita akan sering melihat teman lain menampilkan karya-karyanya. Hal ini juga akan memacu semangat kita untuk terus berkarya. Bertumbuh. Melihat pencapaian-pencapaian teman, memacu kita untuk cek pencapaian kita dan mungkin akan menarik lebih tinggi pada target diri.

Mengetahui situasi di luar sana terkait kegiatan menulis, tema apa yang paling banyak di suka masyarakat, kesalahan-kesalahan apa yang sering dilakukan penulis, permasalahan yang biasa/berpotensi muncul, peluang-peluang yang ada, inspirasi dan lain sebagainya, membuat kita tak seperti katak dalam tempurung.

Sesama anggota komunitas akan saling meng-update informasi-informasi seputar dunia kepenulisan, sama halnya kita meng-upgrade diri, bukan?
Laklu yang paling berkesan dalam berkomunitas adalah dalam berjuang meraih mimpi ini kita tidak sendirian.

Perempuan dan komunitas

Berkomunitas sangat penting bagi pengembangan diri, apalagi untuk kita yang perempuan. Mengapa? Sifat dasar perempuan adalah suka ditemani.

Sering kan menemui atau bahkan mengalaminya sendiri, saat di suatu tempat, hanya untuk pergi ke toilet saja biasanya perempuan mengajak temannya. Membersamainya, menemaninya.

Itu sekadar ke toilet, apalagi untuk hal yang jauh lebih besar dan manfaat. Perempuan juga suka sharing, senang saat ada yang mendengarkan, mendukung, dan lain sebagainya.

Fixed! Gabung komunitas itu penting, Kawan GNFI.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Guru Esa "Berhentilah Menyalahkan Gelap, Terangilah Dengan Perubahan" Sebelummnya

Guru Esa "Berhentilah Menyalahkan Gelap, Terangilah Dengan Perubahan"

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia Selanjutnya

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia

Zakiatul Hidayati
@zakia_id

Zakiatul Hidayati

https://wishbeukhti.wordpress.com/

4 Komentar

  • Qurratul Ain

    Setujuuu. Analoginya pas banget, mba. Benar-benar mengena. Oia, salam kenal, mba. Saya dari komunitas IIDN juga :)

    • Zakiatul Hidayati

      waah, salam kenal mbak Ain :)

  • Noer Ima Kaltsum

    Dengan berkomunitas, minimal ada pengakuan dari anggota komunitas. Selebihnya bisa lebih maju karena ada dukungan dari orang-orang yang &quot;senasib&quot;.

    • Zakiatul Hidayati

      benar sekali mbak Noer :)

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.