Nikmati Perjalanan Menulismu Sendiri

Nikmati Perjalanan Menulismu Sendiri

© Canva https://www.canva.com/

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Entah kapan tepatnya saya mulai suka menulis. Yang jelas, dulu saat awal masuk SD saya sama sekali tidak bisa membaca, apalagi menulis.

Sebagai penyemangat belajar, orang tua memberikan beberapa bacaan menarik untuk anak-anaknya, seperti komik Donald Bebek, Gufi, juga majalah anak bulanan seperti Bobo dan Mentari Putera Harapan. Maklum, anaknya ada 4, bisa ribut kalau sampai membeli cuma 1.

Ada salah satu segmen di majalah tersebut yang menampilkan cerita pendek. Setiap majalah itu datang, cerita pendek yang senantiasa saya tunggu.

Saya memiliki 1 buku yang digunakan untuk menggambar dan menulis apa saja yang saat itu ingin saya coretkan. Lama-lama menulis cerita pendek saya sendiri. Namun tidak berani menunjukkannya pada teman-teman. Malu.

Saat duduk di bangku SMP, saya mulai berani menunjukkan beberapa tulisan cerita pendek saya kepada teman. Tak banyak, hanya pada teman sebangku dan teman yang duduk di depan bangku saya, karena kami cukup dekat.

Dari komentarnya, mereka suka dengan cerita saya dan menyarankan untuk dikirim ke majalah anak-anak. Namun saya tak pernah mengirimkannya, dengan satu alasan yang sama, yaitu malu.

Waktu berlalu, hingga saya duduk di bangku SMK. Entah terpicu oleh apa saya lupa, akhirnya saya memberanikan diri mengirimkan satu naskah cerita pendek ke majalah anak-anak.

Lama menunggu... dan tak ada balasan yang saya terima, hingga saat ini. Entahlah.

Hal ini sempat membuat saya menjadi malas menulis cerita lagi, saya hanya menulis cerita-cerita kejadian yang saya alami sehari-hari. Lebih mirip diary.

Setelah lulus SMK, saya langsung bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Bersamaan dengan itu adalah boomingnya situsweb di internet. Banyak wsitusweb yang menyediakan fitur berbagi cerita. Saya salah satu penggunanya.

Zaman berganti, banyak situsweb berguguran. Seleksi alam, berganti dengan booming menulis di blog. Berbagai macam platform blog ditawarkan. Saya ikut serta meramaikannya dengan memiliki beberapa akun blog sekaligus.

Ternyata semangat di awal dengan langsung memiliki banyak blog tidak dibarengi dengan cukupnya keseriusan dan waktu untuk meng-update-nya. Hingga tersisalah dua blog saja yang paling sering saya update, hingga sekarang.

Di sisi lain, perusahaan tempat saya bekerja memiliki situsweb internal untuk menginformasikan berbagai hal kepada para karyawannya, termasuk di dalamnya sebuah fitur menulis berbagi cerita yang diberi nama ice cube.

Saya memberanikan diri membuat tulisan di situsweb internal tersebut, alhamdulillah responnya lumayan. Setidaknya menambah kepercayaan diri saya dalam menulis.

Hingga muncullah sosial media yang bernama Facebook, yang membawa saya berkenalan dengan komunitas menulis, hingga menelurkan karya antologi pertama saya.

Banyak grup di Facebook yang mengajak menulis bersama para anggotanya. Namun memang tidak semua serius sampai benar-benar menerbitkan karya antologi.

Beberapa karya yang saya kirimkan di beberapa grup, tidak ada kelanjutan informasinya sampai mana prosesnya, yang menjadi pengalaman dan pembelajaran berharga bagi saya.

Kesibukan melahirkan anak kedua, perpidahan kami ke beberapa kota, cukup menyita waktu dan perhatian yang membuat saya harus fokus pada hal yang lain sementara waktu.

Saat situasi mulai terkendali, saya mulai menulis kembali di blog pribadi dan mengikuti beberapa lomba blog. Kalah, menang, alhamdulillah cukup banyak saya rasakan.

Kalah menambah semangat belajar, menang pun juga menambah semangat belajar. Semua memiliki porsi pembelajarannya masing-masing.

Banyak sekali manfaat yang saya rasakan dengan menulis, di antaranya adalah:

  • Media penyaluran emosi. Saya menjadi lebih tenang, karena berbagai hal yang berkecamuk di dalam pikiran, bisa menjadi ide tersendiri untuk saya tuangkan dalam bentuk tulisan, baik berupa artikel atau pun cerita pendek.
  • Melancarkan komunikasi. Komunikasi yang baik adalah apa yang disampaikan pembicara bisa dipahami oleh pendengar sesuai apa yang dimaksudkan pembicara. Dengan menulis, kita berlatih menyampaikan apa yang ada di kepala kita ke dalam bentuk tulisan.
  • Meningkatkan penerimaan diri. Apa yang kita rencanakan, jika bisa terlaksana dengan baik, mendatangkan kepuasan tersendiri yang menambah rasa penerimaan atas diri. Menjadi lebih nyaman dengan diri sendiri.
  • Mendatangkan materi. Semua yang kita kerjakan dari hati dan konsisten, apa pun itu pasti akan membawa hasil, termasuk materi. Materi hanyalah akibat, bukan sebab.

Di balik sekian banyak manfaat yang ada, yang membuat saya menulis adalah karena saya suka menulis. Rasa suka kadang tak membutuhkan penjelasan. Ia adalah panggilan jiwa.

Terus menulis. Sebagaimana hidup, masing-masing kita memiliki jalan takdir sendiri-sendiri, ujiannya sendiri-sendiri. Ada yang memiliki perjalanan cepat dalam mencapai impiannya, ada yang lambat karena berputar-putar dulu, dan lain sebagainya.

Apapun itu, selama kita memiliki titik tujuan yang jelas, cepat atau pun lambat hanya masalah waktu, kelak akan sampai juga.

Nikmati perjalanannya, segala prosesnya. Karena yang namanya cinta, kesulitan dan lelah yang ada kadang seolah tiada. Yang nampak hanya bahagia, telah melakukan apa yang disuka.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Membantu Para Ibu Lebih Berdaya dengan Komunitas Sebelummnya

Membantu Para Ibu Lebih Berdaya dengan Komunitas

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia Selanjutnya

Hobbit dan Mata Menge, ‘’Manusia Purba’’ Flores yang Menyulut Perdebatan Arkeolog Dunia

Zakiatul Hidayati
@zakia_id

Zakiatul Hidayati

https://wishbeukhti.wordpress.com/

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.