Titik Kritis Komunitas Penulis Perempuan

Titik Kritis Komunitas Penulis Perempuan
info gambar utama

"Aku merasa jahat," celetuk seorang kawan ketika kami sedang jajan bakso berdua. Sebagai respons, aku mengerutkan dahi. Tak paham arah juntrungan pembicaraannya.

"Iya, lho. Aku merasa menjadi jahat sejak masuk WAG tu. Isinya ternyata rumpian pada teman-teman. 'Kan itu jahat?" lanjutnya.

"Eh? Aku di situ juga anggota, lho," sergahku dengan heran.

"Bukaaan. Bukan WAG yang itu. Yang sub WAG-nya. Yang khusus pengurus."

Aku tertegun sejenak, lalu berkata, "Oh, ternyata ada grup khusus pengurus? Eee .... Tapi setahuku, kamu bukan pengurus. Itungannya malah anggota yang baru."

"Memang bukan. Enggak tahu, tuh. Tiba-tiba saja sudah di dalam."

"Berarti kamu dikader untuk jadi pengurus. Hebat. Pendatang baru dan langsung diistimewakan. Haha!" selorohku.

"Tapi aku merasa enggak nyaman. Isinya ghibah, lho. Banyak ngomongin anggota lain. 'Kan jahat?"

Aku tersadar mendengar perkataan kawanku itu. O la la! Betul banget. Membicarakan orang di belakangnya itu memang jahat.

Mengapa mesti dibicarakan di belakang punggung? Andaikata dibahas secara blak-blakan di WAG atau dihubungi secara pribadi, bukankah lebih elegan? Asalkan dikomunikasikan dengan baik, pasti segalanya bisa kondusif.

Alhasil, sebersit kecewa menggores dadaku. Aku merasa tak lagi nyaman berada di dalam WAG tersebut. Takut dipergunjingkan oleh yang terhormat dewan pengurus. Hehehe...

Selain itu, aku merasa diperlakukan tak adil. Betapa tidak, coba? Sudahlah pembahasan tentang dunia kepenulisan jarang ada, eh, malah ditambah dengan adanya sub-WAG rerumpian. Duh, menyedihkan sekali!

Apa boleh buat? Kiranya contoh kasus di atas merupakan titik kritis komunitas penulis perempuan. Keakraban di antara sesama pengurusnya kadangkala menjadi bumerang.

Pada satu sisi membuat solid kepengurusan komunitas. Sementara pada sisi lainnya, kesolidan itu berpotensi menyebabkan banyak anggota lainnya terabaikan. Sekali lagi, apa boleh buat?

Namun, percayalah. Kasus menyebalkan seperti yang kukisahkan di atas jarang terjadi. Aku menemuinya sebab memang sedang apes saja. Optimislah. Jangan serta-merta takut berkomunitas lho, ya. Sebab bagaimanapun, berkomunitas itu memiliki banyak manfaat.

Terkhusus untuk komunitas kepenulisan, manfaat-manfaat yang bisa diambil oleh masing-masing anggotanya antara lain:

1. Di antara sesama anggota dapat saling menimba ilmu kepenulisan.

2. Di antara sesama anggota dapat saling memberi inspirasi dan motivasi untuk menulis.

3. Di antara anggota dapat saling menjaga konsistensi dalam belajar menulis.

4. Dapat melejitkan prestasi menulis.

5. Dapat memperluas jejaring pergaulan tiap anggotanya.

Sudah cukupkah? Sangat mungkin belum. Selain lima manfaat di atas, ada kemungkinan masih ada manfaat lain bagi masing-masing anggota, yang sifatnya individual.

Nah 'kan? Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, berkomunitas (menulis) bagi para penulis perempuan tetaplah perlu. Titik kritis pasti akan menghantui. Tapi bisa dikelola 'kan?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini