Titik Kritis Komunitas Penulis Perempuan

Titik Kritis Komunitas Penulis Perempuan

Kopdar IIDN Jogja © IIDN Jogja

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

"Aku merasa jahat," celetuk seorang kawan ketika kami sedang jajan bakso berdua. Sebagai respons, aku mengerutkan dahi. Tak paham arah juntrungan pembicaraannya.

"Iya, lho. Aku merasa menjadi jahat sejak masuk WAG tu. Isinya ternyata rumpian pada teman-teman. 'Kan itu jahat?" lanjutnya.

"Eh? Aku di situ juga anggota, lho," sergahku dengan heran.

"Bukaaan. Bukan WAG yang itu. Yang sub WAG-nya. Yang khusus pengurus."

Aku tertegun sejenak, lalu berkata, "Oh, ternyata ada grup khusus pengurus? Eee .... Tapi setahuku, kamu bukan pengurus. Itungannya malah anggota yang baru."

"Memang bukan. Enggak tahu, tuh. Tiba-tiba saja sudah di dalam."

"Berarti kamu dikader untuk jadi pengurus. Hebat. Pendatang baru dan langsung diistimewakan. Haha!" selorohku.

"Tapi aku merasa enggak nyaman. Isinya ghibah, lho. Banyak ngomongin anggota lain. 'Kan jahat?"

Aku tersadar mendengar perkataan kawanku itu. O la la! Betul banget. Membicarakan orang di belakangnya itu memang jahat.

Mengapa mesti dibicarakan di belakang punggung? Andaikata dibahas secara blak-blakan di WAG atau dihubungi secara pribadi, bukankah lebih elegan? Asalkan dikomunikasikan dengan baik, pasti segalanya bisa kondusif.

Alhasil, sebersit kecewa menggores dadaku. Aku merasa tak lagi nyaman berada di dalam WAG tersebut. Takut dipergunjingkan oleh yang terhormat dewan pengurus. Hehehe...

Selain itu, aku merasa diperlakukan tak adil. Betapa tidak, coba? Sudahlah pembahasan tentang dunia kepenulisan jarang ada, eh, malah ditambah dengan adanya sub-WAG rerumpian. Duh, menyedihkan sekali!

Apa boleh buat? Kiranya contoh kasus di atas merupakan titik kritis komunitas penulis perempuan. Keakraban di antara sesama pengurusnya kadangkala menjadi bumerang.

Pada satu sisi membuat solid kepengurusan komunitas. Sementara pada sisi lainnya, kesolidan itu berpotensi menyebabkan banyak anggota lainnya terabaikan. Sekali lagi, apa boleh buat?

Namun, percayalah. Kasus menyebalkan seperti yang kukisahkan di atas jarang terjadi. Aku menemuinya sebab memang sedang apes saja. Optimislah. Jangan serta-merta takut berkomunitas lho, ya. Sebab bagaimanapun, berkomunitas itu memiliki banyak manfaat.

Terkhusus untuk komunitas kepenulisan, manfaat-manfaat yang bisa diambil oleh masing-masing anggotanya antara lain:

1. Di antara sesama anggota dapat saling menimba ilmu kepenulisan.

2. Di antara sesama anggota dapat saling memberi inspirasi dan motivasi untuk menulis.

3. Di antara anggota dapat saling menjaga konsistensi dalam belajar menulis.

4. Dapat melejitkan prestasi menulis.

5. Dapat memperluas jejaring pergaulan tiap anggotanya.

Sudah cukupkah? Sangat mungkin belum. Selain lima manfaat di atas, ada kemungkinan masih ada manfaat lain bagi masing-masing anggota, yang sifatnya individual.

Nah 'kan? Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, berkomunitas (menulis) bagi para penulis perempuan tetaplah perlu. Titik kritis pasti akan menghantui. Tapi bisa dikelola 'kan?

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Berkarya Bersama Komunitas Menulis IIDN-Interaktif Sebelummnya

Berkarya Bersama Komunitas Menulis IIDN-Interaktif

Honda PCX Baru Dibekali Mesin 157 cc dan Rangka Baja Selanjutnya

Honda PCX Baru Dibekali Mesin 157 cc dan Rangka Baja

Agustina Purwantini
@agustinapurwantini

Agustina Purwantini

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Grup WA komunitas diaktifkan untuk sharing penulisan, cocok banget. Soalnya banyak banget manfaatnya.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.