Perempuan, Menulis, dan Berkomunitas

Perempuan, Menulis, dan Berkomunitas

Ilustrasi mengetik © Stokpic

Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa seorang wanita, dalam sehari, bisa mengeluarkan sekitar 20 ribu kata dibandingkan pria yang hanya membutuhkan 7 ribu kata per harinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa di dalam otak wanita terdapat protein yang dinamakan "protein berbahasa". Semakin banyak jumlah protein tersebut, maka semakin cerewetlah dia.

Namun, tidak jarang, ada sebagian wanita yang merasa kesulitan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati melalui lisannya. Akibatnya, mereka memilih diam dan memendam semua.

Padahal, kebiasaan memendam tersebut berdampak buruk bagi kesehatan mental mereka. Kecenderungan mengalami stress pun akan meningkat.

Lalu, bagaimana?

Menulislah

Berbicara memang tidak selalu mudah, tetapi bukan berarti kita memilih diam seribu bahasa. Alih-alih menyelesaikan masalah, malah semakin mempertajam konflik yang telah terbuka.

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya di sini bahwa salah satu cara mengungkapkan apa yang kita rasakan adalah dengan menulis. Kita bisa menulis apa saja, baik tentang sesuatu yang sangat menyenangkan atau bahkan yang menyedihkan.

Betapa banyak saat ini kita jumpai penulis-penulis perempuan yang namanya membubung tinggi dengan segudang prestasi. Mereka semua memulainya dengan menulis.

Ya, menulis. Menulis bukan berarti harus menulis sesuatu yang berat. Menulislah sesuai dengan hati kita agar pesan yang ingin kita sampaikan pun bisa tercapai.

Tidak perlu merasa, "Ah ... Saya tidak memiliki bakat menulis." Para perempuan penulis seperti Asma Nadia, Dewi Lestari, dan lain-lain pun dulunya juga tidak berbakat.

Namun, mereka terus mengasah kemampuan menulisnya hingga akhirnya semua usaha tersebut berbuah manis. Tulisan mereka disukai banyak orang. Dari tulisanlah, pundi-pundi rupiah bisa dihasilkan.

Hobi yang dibayar

Dimulai dari menulis diary lalu berujung pada sebuah buku yang akhirnya booming, siapa yang tidak tertarik? Atau menulis kisah-kisah kehidupan diri sendiri dan orang lain hingga laris terjual.

Kita sudah diuntungkan dengan perasaan yang akhirnya lega karena menulis, ditambah pula dengan cring-cring yang membanjiri rekening.

Itulah yang dinamakan 'hobi yang dibayar'. Mengasyikkan, bukan? Melakukan sesuatu sesuai dengan passion kita memang sangat menyenangkan. We love what we do and we do what we love.

Umur kedua

Poin ini yang paling penting. Kita tahu bahwa kita tidak akan hidup selamanya di dunia ini karena kelak kita akan berpindah ke kehidupan yang abadi.

Ada satu hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang salih." (HR. Muslim).

Dari ketiga hal tersebut, kita tidak pernah tahu bagian mana yang kelak akan menolong kita di akhirat. Melalui menulis, kita bisa tetap 'hidup'. Tentu saja dengan menulis sesuatu yang bermanfaat.

Kita tentu tahu bahwa Imam Bukhari, kitab hadis-nya berusia lebih dari 1.100 tahun. Usia penulisnya hanya berkisar 60 tahun.

Lihatlah, karya beliau abadi sepanjang zaman, digunakan sebagai rujukan oleh kaum Muslimin hingga akhir zaman, InsyaAllah.

Maka begitu pula dengan diri kita. Memiliki karya yang bermanfaat saat jasad berkalang tanah seharusnya menjadi salah satu keinginan dan cita-cita kita.

Berada dalam komunitas

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa mereka tidak akan bisa hidup sendiri, mereka membutuhkan orang lain. Maka demikian pula dengan seorang penulis. Ia pun membutuhkan komunitas yang mendukung kegiatannya.

Tergabung dalam satu komunitas penulis tentu akan sangat menguntungkan. Di antara keuntungan berada dalam payung komunitas adalah:

  • Memiliki tempat berbagi ilmu kepenulisan
  • Mendapat masukan atas hasil tulisan
  • Memudahkan kita terhubung dengan berbagai event kepenulisan
  • Memiliki banyak teman
  • Sebagai wadah untuk belajar dan aktualisasi diri
  • Membantu para anggota mendapatkan job kepenulisan
  • Meningkatkan kemampuan menulis

Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis mampu menjadi wadah aktualisasi diri bagi para wanita yang suka menulis. IIDN juga memfasilitasi para anggotanya menghasilkan karya berupa buku. Tentu saja hal ini sangat membanggakan, terutama bagi para newbie seperti saya.

Bergabung dalam komunitas, tidak pernah ada kerugiannya. Yang ada justru semakin menambah tali persaudaraan. Berkomunitas juga akan membuat ketrampilan kita semakin terasah.

Tunggu apa lagi? Menulislah. Jadikan menulis sebagai umur kedua kita.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kesalahan yang Membuatku Gagal Menjadi Penulis Buku Anak Profesional Sebelummnya

Kesalahan yang Membuatku Gagal Menjadi Penulis Buku Anak Profesional

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

4 Komentar

  • Rohyati Sofjan

    Memendam memang tidak baik, dengan menulis justru bisa melegakan.

    • Renita Oktavia

      Betul mbak

  • Noer Ima Kaltsum

    Menulis lalu dapat duit. Berkomunitas, dapat saudara. Menulis dan berkomunitas, dapat banyak hal.

    • Renita Oktavia

      berlipat lipat keuntungannya :D

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.