Ibu-ibu Doyan Nulis dan Geng Salihah Menulis, Dua Komunitas Perempuan yang Menjadi Pembuka Jalanku

Ibu-ibu Doyan Nulis dan Geng Salihah Menulis, Dua Komunitas Perempuan yang Menjadi Pembuka Jalanku
info gambar utama

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dandari sejarah..." (Pramoedya Ananta Toer)

Ternyata, menulis tak hanya milik segelintir orang yang melabeli dirinya dengan sebutan "penulis". Menulis telah menjadi bagian penting dalam sejarah dan peradaban berbagai negara di seluruh dunia.

Dari berbagai tulisan dan pahatan yang ditemukan dalam aneka situs peninggalan sejarah masa lalu, dapat diketahui sejauh mana perkembangan kehidupan masyarakat pada masa itu.

Kini, seiring berkembangnya internet dan globalisasi informasi, rasa-rasanya tak berlebihan jika kita mengatakan, "Semua orang bisa dan mampu menulis!"

Unggahan status warganet di berbagai media sosial telah membuktikan kebenaran pernyataan ini, karena menulis itu hanya perlu dilakukan, tanpa perlu selalu dipikirkan.

Perjalanan seriusku di dunia menulis sendiri sebenarnya baru dimulai pada akhir tahun 2017. Meski sebelumnya telah memiliki basic menulis, terutama penulisan berita televisi, aku sama sekali tak pernah berpikir sama sekali akan menggeluti dunia ini.

Semuanya berawal dari suatu komunitas online penulis perempuan di ranah media sosial Facebook yang berlabel Komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis).

Selama beberapa tahun berada di dalam grup Facebook IIDN, aku hanya menjadi silent reader belaka. Hingga di akhir tahun 2017 ada tawaran menjadi seorang kontributor untuk sebuah platform online bernama UC News. Di sinilah semuanya berawal.

Aku bertemu dengan banyak penulis hebat yang luar biasa, padahal usia mereka masih jauh di bawahku. Salah seorang dari penulis hebat itu kemudian mengajakku bergabung dalam suatu komunitas kecil beranggotakan 9 orang perempuan.

Saat itu aku mulai diajak untuk menulis buku bersama, meski kami belum memberi nama komunitas kecil ini. Dalam perjalanannya, kami kemudian sepakat memberi nama komunitas kecil tersebut dengan nama yang cukup unik, GSM alias Geng Salihah Menulis.

Bersama komunitas GSM inilah perjalanan menulisku semakin terasah. Menjadi kontributor di berbagai platformonline aku jalani. Menjadi seorang ghostwriter pun aku iyakan. Semuanya berbarengan dengan konsistensi kami menerbitkan buku.

Alhamdulillah, 4 buku antologi telah berhasil GSM tulis. dua buku telah terbit, satu lagi masih dalam proses editing di penerbit, dan satu lagi masih dalam proses antrian naik cetak. MasyaAllah.

Buku ke-2 Geng Salihah Menulis,
info gambar

Segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama memang sungguh menyenangkan. Meski kami bersembilan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, bahkan ada satu di antaranya yang berdomisili di Malaysia, kehangatan hubungan secara online selalu terjaga. Serasa bertemu dengan saudara dan para sahabat lama.

"Salah satu rezeki terbaik dalam kehidupan adalah ketika engkau bertemu dengan sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan dalam kebaikan..." (Hastin Pratiwi)

Terima kasih Komunitas IIDN.

Darimu aku menemukan jalanku. Darimu pula aku dapat bertemu dengan 8 orang sahabat rasa saudara di GSM, yang selalu mengingatkan dalam kebaikan.

Selamat menemukan komunitasmu! Teruslah berproses dan berjalan, karena pada saatnya nanti kita semua pasti akan bertemu dengan sahabat terbaik yang memiliki visi dan misi sejalan dengan apa yang menjadi tujuanmu.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HP
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini