Hoax dan Perempuan Penulis

Hoax dan Perempuan Penulis

Ilustrasi hoaks dan penulis © Shutterstock.com

Hoaks itu beredar sangat luas dan gampang sekali mengaksesnya. Lho, di manakah gerangan hoaks itu? Jawabannya, ada di semua media sosial.

Setiap orang mudah mengaksesnya, karena hampir setiap orang yang memiliki gawai biasanya punya media sosial. Hoaks adalah berita bohong dan tidak mengandung kebenaran.

Bagi saya selaku perempuan penulis, saya selalu berhati-hati dengan mencari sumber berita yang kontennya mengandung hoaks.

Menurut Menteri Kominfo, Rudiantara, setiap harinya banyak sekali orang mengeluarkan atau meneribitkan konten hoaks. Bahkan telah ditemukan dan diidentifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) selama bulan Agustus–Desember 2018, terdapat 62 konten hoaks.

Sebelumnya tiap bulan mulai dari Agustus hingga November 2018 terdapat 11-13 konten.

Jumlah Kasus Hoax
Jumlah Total Aduan Hoax di WhatsApp yang diterima oleh Kominfo

Sekarang Kemkominfo dapat menemukan berita hoaks dengan sangat mudah karena adanya mesin AIS yang digunakan oleh Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Ditjen Aplikasi Informatika.

Jika kita ingin mengetahui konten apa saja yang telah terindikasi hoaks, langsung saja akses portal kominfo.go.id dan stophoax.id.

Sebagai penulis perempuan yang baru saja melangkah, konten hoaks perlu saya hindari karena hal ini bukanlah indikasi yang baik. Mengingat begitu banyak konten hoaks, maka setiap kali saya ingin menulis dan mencoba untuk mengambil referensi, saya harus berhati-hati untuk membaca dan menguji, mana konten yang hoaks atau bukan.

Beberapa yang hal yang penting diketahui untuk menguji apakah konten itu hoaks atau bukan adalah sebagai berikut ini:

Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoaks itu biasanya membubuhi judul yang sensional dan provokatif, misalnya memojokkan orang atau pihak tertentu. Isinya memang berasal dari situs remis, tetapi sudah diubah agar menimbulkan persepsi yang sesuai yang dikehendaki oleh pembuat hoaks.

Agar tidak terjebak oleh berita hoaks, sebaiknya mencari sumber aslinya baik itu berupa situs daring. Lalu membandingkan isi, apakah sama atau berbeda. Lalu kita dapat menganalisa, dan memperoleh kesimpulan di mana berita yang ditambahi itu sebenarnya tidak benar.

Cermati alamat situsweb

Sebuah berita itu harus kita cari nama situsweb-nya atau URL-nya. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, contohnya jika menggunakan domain blog, maka kebenaran informanya sangat diragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situsweb yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah yang besar itu, yang terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak mencapai 300. Artinya terdapat ribuan situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang harus diwaspadai.

Periksa fakta

Jangan pernah gegabah untuk mendapatkan sumber berita. Hal yang paling krusial adalah mengecek dari mana berita itu berasal, siapa sumbernya, apakah institusi resmi atau tidak.

Tidak mempercayai berita yang berasal dari ormas, tokoh politik atau pengamat sekali pun. Memperhatikan keseimbangan berita. Jika ada dua berita maka kita bisa membandingkan dan memperoleh gambaran yang utuh.

Pentingnya mengetahui apakah berita atau tulisan itu berdasarkan fakta atau opini. Fakta merupakan peristiwa yang terjadi dengan adanya saksi dan bukti, sedangkan opini adalah pendapat pribadi yang sangat subjektif sifatnya.

Cek keaslian foto

Foto pun bisa digunakan sebagai hoaks. Dengan adanya teknologi digital yang mampu memanipulasi foto maupun video dengan cara mengedit foto atau video aslinya.

Cara untuk mengecek keaslian foto dapat dilakukan dengan memanfaatkan mesin pencari Google dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencariannya akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, sehingga kita dapat membandingkannya.

Ikut serta dalam Komunitas Anti-hoaks

Ada beberapa komunitas anti-hoaks di media sosial yang dapat kita ikuti, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH) Fanpage & Group Indonesian Hoax Businer, Fanpage Indonesian Hoaxes dan Group Sekoci.

Dari hoaks ini saya mendapat pelajaran yang sangat dalam dan penting, kita tidak boleh terhanyut untuk ikut memberitakannya hoaks.

Satu kesempatan yang baik apabila kita sudah memahami hoaks, lalu kita tinggalkan dan kita mencari berita itu dari sumber resminya dan berita aslinya.

Nama kredibilitas penulis jadi taruhannya apabila kita ikut meneruskan atau membuat berita hoaks di mana sudah ada peraturannya. Terlebih lagi buat penulis perempuan yang terkenal lebih teliti dalam menggali sumber, seharusnya tidak terjebak dengan berita hoaks.

Marilah penulis perempuan sudah waktunya tinggalkan hoaks. Beralih ke konten yang benar-benar sesuai dengan fakta dan bukti jika ingin membuat reportase. Membuat opini pun harus sesuai dengan relevansi dari tema yang ditulis tanpa harus memojokkan suatu orang/golongan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Pentingnya Indonesia Masuk Dewan Kawasan Kutub Utara (Arktik) Sebelummnya

Pentingnya Indonesia Masuk Dewan Kawasan Kutub Utara (Arktik)

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

1 Komentar

  • Afin yulia

    bwetuuul, kalau tidak begitu bahaya. Kita tanpa sadar jadi penyebar hoaks karena tergesa-gesa.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.