Sumbangsih Perempuan, Tulisan, dan Perempuan Penulis dalam Memberantas Hoaks

Sumbangsih Perempuan, Tulisan, dan Perempuan Penulis dalam Memberantas Hoaks

© Pixabay

Waktu makan siang tiba. Beberapa karyawan wanita sebuah bank terkemuka tampak asyik mengobrol di satu meja panjang kedai rumah makan terdekat, sambil mengecek berita terbaru dan pesan masuk di gawainya masing-masing.

WhatsApp, cek. Facebook, cek. Instagram, cek.

Salah satu wanita itu tampak berang dan terkejut dengan berita tentang penculikan anak yang dibacanya di salah satu grup WhatsApp.

“Hei, hei, dengar nih, jahat banget ...,” suaranya gemas mengumumkan, dan seluruh rekannya di meja itu sontak berpaling padanya. Tak lama kemudian bertebaran komentar-komentar bernada mengutuk dan mencela atas tindakan si penculik anak yang tadi dibacakan ceritanya oleh wanita tersebut, berujung dengan kata-kata salah satu pendengar,

“Coba kirim juga beritanya ke Facebook, biar teman-teman yang lain bisa baca dan lebih hati-hati,” lalu diamini semua yang di meja itu.

Di lain tempat, seorang ibu rumah tangga berada dalam kondisi berbeda. Ia beristirahat di sofa sambil memandang sekeliling: menyapu rumah, sudah. Mengelap perabotan, sudah. Mengepel lantai, sudah. Memasak, beres. Mencuci piring, beres. Sebentar lagi berangkat menjemput anak ke sekolah ... enaknya membuka-buka Facebook dan Whatsapp dulu, siapa tahu ada kabar berita yang penting diketahui.

Betul, kan. Heboh telur palsu berikut videonya memenuhi pesan-pesan di grup WhatsApp. Dikarenakan anaknya ada empat orang, ia tergabung dalam empat grup orang tua murid, dan di semua grup itu ada unggahan video mengenai telur palsu yang membuat keningnya berkerut dan hatinya tidak tenang, mengingat telur adalah konsumsi wajib bagi anak-anaknya hampir setiap hari.

Jemarinya dengan terampil segera menekan tombol “share” untuk membagikan video itu ke dua grup WhatsApp lain yang diikutinya, yaitu grup arisan ibu-ibu komplek dan grup keluarga, plus mengunggahnya ke Facebook.

Tak lama kemudian masuklah beberapa pesan balasan, yang intinya mengucapkan terima kasih atas informasi yang telah dibagikan.

Dengan perasaan geram karena dunia begitu kejam dengan adanya telur palsu yang merajalela itu, sang ibu berangkat menjemput anaknya ke sekolah, tapi tak urung ia merasa “berjasa” juga karena dengan jari terampilnya, ia telah membantu dunia tahu mengenai keberadaan telur-telur jahanam.

Kedua ilustrasi di atas berasal dari imajinasi penulis semata, tapi sepertinya tak jauh dari kenyataan sehari-hari kita.

Kita senang sekali dianggap sebagai orang yang “update”, orang yang pertama tahu. Seandainya isi berita yang kita sebarkan benar adanya dan memberi manfaat bagi orang lain, tentu baik sekali. Namun seandainya yang disebarkan itu tidak benar alias hoaks, patutlah disesali.

Pengertian dan sejarah singkat hoaks

Kata hoaks sekarang telah terdaftar di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V daring yang dapat diakses di https://kbbi.kemdikbud.go.id, sehingga masyarakat Indonesia dapat menggunakannya sebagai padanan istilah asing “hoax” yang telah sangat umum digunakan akhir-akhir ini.

Pengertian hoaks menurut KBBI adalah berita bohong. Pengertian ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Wikipedia mengenai hoaks, yakni berita palsu atau informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Kemudian menurut Robert Nares dalam bukunya “A Glossary: Or, Collection of Words, Phrases, Names and Allusions to Customs”, kata hoax berasal dari kata hocus (singkatan dari hocus pocus, mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap), dan baru mulai digunakan pada abad ke-18.

Arti yang dibubuhkannya pada kata hocus adalah “to cheat” atau “menipu”, namun ia merujuk contohnya pada lelucon April Mop dan semacamnya, yang mengandung maksud atau tujuan berkelakar atau bercanda. Jadi, pengertian hoaks semula lebih mengacu pada cerita bohong sebagai hiburan.

Dalam percakapan sehari-hari kita dewasa ini, kata hoaks sudah mengandung arti yang lebih serius daripada sekadar berita bohong sebagai upaya untuk melucu atau menghibur.

Hoaks menjadi kata menyeramkan yang mengandung arti fitnah, yang tujuannya beraneka ragam seperti untuk meningkatkan jumlah pengunjung di situsweb penulis, menjatuhkan pihak lain, menyingkirkan lawan politik, menggiring pasar bergerak sesuai keinginan si pembuat hoaks, menimbulkan sentimen negatif pada pihak tertentu, dll.

Wanita lebih rentan jadi penyebar hoaks. Betul atau hoaks?

Dewasa ini hoaks bertebaran dalam bentuk teks, suara, foto, ataupun video. Bahkan banyak juga gabungan dari dua atau lebih bentuk tersebut. Hoaks lebih suka melanglangbuana di media digital, karena mudahnya di sana ia disebarkan.

Melalui aneka media daring seperti situs-situs berita, surel, Facebook, WhatsApp, Twitter, Instagram, dll, barangkali bisa dikatakan bahwa penyebar hoaks menemukan ‘surga’nya.

Konon, perempuan lebih banyak terpengaruh oleh aneka hoaks, karena perempuan lebih gemar memberi dan menerima gosip. Betulkah ini?

Sebenarnya semua manusia yang kurang mendapat literasi digital, rentan menjadi penerima dan penyebar hoaks. Perempuan lebih mudah terpicu oleh hoaks yang menyangkut anak-anak, keluarga dan kesehatan, karena emosi perempuan memang mudah tergesek ketika diusik oleh soal-soal seputar kehidupannya dan kehidupan orang-orang yang ia sayangi.

Sementara laki-laki lebih terpicu oleh hoaks yang berkaitan dengan politik, agama, dan kesukuan. Namun perempuan memiliki hobi membahas sesuatu ketika mereka bertemu dengan teman, termasuk ketika bertemu di media sosial.

Menurut Dr. Deborah Tannen Ph.D., perempuan berbicara untuk menciptakan keintiman dan kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya. Kemudian laki-laki lebih memilih menyimpan keinginan berbicara yang dianggap bersifat feminim, sehingga laki-laki cenderung menggunakan aktivitas fisik untuk menciptakan kedekatan dan keintiman dengan orang di sekitarnya.

Itulah sebabnya bisa dimaklumi bila perempuan cenderung lebih banyak menyebarkan berita-berita yang telah ia terima kepada teman-teman dan kenalannya.

Perbedaan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan dalam menanggapi berita merupakan bagian dari perbedaan alami karena memang secara emosional laki-laki dan perempuan berbeda.

Selain itu ada hal-hal lain yang menyebabkan hoaks mudah menyebar, yakni kecenderungan orang untuk merasa bangga karena paling awal menyebarkan berita heboh, kesukaan orang akan sensasi, mudahnya mempercayai informasi tanpa mengeceknya lagi di sumber-sumber yang kredibel.

Hoaks tidak akan bertebaran selama laki-laki dan perempuan selalu berusaha meningkatkan kecerdasan literasi digitalnya, dan bukannya hanya menerima dan percaya pada aneka berita yang berseliweran, yang biasanya disajikan dengan judul-judul kontroversial yang menarik.

Di sinilah perempuan dapat berperan aktif dan proaktif, karena pendidikan dimulai dari rumah, di mana peran perempuan (terutama sebagai ibu) memegang bagian besar di dalamnya.

Segala sesuatu dimulai dari rumah: kesempatan emas perempuan berperan positif, aktif, dan proaktif

Banyak hal yang dimulai dari rumah, terutama pendidikan. Dalam sebuah kehidupan rumah tangga, peran seorang perempuan sebagai ibu, bersama dengan ayah, merupakan pendidik pertama.

Di sinilah terkandung kesempatan emas seorang ibu untuk menanamkan kepribadian yang berempati, bertaqwa, berintegritas, berkarakter dan berbudi luhur kepada anak-anak, sekaligus mengajarkan mereka cara berpikir secara kritis dan logis.

Cara berpikir kritis dan logis dapat diajarkan antara lain dengan menunjukkan hubungan sebab akibat dalam proses-proses yang sederhana, dengan berdiskusi santai tentang sesuatu hal sambil berkumpul dan makan bersama di ruang makan, dengan bersabar menjawab pertanyaan anak yang sering diulang-ulang dan tetap berusaha menjawabnya sesuai ilmu pengetahuan meski dengan bahasa disederhanakan, dan terutama tentunya dengan mendorong anak-anak (bahkan suami juga) untuk banyak membaca.

Membaca akan membuka jendela wawasan selebar-lebarnya, sehingga dengan mendorong anak-anak (dan suami) gemar dan banyak membaca, maka diharapkan selain cara berpikir mereka semakin kritis dan logis, juga terbuka dan bijaksana.

Dalam memerangi maraknya berita hoaks, kita perlu banyak membaca berita dan bacaan-bacaan yang benar, yang lurus, yang positif, yang menginspirasi, yang memberi tambahan ilmu dan pengetahuan, yang menguraikan sejarah yang benar, dan yang mengasah kepekaan moral kita.

Seorang perempuan dalam rumah tangga dapat memulai itu semua dari dirinya sendiri, dengan memberi teladan banyak membaca bacaan-bacaan baik dan berkualitas. Selanjutnya ia dapat merekomendasikan buku-buku tersebut kepada anggota keluarga.

Demikian pula dalam berinternet, seorang ibu dapat menjadi teladan menanggapi hoaks yang bertebaran, dengan cara mencari berita senada di situs-situs daring yang kredibel, sehingga penerimaan berita tidak berasal hanya dari satu sumber.

Cara ini selain diterapkan oleh sang ibu sendiri, juga harus disosialisasikan kepada seluruh anggota keluarga, sehingga akhirnya sekeluarga terbiasa menyikapi aneka berita (terlebih yang provokatif) dengan cara membandingkannya dengan berita senada dari sumber-sumber lain yang terpercaya.

Poin-poin apa saja yang harus diketahui oleh anggota keluarga, teman atau kerabat, dalam memeriksa suatu berita apakah benar atau hoaks, juga dapat disampaikan oleh perempuan yang berdasarkan sifat alamiahnya tadi senang berbicara untuk menciptakan kedekatan dan keintiman dengan orang-orang di sekitarnya.

Dalam kebersamaannya bersama teman-teman atau keluarga, perempuan dapat menyampaikan apa yang telah dibacanya dari sumber-sumber terpercaya, termasuk mengenai apa saja ciri-ciri hoaks, apa dampak psikologis bagi orang yang menjadi korban hoaks, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang perempuan, sikap bawaannya yang lembut dan tenang juga merupakan teladan lain yang dapat ditularkan kepada anggota keluarga maupun teman-teman, kerabat dan masyarakat.

Dalam hal hoaks yang merajalela, perempuan-perempuan dapat memperlihatkan cara bersikap yang sabar, santun dan tidak tersulut emosi. Jadi sekalipun isi berita sangat menghasut, perempuan dapat memperlihatkan sikap tenang dan tidak terburu-buru mengambil tindakan.

Perempuan dapat memilih untuk tidak cepat-cepat menyebarkan berita sebelum diketahui kebenarannya bila hoaks itu tersebar di media daring, dan bila hoaks disebarkan di suatu forum lisan, perempuan dapat memilih untuk berkomentar dengan kata-kata yang menyejukkan.

Apabila perempuan itu sekaligus seorang penulis, potensinya dalam berperan memerangi hoaks sesungguhnya semakin mantap. Melalui tulisan-tulisannya, seorang wanita dapat membawa kesadaran kepada pembaca akan berbagai dampak negatif yang muncul dari sebuah teks, foto, atau video hoaks.

Tulisan-tulisan seorang perempuan penulis dapat menyajikan opini, data dan analisis dari berbagai sumber, yang tidak sepihak, untuk membuka lebih lebar cara pandang pembaca.

Perempuan-perempuan penulis dapat memerangi hoaks dengan menularkan semangat-semangat positif dan pesan-pesan moral yang dibungkus menarik di dalam tulisan-tulisannya

Itu semua karena, jauh di dalam dirinya, semua perempuan sudah memiliki naluri keibuan untuk memelihara dan merawat generasi melalui apapun pekerjaan yang dikerjakannya, termasuk melalui tulisan.

Hoaks bagaikan racun yang menyebar pelan-pelan, kalau ringan kualitas dan kuantitasnya, mungkin menyakiti tapi tidak mematikan. Semakin banyak yang mempercayai hoaks tersebut, semakin buruk dampak racun hoaks yang tersebar.

Tulisan-tulisan yang baik, yang benar, yang positif, yang menginspirasi, yang memperkaya wawasan, yang meningkatkan minat solidaritas dan toleransi pembaca, yang mengangkat isu-isu perbedaan sebagai potensi-potensi pemerkaya budaya, yang mengapresiasi prestasi-prestasi untuk meningkatkan motivasi, dan sebagainya, adalah penawar dan obat di tengah-tengah aneka berita tidak benar yang berseliweran.

Perempuan penulis dapat melawan berita-berita bernada kebencian dengan berita-berita yang menyuarakan kasih dan kabar baik. Karena sifat keibuan yang ada di dalam diri setiap wanita, kekuatan menyuarakan kasih dan kabar baik dapat sungguh berasal dari dirinya sendiri, yang akan muncul dalam hasil karya-karyanya.

Harapan kita, jangan sampai kualitas maupun kuantitas tulisan yang bernada kebencian dan aneka berita hoaks lebih tinggi daripada kualitas dan kuantitas tulisan yang menyuarakan kebenaran serta memupuk inspirasi.

Perempuan penulis melalui aneka pemikiran yang terurai dalam tulisannya dapat menunjukkan bahwa perempuan pun bisa bergiat dan bertumbuh dalam pemberdayaan literasi, sehingga membuka mata perempuan-perempuan lain dan masyarakat pada umumnya, bahwa wanita bukan manusia lemah yang mudah dibodohi oleh berita-berita hoaks.

Perempuan penulis melalui karya-karya tulisnya, dapat menjadi magnet yang menarik perempuan lainnya untuk lebih berdaya guna mengembangkan talenta serta kegemaran mereka untuk juga menghasilkan karya-karya yang berguna, baik dalam bentuk tulisan maupun bukan tulisan.

Perempuan penulis dapat menjadi penyaji logika-logika yang mengupas kebohongan hoaks, pendorong pembaca untuk semakin semangat menulis dan membaca, sehingga budaya literasi berkembang lebih luas dalam masyarakat.

Dengan semakin tingginya kualitas literasi dalam masyarakat, hoaks dengan sendirinya akan melemah, tersingkir, terkalahkan.

Penutup

Hoaks -baik sekadar teks, atau gabungan foto/video dengan teks/suara– berkaitan erat dengan kata-kata. Perempuan penulis maupun perempuan pada umumnya, dapat melawan hoaks dengan kata-kata juga.

Perempuan memiliki kecenderungan untuk mengobrol, bercerita, berbagi kisah dengan orang-orang di sekitarnya. Kecenderungan itu dapat dituangkan dalam bentuk tulisan, yang didukung sumber-sumber terpercaya, agar memiliki sisi edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perempuan juga memiliki sifat keibuan di dalam dirinya. Perpaduan kedua sifat alami wanita tersebut dapat menjadi kekuatan dalam menumbuhkan budaya literasi, yang selanjutnya bergerak ke arah perlawanan terhadap hoaks.

Tak jarang perempuan dianggap lebih lemah daripada kaum pria, termasuk dalam bidang literasi. Kemunculan perempuan-perempuan penulis akan mendongkrak minat baca masyarakat sekaligus mengubah pandangan umum bahwa perempuan merupakan target empuk penyebaran hoaks.

Lebih penting, kemunculan karya-karya tulis dari para perempuan penulis akan meningkatkan rasa percaya diri pada perempuan pada umumnya, bahwa kemampuan literasi perempuan tidaklah lebih lemah daripada kaum pria, dan bersama-sama kita dapat memerangi hoaks yang juga merupakan musuh bersama.

Sumber: rubrikbahasa | Liputan6 | piah.com | Kompasiana | Kompas tekno

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Inovasi Pertanian Indonesia Melalui Big-Data Agriculture Sebelummnya

Inovasi Pertanian Indonesia Melalui Big-Data Agriculture

Bumilangit Phase 1 : Dari Gundala, Sampai Mandala Selanjutnya

Bumilangit Phase 1 : Dari Gundala, Sampai Mandala

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.