Berikut Rincian Pembangunan Sistem Drainase Jalan Surabaya Barat

Berikut Rincian Pembangunan Sistem Drainase Jalan Surabaya Barat
info gambar utama

Usaha Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mengurai kemacetan di Kota Surabaya nampaknya tak main-main. Hal tersebut dibuktikan dengan kembali digenjotnya pengerjaan jalan Surabaya Barat yang membentang dari Girilaya sampai Benowo.

Pengerjaan jalan ini didukung dengan percepatan pembangunan box culvert saluran diversi Gunungsari yang bertujuan mengonversi saluran irigasi menjadi saluran drainase.

Dengan dilakukannya elevasi penurunan pada dasar saluran eksisting kurang lebih 2,5 meter guna menambah tampungan air pada saluran, sehingga meningkatkan kapasitas jalan.

Meski sempat tersendat beberapa waktu lalu, pembangunan box culvert di Manukan kembali dipastikan selesai bulan November. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), Eri Cahyadi, kepada wartawan.

"Meski proyek pengerjaan Girilaya-Benowo ditargetkan selesai tahun 2020, tapi tadi kembali saya tekankan kepada teman-teman pelaksana proyek bahwa seluruh box culvert harus sudah terpasang sebelum musim hujan tiba. Kira-kira sampai bulan November. Kami akan berkoordinasi dengan BMKG terkait antisipasi cuaca ini," ujarnya saat sidak box culvert di Manukan, Rabu (12/6) siang.

Eri Cahyadi menambahkan, proyek box culvert di jalur ini sesungguhnya merupakan proyek panjang yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Sebab, proyek box culvert ini membentang dari Girilaya hingga mencapai Benowo.

Proyek box culvert memiliki rincian tahapan pembangunan di Girilaya-Banyu Urip sepanjang 852 meter dibangun tahun 2009 dengan nilai anggaran Rp 35.710.719.158, Banyu Urip Lor 2-Simo Pomahan sepanjang 1.520 meter dibangun tahun 2010 dengan anggaran sebesar Rp 67.427.026.158.

Kemudian untuk Simo Pomahan-Simo Jawar sepanjang 650 meter dibangun tahun 2011 dengan besaran anggaran Rp 19.975.551.986. Ketiga tahapan pembangunan ini dibiayai APBD.

"Kemudian, dari Simo Jawar hingga Margomulyo sepanjang 2.988 meter yang dibangun pada tahun 2012-2014 menggunakan dana APBN. Selanjutnya, dari Margomulyo-Kali Balong sepanjang 500 meter yang dibangun pada tahun 2015, juga menggunakan dana APBN. Sisanya sampai sekarang menggunakan APBD," ujar Eri.

Pengerjaan box culvert segmen Babat Jerawat sepanjang 600 meter dibangun tahun 2016 dengan APBD menelan anggaran sebesar Rp 41.878.669.000. Kemudian dari Kandangan –Babat Jerawat sepanjang 2.400 meter dibangun pada 2017-2018 dengan APBD sebesar Rp 167.727.564.979.

Lalu yang saat ini masih dikerjakan hingga target selesai pada tahun 2020 di sisi Manukan-Banjar Sugihan sepanjang 1.000 meter juga menggunakan APBD. Termasuk pula dari Banjar Sugihan-Sememi sepanjang 1.300 meter juga memakai APBD.

"Jadi, total yang digarap tahun 2019-2020 dari Manukan-Sememi sepanjang 2.300 meter. Proyek ini menelan anggaran sebesar Rp 139 miliar lebih," ujarnya.

Pada tahun 2020 nanti, Pemkot Surabaya masih akan melanjutkan proyek box culvert ini di segmen Babat Jerawat-Benowo sepanjang 2.100 meter. Meskipun pada segmen ini belum ada rincian anggaran secara jelas.

"Total secara keseluruhan proyek box culvert dari Girilaya-Benowo sepanjang 13.910 meter dengan total anggaran Rp 762 miliar. Dana itu berasal dari APBD sebesar Rp 472 miliar lebih dan dari APBN sebesar Rp 290 miliar lebih," tegas Eri Cahyadi.

Ia juga mewanti-wanti perihal dampak dari proyek pembangunan ini, seperti macet dan lain sebagainya. Ia berharap masyarakat ikut berpartisipasi mendukung pembangunan Surabaya dan memohon untuk bersabar perihal pembangunan proyek yang kemungkinan mengganggu kenyamanan aktivitas masyarakat.

"Saya berharap kepada masyarakat, ayo saling support antara pemerintah dan masyarakat, sehingga bisa bersinergi dan pembangunannya bisa lebih cepat," ujarnya.

Eri juga menambahkan, untuk mempercepat pengerjaan ini, pihaknya akan menerjunkan tim khusus guna memantau proyek dua minggu sekali. Setelah sisi Manukan-Sememi tuntas maka akan dilanjutkan lelang lagi untuk sisi Babat Jerawat sampai Benowo.

"Untuk percepatan. Kami akan turun ke proyek minggu sekali, agar tidak keluar schedule," katanya.

Pembangunan ini diharapkan tidak hanya mengurai kemacetan di titik-titik rawan macet di Surabaya, namun juga mengatasi permasalah banjir di Kota Surabaya.


Catatan kaki: Bappeko | DNK.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MN
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini