Aku, Bu Ani, Perempuan Penulis, dan Hoaks

Aku, Bu Ani, Perempuan Penulis, dan Hoaks

Β© Dok. Penulis

Hari itu, 1 Juni 2019, saat sedang mencari info atas sesuatu sebagai bahan pelengkap tulisan yang sedang saya kerjakan, muncul notifikasi pesan grup WhatsApp. Jam menunjukkan pukul 10.21 WIB.

Dengan melihat potongan pesan sekilas pada notifikasi yang muncul, biasanya mampu membuat saya mengambil keputusan cepat: apakah pesan itu penting yang harus segera dibaca dan direspon, atau pesan biasa yang bisa saya baca nanti setelah sudah cukup luang, sehingga saya bisa lebih fokus menyelesaikan tulisan saya dulu.

Potongan pesan WhatsApp tersebut cukup membuat saya terkejut, dengan mengabarkan bahwa istri mantan presiden negeri ini telah wafat dini hari tadi jam 03.33 WIB di Singapura!

Iya benar, pesan whatsapp itu menginfokan wafatnya ibu Ani Yudhoyono!

Hmm... padahal masih baru juga saya membaca sekilas judul artikel berita di situsweb daring bahwa beliau sedang dalam perawatan intensif di ruang ICU. Kok diberitakan di grup WhatsApp sudah meninggal dini hari tadi? Mana yang benar nih?

Segera saja pesan itu saya buka agar mendapatkan keseluruhan pesan, untuk kemudian coba mencari kebenarannya dengan menelusurinya di mesin pencari, juga sosial media, mengingat sosial media lebih update dibandingkan berita daring. Berikut isi pesan yang masuk di grup WhatsApp:

"Assalamualaikum wr wb.

Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji'un, telah berpulang kehadirat Allah SWT, Ibu Ani Yudhoyono, pada hari Sabtu, 1 Juni 2019 pukul 03.33 WIB di RS Singapura, semoga almarhumah Husnul khotimah diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya dan di tempatkan di sisi Allah SWT ditempat yang mulia serta keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran Aamiin YRA
πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ"

Setelah cek sana-sini... benar saja kekhawatiran saya. Berita itu hoaks, berita bohong, berita tidak benar. Yang benar adalah: saat itu ibu Ani masih hidup dan sedang dalam perawatan intensif di ruang ICU di rumah sakit Singapura. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa situsweb berita nasional terkenal.

Rupanya, setelah cek penelusuran di Google, berita hoaks tentang wafatnya Bu Ani bukan pertama kalinya! Ada berita serupa yang sudah pernah beredar sebelumnya. Astaghfirullah...

Entah apa tujuan dari si pembuat hoaks tersebut, namun yang namanya hoaks bisa dipastikan akan membuat kerugian, minimal merugikan diri sendiri karena mempercayai hal yang tidak benar. Menyesatkan.

Agar pesan WhatsApp di grup tadi tidak diteruskan oleh teman-teman yang lain, maka saya balas pesan tersebut dengan menginformasikan apa yang saya dapatkan dari hasil cek-ricek tadi. Jam menunjukkan pukul 10.31 WIB.

Saya pun kembali tenggelam dengan pekerjaan...

Jam menunjukkan pukul 11.12 WIB saat notifikasi grup WhatsApp kembali menyita perhatian saya. Kali ini dari grup yang berbeda.

"Breaking news, Bu Ani meninggal, live di www.kompas.tv/live"

Pesan singkat, namun kalimatnya membuat saya langsung klik notifikasi pesan tadi dan melakukan cek ke situsweb resmi siaran langsung Kompas TV.

Innalillahi wa innailaihi roji'un, iya benar, telah dikonfirmasi bahwa Bu Ani Yudhoyono benar telah meninggal dunia. Namun tentu saja bukan jam 03.33 WIB dini hari tadi seperti info hoaks yang saya terima sebelumnya, namun jam 11.10 WIB atau jam 11.50 waktu Singapura!

Saya cek juga beberapa stasiun tv lainnya, ternyata mereka menayangkan hal yang sama.

Sedih ya... bagaimana mungkin orang masih hidup diberitakan meninggal? Astaghfirullah.

Ini hanya salah satu hoaks. Hoaks lainnya ada banyak berkeliaran di sekitar kita. Tinggal kitanya, mau mendukung/menjadi bagian dari hoaks atau tidak.

Sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara, tentu kita semua ingin kebaikan untuk negeri ini, ingin membangun negeri ini, dan itu semua diawali dengan niat yang benar dan cara yang benar.

Kita bisa memberi sumbangsih sesuai profesi dan keunggulan kita masing-masing, berjuang di ranah perjuangannya masing-masing. Untuk tujuan yang sama, kesejahteraan bangsa Indonesia yang adil dan beradab.

Sebagai seorang perempuan penulis, kita bisa mengambil bagian dalam meng-counter berita-berita yang tidak benar/hoaks. Perempuan memiliki kemampuan berbicara lebih banyak kata dibandingkan laki-laki. Selain itu jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Tentu ini salah satu nilai lebih kita, para perempuan dalam upaya membendung hoaks-hoaks yang ada. Pun juga komunitas penulis perempuan makin bermunculan.

Beberapa ciri berita hoaks berdasarkan pengalaman pribadi, juga pengamatan :

Judul berita provokatif
Salah satu kecenderungan kita adalah menilai tulisan/berita dari judulnya. Dengan memberikan judul yang provokatif, membuat pembacanya tertarik membaca berita tersebut, kemudian menyebarkannya.

Bahkan ada yang hanya membaca judulnya saja tanpa membaca beritanya, karena terprovokasi, langsung menyebarkan berita tersebut.

Sumber berita tidak jelas
Berita dituliskan tanpa menyebutkan sumber yang jelas. Biasanya hanya berdasarkan pada "katanya... katanya... katanya...". Entah perkataan siapa yang ada pada ujung awal sumber berita.

Mengakibatkan kecemasan, kebencian, fanatisme dan permusuhan
Isi berita bisa membuat kecemasan/keresahan, memunculkan kebencian, atau juga fanatisme berlebihan akan sesuatu/kelompok, serta dapat menimbulkan permusuhan, perpecahan.

Kita menulis, menebarkan ide-ide dan pemikiran yang bermanfaat bagi diri sendiri, juga pembaca. Jangan sampai kita turut menebarkan hoaks-hoaks tersebut. Saring berita yang kita dapat adalah mutlak, harus.

Bagaimana caranya saring/cek berita?

Manfaatkan internet

Internet membuat dunia di berbagai belahan manapun dengan mudahnya terkoneksi dalam waktu yang sangat cepat. Dunia bisa dibilang hampir tak berbatas. Informasi yang kita dapat di sini, bisa dengan cepat disebarkan di belahan lain.

Untuk itu, saat menerima berita, perlu kita lakukan riset kecil berupa cek kebenarannya di internet, baik itu di mesin pencari maupun sosial media. Tidak hanya berita berupa text yang bisa kita cek, namun juga gambar.

Manfaatkan koneksi

Untuk berita-berita tertentu, misalnya berita tentang penggunaan dana haji untuk infrastruktur. Kita bisa memanfaatkan kenalan atau koneksi yang kita miliki untuk bertanya tentang hal tersebut. Bertanya kepada pihak yang lebih paham/menguasai, dengan kata lain elakukan klarifikasi.

Manfaatkan koleksi

Koleksi? Iya, koleksi apa saja yang kita punya/miliki yang bisa membantu untuk mencari kebenaran dari berita yang kita terima. Misalnya: kita menerima berita hoaks tentang ayat Alquran yang diplesetkan, membuat keresahan umat.

Kita bisa cek langsung dengan Alquran yang kita punya di rumah, cek juga asbabun nuzul-nya (sebab-sebab turunnya ayat), riwayat di hadis-hadis terkait peristiwa turunnya ayat tersebut, dll, sehingga memudahkan kita memahaminya dengan benar.

Akhirnya... benar kata pepatah, membacalah lebih banyak sebelum menulis.

Membaca apa saja, termasuk membaca hasil cek atas berita hoaks, agar kita tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks tersebut. Setuju?

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Ada Maskapai Apa Saja di LCCT 2F? Sebelummnya

Ada Maskapai Apa Saja di LCCT 2F?

Liburan ke Banten Selatan yuk.. Selanjutnya

Liburan ke Banten Selatan yuk..

2 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Kalau mendapatkan pesan berantai/berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebaiknya cukup sampai di kita, tak perlu disebarkan

    • Zakiatul Hidayati

      Setuju, plus jika kita tau bahwa itu berita hoax, minimal kita info ke yg menyampaikan berita hoax itu ke kita, bahwa itu adalah hoax. Selain agar berhenti di kita, plus berhenti di pengirimnya juga. Dengan koreksi berantai ini, semoga jadi upaya utk meluruskan berita hoax/menyesatkan tsb

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.