Perempuan Penulis Gempur Hoaks dengan Melek Literasi

Perempuan Penulis Gempur Hoaks dengan Melek Literasi

Media sosial bagi dua sisi mata uang yang memberi manfaat dan juga kerugian © Rawpixel.com/ Pexel.com

"Jangan sampai pesan ini berhenti pada anda! Sebar luaskan agar keluarga dan kerabat anda mengetahuinya!"

Pesan singkat semacam itu tentu sudah cukup familiar bagi kita. Pesan yang biasa disebarluaskan melalui aplikasi WhatsApp ini hampir setiap hari mendarat di ponsel pintar kita melalui grup-grup di aplikasi tersebut.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat bercerita di laman blog saya tentang kehebohan di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti. Ketika salah seorang tetangga saya dituduh telah mengambil barang milik tetangganya.

Singkat cerita, setelah diproses di kepolisian ternyata tetangga saya tersebut tidak bersalah. Celakanya adalah sebelum tetangga saya dinyatakan tidak bersalah oleh polisi, ia sudah terlanjur jadi bulan-bulanan warga.

Entah siapa yang memulai, tetapi yang jelas, semua bermula dari sebuah pesan singkat di WhatsApp. Betapa mengerikan efek hoaks.

Di sebuah daerah di Pontianak, hoaks bahkan merenggut korban jiwa. Seorang lelaki paruh baya yang mengalami kelainan jiwa harus meregang nyawa karena berita bohong tentang orang gila yang menculik anak.

Amat miris, di tengah kemudahan mendapatkan informasi, orang yang seharusnya mampu mencari klarifikasi justru dengan mudahnya menelan berita tanpa konfirmasi. Hoaks memang menjadi masalah yang serius, itu mengapa perlu pula keseriusan dalam menanggulanginya.

Siapa yang bertanggung jawab? Tentu saja semua pihak. Pemerintah sebagai pemegang otoritas dan pembuat regulasi telah berupaya untuk menyaring informasi yang tidak benar di masyarakat misalnya melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Namun, apa itu cukup?

Derasnya arus informasi yang sulit dibendung tentu tidak cukup disaring oleh pihak pemerintah. Masyarakat sebagai pengguna juga memiliki kewajiban untuk menangkal peredaran hoaks agar tidak meluas dan menimbulkan keresahan. Mulai dari diri sendiri dengan "saring" sebelum "sharing".

Perempuan penulis sebagai agen penangkal hoaks

Salah satu alasan mudah merebaknya hoaks di masyarakat adalah karena kebiasaan mengecek kebenaran yang lemah. Kecepatan jari jemari meneruskan pesan nyatanya lebih cepat dari kecepatan otak memproses informasi.

Padahal seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi, apabila kita sebagai penerima informasi membaca lebih detil dan mencari informasi pembanding sebelum menyebarluaskan pesan singkat.

Kebiasaan membaca yang tidak terpupuk bisa jadi menjadi faktor pemicu hal ini. Malas membaca menyebabkan masyarakat kita menempati posisi kedua paling bontot pada riset Central Connecticut State University.

Riset tersebut memang telah dirilis pada tahun 2016, namun melihat masih maraknya berita bohong yang beredar, kemungkinan riset tersebut masih relevan saat ini.

Kebiasaan membaca memang tidak serta merta muncul begitu saja. Kebiasaan membaca tumbuh dari gaya hidup dan kecintaan akan dunia literasi yang ditanamkan sejak kanak-kanak.

"Anak-anak gemar membaca bukan karena keturunan, tetapi karena melihat kebiasaan yang dilakukan orang tuanya," ujar Ataliya Praratya Kamil, istri Gubernur Jawa Barat pada Festival Literasi 2019 beberapa waktu lalu dikutip dari Kompas.

Itulah mengapa peran perempuan penulis yang melek literasi amat dibutuhkan untuk menggempur hoaks. Sebagai ibu dan calon ibu, perempuan penulis memiliki peran sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan yang baik tentu harus diikuti dengan model yang baik.

Saat ibu memberikan contoh dengan kebiasaannya membaca dan cerdas mengolah informasi, anak pun akan tergerak melakukan hal yang sama. Anak dibiasakan dan diberi contoh untuk dekat dengan kebiasaan membaca.

Apabila hal ini dilakukan secara masif dan terus menerus pada tingkat masyarakat terkecil, yaitu keluarga, tentunya akan tercipta masyarakat Indonesia yang lebih melek literasi.

Perempuan penulis juga menjadi agen penting untuk menyampaikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat. Dengan produktif membuat konten positif untuk dibaca masyarakat baik melalui media cetak maupun daring.

Dengan membuat konten positif, perempuan penulis juga turut berperan menebar kebaikan. Melalui tulisannya, perempuan penulis juga dapat mengampanyekan pentingnya mengolah informasi secara cerdas dan bijak dalam menyebarluaskan berita.

Maka, keberadaan perempuan penulis amat dibutuhkan baik dari sisi penyedia informasi maupun penerima informasi.

Sebagai seorang ibu yang juga aktif menulis, saya pun merasa punya tanggung jawab untuk berperan aktif dalam menangkal peredaran hoaks.

Bagaimana dengan anda, siapkah mengambil peran untuk menggempur hoaks?

Catatan kaki: Kompas | Okezone

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Saatnya Perempuan Berkata Tidak Bagi Hoaks Sebelummnya

Saatnya Perempuan Berkata Tidak Bagi Hoaks

Yogyakarta Gamelan Festival 2019 "New Gamelan" Siap Digelar Selanjutnya

Yogyakarta Gamelan Festival 2019 "New Gamelan" Siap Digelar

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Kalau mendapatkan pesan berantai/berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sebaiknya cukup sampai di kita, tak perlu disebarkan

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.