Perempuan di Pusaran Teknologi, Media Sosial, dan Hoaks

Perempuan di Pusaran Teknologi, Media Sosial, dan Hoaks

© unplash.com

Perkembangan teknologi saat ini, sudah bisa dikatakan berkembang dengan sangat pesatnya. Membuat manusia dapat melakukan aktivitas apapun dengan mudah.

Mengakses informasi, mengikuti perkembangan berita terkini, bahkan kurikulum sekolah pun sudah mulai melibatkan teknologi, dalam aktivitas belajar mengajarnya.

Berbicara tentang pesatnya perkembangan teknologi, tak lepas dari kaum perempuan, yang pada faktanya lebih sering berinteraksi, atau beraktivitas menggunakan gawai.

Sebagai contoh wanita karier, yang diharuskan selalu mengetahui berita terkini, atau berbagi informasi lewat media sosial. Bahkan ibu rumah tangga yang menjalankan bisnis, juga menggunakan gadget dan teknologi sebagai sarananya.

Itulah sebabnya, mengapa ada kalanya seorang perempuan, sangat mudah menghabiskan banyak dana hanya untuk berburu gadget inovasi terbaru.

Lebih mengagetkan lagi, seorang wanita cenderung lebih memahami aplikasi, atau fitur-fitur dalam gadget dan cara mengoperasikannya. Sampai-sampai banyak sekali ditemukan curhatan, atau unggahan gambar diri para perempuan di media sosial.

Berinteraksi atau bersilaturahmi dengan teman dan sahabat pun, saat ini lebih sering dilakukan melalui gadget. Bayangkan saja betapa banyak aplikasi media sosial, yang dibuat untuk tujuan berinteraksi, dengan sesama manusia tersebut.

Namun seiring berkembangnya teknologi, ternyata kita juga harus menerima kenyataan, bahwa ada pula pengaruh negatif di baliknya. Seperti kurangnya kepekaan dalam bersosialisasi dengan sesama, minimnya pengendalian emosi, juga semakin banyaknya penyebaran informasi yang tidak bisa dipercaya atau hoaks.

Terkait dengan hoaks, akhir-akhir ini memang menjadi satu permasalahan yang ramai diperbincangkan. Hoaks secara sederhana, adalah satu berita atau informasi yang salah, namun dipaksakan seolah menjadi benar adanya. Betapa saat ini, seseorang mudah sekali berbagi informasi yang tak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Membuat kegaduhan, keresahan, serta saling cemooh demi kepuasan menyakiti hati orang lain.

Untuk itu, perempuan sebagai bagian dari masyarakat, yang sering memanfaatkan gawai dalam aktivitasnya, wajib mengetahui dampak dari hoaks, dan bagaimana cara efektif meminimalisirnya.

Dampak hoaks:

Sulit mempercayai orang lain

Ketika seseorang mendapatkan informasi, dan ternyata tidak benar, maka ia akan sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain, sehingga ia akan benar-benar kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam sebuah pekerjaan. Akibatnya ia pun semakin sulit untuk memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Tidak dipercaya orang lain

Ketika kita sendiri yang membagikan sebuah informasi, dan ternyata tidak benar, maka orang lain akan sulit mempercayai kita. Kita akan dianggap sebagai pembohong dan penipu, sehingga apa yang diucapkan suatu saat, meskipun benar adanya, orang lain akan sulit mempercayai kita kembali.

Menimbulkan keresahan

Memberikan informasi yang tidak benar pasti akan menimbulkan keresahan. Terlebih jika informasi tersebut tidak diketahui sumber asalnya, sehingga kita sulit memastikan kebenarannya.

Sebagai contoh, ketika salah berbagi informasi kesehatan. Alhasil kita akan bingung, akankah melakukan petunjuk dalam informasi tersebut ataukah tidak. Bahkan bukan tidak mungkin, jika suatu saat informasi kesehatan yang salah tersebut, akan menimbulkan dampak negatif.

Perselisihan

Berbagi informasi yang tidak benar, juga berakibat perselisihan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi mudah bertengkar, saling menghujat, dan merasa paling benar dalam mengutarakan pendapat.

Terkadang perselisihan tersebut akan terbawa terus, hingga masing-masing pihak merasa puas memberikan perlawanan terhadap orang lain. Akibatnya bersosialisasi menjadi kurang nyaman, hanya akibat salah berbagi informasi.

Pencemaran nama baik

Tersebarnya sebuah informasi, namun ketika menjadi sebuah berita bohong, maka otomatis akan merugikan salah satu pihak yang diberitakan. Sebagai contoh, ketika membagikan berita tentang makanan yang merugikan kesehatan, dan ternyata tidak benar, maka hal ini akan membawa dampak kerugian dari si produsen. Yaitu pencemaran nama baik, yang pasti akan memerlukan waktu untuk memulihkannya kembali.

Setelah memahami dampak yang begitu serius dari sebuah berita bohong, lalu bagaimana cara agar bisa meminimalisir terpapar hoaks?

Waspada

Ketika mendapat sebuah berita, cermati seluruhnya mulai dari judul berita hingga akhir. Terkadang sebuah berita memiliki judul yang tidak berkaitan dengan isinya.

Ada kalanya mengambil tulisan dari sumber lain, diubah sedemikian rupa, sehingga terlihat seolah benar adanya lalu disebarkan. Jadi bijaklah dan waspada ketika menerima sebuah informasi.

Teliti kebenarannya

Teliti terlebih dahulu kebenaran sebuah berita. Artinya saling cek dan ricek fakta berita tersebut kepada pihak terkait. Demi menghindari kecurigaan, salah paham, dan perselisihan yang bisa timbul hanya karena sebuah berita.

Telusuri sumber informasinya

Selain itu teliti juga sumber informasinya. Misalnya apakah dari lembaga negara yang berwenang. Atau dari institusi pers yang sudah diakui. Cermati pula apakah berita tersebut, membawa kesan obyektif atau subyektif di kalangan masyarakat, sehingga menjamin keseimbangan penyebaran informasi dan berita.

Jangan libatkan perasaan

Bagi perempuan yang lebih mengedepankan emosi dibanding logika, ketika membaca sebuah berita, jangan mudah langsung terprovokasi dengan pemberitaan tersebut.

Carilah referensi sebanyak-banyaknya dan bandingkan kebenarannya. Pada saat membaca sebuah informasi yang belum tentu kebenarannya, dan langsung terprovokasi, alhasil akan mudah menyulut kemarahan, caci maki dan perselisihan.

Cerdas membagikan berita

Bagikanlah sebuah informasi, jika memang sudah terbukti keakuratannya. Hindari mengedepankan ego dan emosi, demi menyerang pihak-pihak tertentu, dengan cara membagikan berita bohong.

Cerdaslah dan bijaklah menanggapi sebuah berita. Bagikan sebuah berita jika memang benar-benar membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.

Perempuan sebagai bagian dari masyarakat, yang lebih banyak berinteraksi di media sosial, sudah seharusnya untuk selalu bijak dan mawas diri, dalam menyikapi perkembangan teknologi.

Menggunakan teknologi sesuai manfaatnya, berkomunikasi dan berinteraksi sewajarnya, dan cerdaslah berbagi informasi. Niscaya tak akan ada yang salah dan dirugikan dari perkembangan teknologi. Bahkan sangat membawa kebaikan bagi kelangsungan hidup manusia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

UINSU dan Tanoto Foundation Tingkatkan Kemampuan Mengajar Ratusan Guru Madrasah Swasta Sebelummnya

UINSU dan Tanoto Foundation Tingkatkan Kemampuan Mengajar Ratusan Guru Madrasah Swasta

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.