Perempuan Penulis, Sikapi Hoaks dengan Tabayyun dan Data Valid

Perempuan Penulis, Sikapi Hoaks dengan Tabayyun dan Data Valid

© Pixabay

Pada era milenial dan Gen Z ini, perkembangan teknologi tidak dapat dibendung. Setiap hari, setiap waktu, selalu ada perubahan yang berarti dalam perangkat lunak maupun perangkat keras.

Hampir semua aktivitas manusia, mulai dari keperluan pribadi, kegiatan rumah tangga, operasional, berbagai transaksi, wawancara dengan pemilik perusahaan dari luar negeri, hingga administrasi pun menggunakan teknologi.

Iya, aku suka kagum sendiri melihat pesatnya teknologi yang diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sekarang saja, saat belanja sayuran di mamang sayur keliling, menggunakan sistem delivery dan COD (Cash On Delivery).

Bayarnya? Eiits, mamang sayur ikut perkembangan teknologi, dong. Dengan gawai pintarnya, kita bertransaksi menggunakan sistem transfer. Wuidih cakep, kan.

Dengan teknologi, hoaks merajalela

Dengan teknologi pula, derasnya berbagai informasi baik dalam maupun dari luar negeri, sulit dibendung. Informasi yang datang silih berganti dengan cepat mudah menyebar.

Tidak dipungkiri, berita yang kerap datang ini belum bisa dipegang kebenarannya. Berita benar menjadi rancu, sedangkan kebohongan, sesuatu yang tidak pernah terjadi dikemas seolah menjadi kebenaran nyata. Berita bohong ini dinamakan hoaks (hoax) atau fake news.

Hoaks dalam Oxford English dictionary mempunyai makna “kebohongan yang sengaja dibuat untuk tujuan tidak benar, untuk kejahatan”. Memberikan pepesan kosong, kebohongan publik sehingga maksud mereka dapat tercapai.

Peran perempuan penulis di tengah beredarnya hoaks

Beredarnya hoaks ini bergerilya melalui berbagai media sosial, mulai dari timbul tenggelam status-status di linimasa Facebook, Twitter, Instagram, saat kita berada dalam grup WhatsApp, informasi begitu cepat datang dan pergi.

Olahan berita yang digoreng renyah hingga menjadikan berita viral, tetapi berisi kebohongan belaka. Bagi perempuan penulis, hal ini menggelitik jemari untuk menyebarkannya baik secara langsung maupun dengan menulis ulang.

Sebetulnya, hoaks sudah ada sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Pada zaman sebelum adanya jaringan internet ini, lebih berbahaya karena kesulitan dalam memverifikasinya.

Dampak menyebarkan hoaks

Hoaks mempunyai makna si pembuat berita sengaja menyebarkan kebohongan publik untuk dikonsumsi pembaca. Apa jadinya, jika perempuan penulis melahap berita hanya dengan membaca judul, lalu menyebarkannya. Secara tidak langsung, kita turut berperan aktif dalam membentuk opini yang sesat.

Hal ini dapat memicu rasa iri, dengki, dendam, saling hujat, dan merasa paling benar. Tidak jarang terjadi perundungan sosial terhadap orang yang tidak bersalah dan menyesatkan pikiran pembaca dengan memberi informasi salah.

Di semua media sosial, setiap jamnya ada saja sebaran berita, foto yang membuat lelah jiwa. Sedikitnya ilmu photoshop, membuatku kesulitan dalam mengklaim apakah foto itu hasil editan atau bukan.

Reaksi perempuan penulis terhadap berita

Untuk meminimalisir dari gempuran hoaks ini, ada beberapa hal yang sebaiknya perempuan penulis lakukan di antaranya;

Jangan termakan judul menarik

Saat menemukan judul menarik, membaca sampai tuntas adalah jalan terbaik. Pengalamanku, beberapa kali membaca judul kontroversi, setelah selesai membaca, ternyata tidak ada hubungannya sama sekali antara judul dan isi artikelnya. Kecewa? Pasti. Lebih jelasnya merasa tertipu.

Sikapi hoaks dengan tabayyun dan data valid

Jika menemukan kejanggalan antara judul dan isi berita, sebagai perempuan penulis menahan diri untuk menyebarkan atau menulis ulang artikel itu.

Sebaiknya, kita tabayyun, menjadikan semuanya menjadi jelas, baik sumber maupun esensinya. Mencari data valid dari sumber yang legalitasnya terverifikasi.

Cerdas dalam menyebar berita

Tidak hanya dari media daring kita memperoleh informasi yang kontroversi, dari media YouTube pun, sudah beberapa kali terjadi hoaks. Wawancara yang diedit, kumpulan foto dengan isi berita yang bertolak belakang dengan kenyataan. Untuk itu, cerdaslah dalam menyikapi informasi, foto, atau apa pun bentuknya.

Hai, perempuan penulis Indonesia, kita sama-sama membangun kecerdasan dalam menyikapi hoaks dengan tabayyun, data valid dari sumber yang terverifikasi. Tetap tenang, jangan tersulut judul yang kontroversi.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Menikmati Banda Neira: Dari Pala hingga Biota Lautnya Sebelummnya

Menikmati Banda Neira: Dari Pala hingga Biota Lautnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Komentar sedang dimoderasi

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.