10 Bali Baru: Mandalika dan Pesona Desa Sasak Sade dengan Tradisinya

10 Bali Baru: Mandalika dan Pesona Desa Sasak Sade dengan Tradisinya

Desa Sasak Sade © febrymeuthia.com

Mandalika yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada tanggal 30 Juni 2014, melalui Peraturan Pemerintah No. 52 tahun 2014.

Kawasan tersebut menjadi ramai diperbincangkan karena gelaran MotoGP 2021 akan dilaksanakan di Sirkuit Mandalika. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pun sudah melakukan promosi di Prancis, sebagai salah satu negara yang memiliki basis penggemar MotoGP.

Selain ramainya perbincangan mengenai gelaran MotoGP 2021, Mandalika juga memiliki beberapa destinasi wisata yang dikembangkan. Pantai menjadi salah satu destinasi yang ditawarkan. Nama-nama seperti Pantai Kuta Mandalika, Pantai Serenting, Putri Nyale, Pantai Tanjung Aan, pantai Seger, dan Pantai Gerupuk bisa menjadi pilihan ketika mengunjungi Mandalika.

Selain pantai, Festival Bau Nyale juga menjadi salah satu acara menarik yang dapat dinikmati wisatawan.

Jika sedang tidak ingin ke pantai dan terlewat Festival Bau Nyale, tidak jauh dari pusat Mandalika juga terdapat destinasi wisata Desa Sasak Sade.

Masih terletak di Pujut, Lombok Tengah, Desa Sasak Sade menawarkan kearifan lokal yang masih dijaga oleh warga sekitar. Desa yang ditempati oleh suku Sasak tersebut memiliki hal-hal unik.

Lantai rumah yang dilumuri oleh kotoran kerbau menjadi salah satu ciri khas dari desa Sade. Kotoran kerbau yang biasanya dihindari karena bau, di desa Sade justru tidak bau ketika digunakan untuk melapisi lantai rumah.

Tujuan melumuri lantai rumah dengan kotoran kerbau adalah untuk menghindari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan mencegah serangga seperti nyamuk masuk ke dalam rumah. Fungsinya untuk menguatkan lantai rumah.

Dikutip dari kompas.com kotoran sapi atau kerbau mengandung zat yang mempunyai daya rekat untuk mengikat lantai rumah. Peluluran lantai dengan kotoran tersebut dilaksanakan setiap 4 atau 5 hari sekali.

Dalam periode itu daya rekat akan berkurang dengan ditandai adanya keretakan. Debu-debu juga sudah mulai masuk dan mengotori lantai.

Rumah-rumah di desa Sade memiliki beberapa tipe seperti Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Setiap tipe rumah tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Bale Bonter digunakan untuk para pejabat desa dan persidangan adat. Bale kodong digunakan oleh warga yang sudah menikah tetapi belum memiliki rumah.

Kemudian, Bale Tani merupakan rumah yang ditinggali warga berprofesi petani. Rumah yang terbuat dari kayu dengan atap alang-alang tersebut juga memiliki ketahanan terhadap gempa.

Salah satu rumah penduduk di Desa Sasak Sade yang dilapisi kotoran kerbau pada lantainya | Sumber: Lombokwandertour.com

Selain rumah dan tradisi melapisi lantai dengan kotoran, kain tenun juga menjadi pilihan untuk bisa disaksikan. Terdapat dua jenis kain tenun, kain tenun ikat dikerjakan oleh kaum laki-laki dan tenun songket dikerjakan oleh kaum perempuan.

Di sana warga akan menunjukkan bagaimana memproduksi kain tenun ikat. Pengunjung juga bisa ikut belajar menenun serta berfoto dengan memakai baju adat.

Kain Tenun khas Lombok | Sumber: Wego.id

Tari Peresean salah satu tari tradisional dari Lombok, NTB, akan disajikan sebagai tradisi penyambutan wisatawan di Desa Sade. Tari Peresean sendiri dilakukan oleh dua orang pria dari Suku Sasak.

Diringi oleh musik gamelan khas Lombok, mereka bertarung dengan menggunakan bilah rotan yang dijadikan senjata pemukul dan menggunakan perisai yang disebut Ende sebagai pelindung tubuh. Ende terbuat dari kulit kerbau dan cukup tebal untuk melindungi pemain.

Tari Peresean | Sumber: lombokmandalika.co.id

Berkunjung ke kawasan Mandalika tidak hanya tentang pantai dan sirkuit Mandalika. Kearifan lokal seperti budaya asli suku Sasak juga dapat dinikmati sambil belajar tradisi daerah lain.

Apa yang diterapkan oleh warga desa sasak Sade bisa menjadi contoh untuk tetap melestarikan budaya Indonesia.

Catatan kaki: travel.detik.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kerajinan Purun dari Desa Lubuk Kertang Sebelummnya

Kerajinan Purun dari Desa Lubuk Kertang

Personal Branding Itu Penting, Lho Selanjutnya

Personal Branding Itu Penting, Lho

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.