10 Bali Baru: Intip Keunikan Masyarakat Tengger dan Bromo

10 Bali Baru: Intip Keunikan Masyarakat Tengger dan Bromo

Upacara adat Suku Tengger © surabaya.panduanwisata.id

Dewasa ini, masyarakat Indonesia maupun mancanegara hanya mengenal Bali sebagai destinasi menarik dengan berbagai keindahan dan kebudayaanya. Keunikan alam dan situs budayanya yang kental membuat orang tertarik untuk mengunjunginya lagi sebagai destinasi wisata menarik.

Namun, karena tingginya harga untuk akomodasi dan biaya di sana, membuat masyarakat harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, pemerintah mencanangkan program 10 Bali Baru di Indonesia.

Rencana pemerintah ini untuk alternatif destinasi wisata selain Bali, salah satunya Gunung Bromo. Gunung yang terletak di perbatasan Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo ini memang sangat memukau dunia.

Terlebih dari sisi akomodasi, gunung yang bernama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini mempunyai segudang kebudayaan dan cerita menarik.

Tidak kalah seperti Bali, ada kebudayaan unik dari masyarakat sekitar Gunung Bromo ini, yakni Suku Tengger.

Suku yang bermayoritaskan beragama Hindu ini mempunyai kebiasaan-kebiasaan unik untuk kesehariannya, seperti bangun di dini hari untuk membawa sayur-mayur ke pemukiman dengan berjalan kaki.

Uniknya, aktivitas ini dilakukan oleh perempuan asli Suku Tengger. Selain itu, Suku Tengger sebagian besar merupakan petani yang mempunyai ladang sendiri. Dalam 4 bulan berladang, masyarakat Tengger mampu menghasilkan panen setara harga beli Motor X Trail.

Di area Gunung Bromo ini, terdapat Pura Luhur Poten yang merupakan tempat sembahyang bagi umat Hindu Suku Tengger. Di sekitarnya juga terdapat tugu sesajen di sepanjang jalanan kawasan ini.

Tempat ini pun menjadi spot foto yang menarik, mengingat sangat jarang ada pemandangan seperti ini di kota-kota besar. Setelah berkeliling di area ini, kita bisa menyewa kuda untuk ditunggangi, yang merupakan kendaraan khas daerah ini.

hobiwisata.com

Untuk masyarakat Indonesia maupun mancanegara, jika ingin mengunjungi wisata ini dapat melalui Surabaya atau Malang. Saat di kawasan ini, kita harus menyewa mobil jip untuk naik ke lokasi.

Setiap warga Tengger, paling tidak mempunyai satu mobil jip untuk di sewakan kepada wisatawan. Upaya ini berhasil menaikkan sektor ekonomi mereka, apalagi saat musim liburan.

Waktu yang cocok untuk mengunjungi tempat ini saat menjelang pagi sekitar pukul 3 dini hari untuk melihat Sunrise. Dan sekitar bulan Juni merupakan bulan yang sangat pas untuk mengunjungi kawasan wisata ini, karena saat bulan tersebut matahari tidak terlalu menyengat, dan kita disuguhi hamparan Savana yang luas dengan banyak ilalang yang memenuhi kawasan ini.


Catatan kaki: destinasiliburan.com

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau20%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Vita Ayu Anggraeni Aditya Jaya Iswara

Siap Bertanding di Internasional, Tim Arung Jeram Kota Bogor Kantongi Restu Sebelummnya

Siap Bertanding di Internasional, Tim Arung Jeram Kota Bogor Kantongi Restu

Atlet Panjat Tebing Asal Solo Harumkan Indonesia di Eropa Selanjutnya

Atlet Panjat Tebing Asal Solo Harumkan Indonesia di Eropa

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.