Mengenal Crop Circle yang Menghebohkan di Kediri

Mengenal Crop Circle yang Menghebohkan di Kediri

'Crop Circle' Kediri © Akun Instagram @Khofifah.ip

Beberapa hari ini, dunia instagram dibuat heboh dengan postingan instagram pribadi sang gubernur Jawa Timur yang baru, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Dalam postingan tersebut terlihat video dan foto-foto yang menggambarkan pemandangan mirip Crop Circle ( suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman) di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Tentu saja. Crop Circle ini bukan dibuat oleh alien, makhluk dari luar angkasa, melainkan oleh warga setempat yang didukung oleh pemerintah propinsi Jawa Timur. Ada yang ditata mirip lambang Kementerian Pertanian, ada pula yang menampilkan bentuk hati disertai tulisan Jatim Cettar, yang merupakan singkatan dari Jawa Timur yang cepat, efektif, tanggap, transparan, dan responsif, salah satu jargon pemerintahan Gubernur Khofifah dan Emil Dardak, wakilnya.

Hingga saat ini, postingan Khofifah tersebut mendapatkan hampir 17 ribu likes.

Ini adalah tempat wisata baru yang memakai konsep Crop Circle, di mana sawah dan ladang dibentuk dengan unik sehingga instagrammable. Lebih menarik jika gambar diambil dari atas menggunakan drone.

Ada banyak tanaman yang dibudidaya dengan baik di Crop Circle, mulai dari padi, jagung, kedelai, mentimun, hingga bawang merah, yang berada di area persawahan dengan luas 2,1 hektar di wilayah Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, hasil karya kelompok tani (Poktan) Citarum Raharja 2.

Menurut Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kediri, Krisna Setiawan, seperti dilansir oleh Detik Travel, di lokasi Crop Circle terdapat 9 varietas berbeda padi hibrida, 54 padi inbrida, 19 jagung hibrida, 8 varietas jagung manis, jagung pulut manis, jagung pulut ungu, 8 varietas kedelai, shorgum, 19 varietas melon, 17 varietas mentimun, dan 6 varietas bawang merah.

Juga ada 17 varietas semangka, strawberry, 10 varietas cabai, 9 tomat, 116 kacang panjang, 6 buncis, terong, kubis ungu, kubis sendok, sawi hijau, sawi sendok, bayam ungu, bayam hijau, bayam belang, okra, kemangi, labu botol, labu madu, labu jepang, parea, oyong, bunga marigold, bunga celosia, bunga matahari, dan bunga pacar air. Selain itu juga terdapat edukasi sapi dan kambing.

Khofifah berharap ke depan semakin banyak tumbuh desa-desa wisata di Jawa Timur. Desa ini bukan hanya mengandalkan panorama alam, namun juga mampu memadukan budaya juga kreativitas masyarakat setempat.

"Dengan begitu perekonomian masyarakat sekitar pun dapat terdongkrak. Ayo bangun desamu," kata Khofifah.

(Dari berbagai sumber)

Pilih BanggaBangga53%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli7%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi3%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kembali Ke Alam, Petani Bali Gunakan Burung Ini Atasi Hama Tikus Sebelummnya

Kembali Ke Alam, Petani Bali Gunakan Burung Ini Atasi Hama Tikus

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.