Perempuan Penulis Sebagai Ibu yang Merawat Masa Depan

Perempuan Penulis Sebagai Ibu yang Merawat Masa Depan

© Pixabay

Tuhan telah melimpahkan sumber daya alam (SDA) yang potensial, kaya, dan beragam di negara Indonesia. Namun SDA yang berlimpah tidak serta merta menjadikan suatu negara melesat maju dalam segala bidang, karena pengolahan dan pengelolaan SDA yang optimal terletak di tangan sumber daya manusia (SDM)-nya.

Sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi pengungkit dan penggerak kemajuan bagi negara Indonesia ini.

Kualitas sumber daya manusia tidak hanya terdiri dari hard skill berupa keterampilan teknis dan penguasaan ilmu mengenai teori-teori pengetahuan yang bisa kita dapatkan dari sektor formal seperti kursus dan sekolah, namun juga dibentuk oleh soft skill yakni kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang meliputi karakter-karakter baik seperti mandiri, bertanggung jawab, berinisiatif, jujur, pantang menyerah, mampu berkerja sama, mampu membina komunikasi, santun, bersemangat, dan berpikiran positif.

Soft skill sangat berpengaruh dalam baik buruknya kualitas manusia, karena penguasaan teori dan keterampilan teknis tak ada artinya bagi kesejahteraan manusia itu sendiri, apalagi bagi kesejahteraan bersama, apabila dibarengi oleh karakter SDM yang buruk.

Karakter SDM yang buruk dapat memunculkan permasalahan seperti korupsi, plagiarisme, pertikaian antarsuku, dan lain-lain, yang selanjutnya menghambat atau merusak perkembangan bangsa yang ingin dicapai.

Sumber daya manusia yang berkualitas disokong oleh perpaduan dari ilmu dan pengalaman yang didapat. Ilmu didapatkan dari penelitian serta informasi baik lisan maupun tulisan, sedangkan pengalaman didapatkan dari peristiwa yang kita alami sendiri maupun kejadian yang dialami orang lain di mana kita melihat atau terlibat di dalamnya.

Ilmu maupun pengalaman berkaitan erat dengan literasi, karena baik ilmu maupun pengalaman dapat diinformasikan kepada lebih banyak orang dan dapat diwariskan dengan lebih lengkap kepada generasi penerus, bila ilmu dan pengalaman tersebut dibagikan secara tertulis ketimbang secara lisan.

Sebaliknya kita pun menyerap ilmu dan menimba pengalaman orang lain dengan jauh lebih luas sumbernya, bila kita mencari sumber-sumber yang telah ada secara tertulis.

Dampak luar biasa tulisan bagi suatu bangsa

Mungkin banyak orang yang sudah sering mendengar kutipan terkenal ini, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Ya, itu adalah salah satu kutipan terkenal dari Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia. Dari kutipan tersebut kita dapat merasakan betapa besar semangat yang bisa dikobarkan oleh suatu karya tulis terhadap seseorang.

Kata-kata Bung Hatta tadi menyuarakan keberaniannya menghadapi kungkungan (penjara) dengan senjata kebebasan berupa jendela dunia (buku). Mungkin beliau telah membaca karya-karya tulis yang sangat menggugah hatinya, hingga dapat berkata-kata sedemikian.

Lalu apa yang kita alami saat kita membaca kalimat terkenal Bung Hatta tersebut? Kita sebagai generasi penerus, menerima warisan keberanian Bung Hatta karena kita “mengalami” kobaran semangat beliau, saat kita membaca dan merenungkan kata-kata beliau tersebut, kata-kata yang kutipannya tersebar luas di berbagai media melalui tulisan.

Dari contoh sederhana di atas kita dapat melihat dampak berlapis dari sebuah tulisan. Melalui karya tulis, ada semangat dan harapan yang bisa diwariskan, diperbanyak, dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

Melalui tulisan, meski penulisnya secara fisik telah tiada, pengalaman dan ilmu yang ditinggalkan tidak hilang begitu saja, namun bisa memberi manfaat berupa ide, motivasi, pengetahuan, dan lainnya bagi orang yang membacanya.

Melalui tulisan, ada sumbangan terhadap perluasan ilmu dan pembentukan karakter pembaca.

Semakin banyak bacaan yang mengalir di suatu negara, semakin besar potensi terserapnya sumber-sumber pengetahuan, ide, dan wawasan oleh masyarakat yang membacanya.

Ada pemikiran-pemikiran yang bisa terbaca luas oleh semua kalangan, bahkan selanjutnya pemikiran-pemikiran yang positif dapat digabungkan dan diwujudkan menjadi sebuah karya nyata, tak lagi wacana semata, bagi kemajuan dan pembangunan bangsa.

Tentunya tulisan juga tak hanya memiliki manfaat di sisi informasi semata, tapi dilihat dari sisi rekreasi, hasil karya tulis pun sangat berperan.

Aneka cerita, dongeng, puisi, prosa, dan sebagainya merupakan bentuk hiburan yang tak lekang oleh waktu, meski seiring perkembangan teknologi maka hasil karya tulis tersebut diinovasikan secara kreatif ke bentuk-bentuk lain seperti video dan film layar lebar.

Meski kalah populer oleh kebiasaan zaman sekarang di mana gawai pintar dengan game dan media sosialnya menjadi penghibur setia di berbagai situasi, masih ada orang-orang yang memanfaatkan bacaan-bacaan untuk menghibur diri, memperkaya batin, dan meleburkan emosi.

Manfaat lainnya dari tulisan bagi pengayaan sumber daya manusia adalah meningkatkan keterampilan berpikir analitis, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan imajinasi, memperbaiki memori, sebagai stimulasi mental yang menjaga otak tetap aktif, sehingga dapat mencegah Alzheimer dan demensia, meningkatkan keterampilan berbicara (karena dengan banyak membaca, kosa kata semakin kaya dan wawasan semakin luas), serta tentu saja, meningkatkan ketertarikan dan keterampilan dalam menulis.

Kemudian kegiatan menulis itu sendiri merupakan bagian dari proses pembelajaran diri, karena selama seseorang ingin banyak menghasilkan tulisan, ia harus banyak membaca, banyak menulis, dan banyak mengamati kehidupan.

Dengan keterampilan menulisnya, seorang penulis Indonesia pun dapat ikut berperan mendongkrak martabat bangsa di mata negara-negara lain, antara lain dengan cara menceritakan dan mempromosikan budaya ataupun keindahan berbagai daerah negeri ini, mengisahkan prestasi-prestasi dan inovasi-inovasi yang telah diraih anak-anak bangsa, dan menghasilkan karya tulis bermutu yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia sastra.

Posisi perempuan penulis dalam masa depan masyarakat Indonesia

Tema dan genre untuk tulisan sangatlah beragam, hingga hasil dari sebuah tulisan dapat melestarikan aneka informasi yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan seperti: pengalaman, ilmu pengetahuan, tradisi, teladan, norma, nilai, falsafah, inspirasi dan imajinasi, motivasi, kenangan, cita-cita, dan harapan.

Melihat banyaknya informasi yang dapat disumbangkan oleh karya-karya tulis dalam memperkaya khazanah manusia, tampak di sini bahwa posisi penulis memiliki andil yang berarti bagi kemajuan sebuah bangsa.

Bagaimana dengan perempuan penulis, adakah posisi khusus yang ditempatinya dalam masa depan bangsa ini? Perempuan adalah “ibu”, demikian pula dalam dunia kepenulisan.

Maka posisi penulis perempuan dalam masyarakat Indonesia adalah sebagai sosok “ibu” yang menanamkan pendidikan dan nilai-nilai baik dalam tulisannya, menyebarkan informasi-informasi bahkan resep-resep berguna untuk perawatan kesehatan dan perbaikan gizi keluarga, membangkitkan semangat melalui kisah dan kenangan yang dituliskan, membantu mengobati luka-luka batin melalui tulisan yang memberi penghiburan.

Kartini merupakan salah satu contoh bahwa tulisan seorang perempuan dapat menggerakkan hati orang yang membacanya, sehingga ada semangat yang berkobar dan ada rangsangan untuk berpikir secara kritis, bahkan tulisan-tulisan Kartini ternyata membawa pengaruh pada generasi-generasi setelahnya.

Melalui tulisannya, Kartini membawa angin segar yang membantu perempuan-perempuan lain dan generasi-generasi lain menikmati atmosfer pendidikan dan kesetaraan yang lebih bermartabat.

Generasi-generasi setelah Kartini, bisa menikmati apa yang telah diperjuangkannya, dengan kata lain bisa ikut merasakan hasil karyanya yang turut “merawat” masa depan.

Meski mungkin tidak terlalu kentara, penulis perempuan dapat mempunyai “roh” yang berbeda dalam hasil tulisan-tulisannya dibandingkan dengan hasil tulisan penulis pria, karena kondisi unik perempuan yang tidak dimiliki pria, terutama dalam hal mengandung dan melahirkan anak, juga dalam hal emosi yang berbeda.

Keunikan perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki dapat menjadikan warna dan rasa hasil karya tulis perempuan memiliki potensi khas yang sangat memperkaya dunia sastra.

Setiap perempuan memiliki naluri keibuan di dalam dirinya, maka terlepas dari usia serta status seorang wanita (menikah atau belum menikah), perempuan penulis tetaplah memiliki posisi sebagai “ibu” dalam dunia kepenulisan.

Sebagai “ibu”, perempuan penulis tidak berada di bawah ataupun di atas seorang “ayah” kedudukannya, melainkan seiring sejalan dan bersinergi demi mencapai tujuan bersama.

Maka perempuan penulis bersama-sama penulis lainnya adalah pejuang-pejuang literasi yang menuangkan aspirasi-aspirasi demi merawat masa depan negeri.

Dengan tulisan, manfaat dan kebaikan yang telah kita dapat, bisa kita sebarluaskan agar juga dirasakan manfaat dan kebaikannya oleh orang lain.

Selain posisinya sebagai “ibu” di dunia kepenulisan, perempuan penulis juga memiliki posisi lain di dalam masyarakat, yaitu sebagai “mitra”. Di dalam masyarakat Indonesia yang plural dan terus berkembang ini, bacaan tak mungkin dilepaskan dari peran sertanya di berbagai bidang.

Dunia pendidikan, agama, kedokteran, perdagangan, politik, hukum, dan lain sebagainya selalu berkaitan dengan bacaan dan literasi. Rapat, seminar, simposium, tak pernah lepas dari bacaan.

Maka di dalam masyarakat, posisi perempuan penulis adalah sebagai “mitra” bagi profesi lainnya dalam mencerdaskan bangsa.

Penutup

Cara kita memperlakukan kata-kata dapat membawa pengaruh kepada dunia. Sebagai penulis, perempuan mampu dan unik dalam menjadikan kata-kata sebagai alat penyalur ilmu dan motivasi bagi pembaca, karena perempuan memiliki jiwa merawat yang merupakan bagian dari naluri keibuan yang Tuhan tanamkan dalam dirinya.

Sebagai penulis, perempuan memiliki andil yang bersinergi bersama penulis lainnya, untuk menyebarluaskan pengetahuan dan kebaikan melalui karya-karya tulis yang disumbangkan kepada generasi kini maupun generasi yang akan datang.

Usia kita terus menua, meskipun kita ingin selalu produktif dan menjadi berguna.

Setelah kehidupan selesai dan periode panggung kita usai, apakah segala jasa dan asa juga tercerai? Setelah kita tak ada lagi di dunia, adakah yang masih bisa kita tinggalkan, masih bisakah "roh" kita merawat anak cucu di masa depan?

"Roh" itu bisa sedikit kita titipkan, pada suatu keajaiban yang ada dalam wahana bernama tulisan. Biarlah melalui tulisan, ada sekelumit asa, harapan, cita-cita, dan pengetahuan kita yang membekali, menemani dan merawat jiwa-jiwa di masa depan.

Terlebih bila kita sebagai perempuan, kita bahagia bisa menjadi bagian dari sekelumit "ibu" masa depan setelah kita bukan lagi sekelumit bagian dari fananya kehidupan.

Sebab masa depan bangsa ada di tangan kita, bersama-sama kita dapat bergiat dalam dunia literasi, sebagai sumbangsih bagi ibu pertiwi.

Catatan kaki: GNFI | literasi.jabarprov | lpmkeadilan.org | medanbisnisdaily | depokpos | Kompas

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang67%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Anak Bangsa Raih Juara di Face of Asia 2019 Sebelummnya

Anak Bangsa Raih Juara di Face of Asia 2019

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Perempuan penulis tetap bisa berkarya, produktif, dan tak mengenal kata pensiun

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.