Potret Penulis Perempuan Indonesia

Potret Penulis Perempuan Indonesia

Asma Nadia © IDN Times

Indonesia punya banyak sastrawan dan penulis yang ternama maupun tidak ternama. Penulis-penulis terkenal pun muncul satu per satu. Mulai dari genre puisi, novel maupun prosa. Aku sering terkagum-kagum dengan mereka yang mampu menulis satu buku.

Kekagumanku dengan penulis Indonesia terutama penulis perempuan adalah keuletan dan kemampuan penulis Indonesia itu di tengah-tengah membanjirnya penulis media daring yang mungkin jauh lebih muda dari segi kreativitas dan imajinasinya.

Aku sering membayangkan bagaimana sulitnya mereka untuk membuat satu buku yang penuh dengan imajinasi tinggi dan kemampuan untuk terus menyambung tulisannya.

Hampir aku mencoba untuk menulis satu buku, tapi hanya bertahan untuk tiga sampai bab saja. Selebihnya aku harus berhenti karena imajinasiku dan kreativitasku tidak mengalir sama sekali.

Sedih banget ya kenapa bisa begitu. Jadi begitu aku membaca tulisan dari penulis terkenal seperti Asma Nadia, Ayu Utami, NH. Dini, Tere Liye, Dewi Lestari.

Kekaguman terus mengalir tanpa berhenti karena kemampuan mereka sungguh luar biasa. Daya imajinasi dan kemampuan menulis begitu luar biasa. Wawasannya yang sangat luas membuat tulisan itu sangat bermutu dan enak dibacanya.

Halangan utama sebagai penulis pemula adalah realitas yang terjadi di Indonesia. Waktu menulisnya satu buku bisa cukup lama, katakan yang sederhana pun memakan waktu sekitar hampir 4-5 bulan.

Jika akan diterbitkan melalui penerbit buku yang sudah “beken”, harus melalui antrian yang panjang mulai dari mengikuti prosedur dari pengiriman sinopsis, pengajuan proposal, antrian untuk mendapatkan waktu pengeditan, pencetakan, sampai kepada pemasaran buku yang juga harus dilakukan seorang penulis.

Bagi penulis pemula, proses pemasaran penjualan bukunya juga rumit. Biasanya buku dari penulis pemula, bukunya diletakkan di toko buku, di tempat yang kurang strategis. Hal ini tentunya membuat penjualan buku jadi minim.

Dampaknya royalti yang didapatkan sangat minim. Belum lagi pajak untuk royalti harus dibayarkan. Penantian yang begitu panjang, penuh harapan namun, hasilnya sangat tidak membahagiakan.

Sangat kontroversial jika penulis bercita-cita untuk berkontribusi dalam literasi baca kepada masyarakat, namun di satu sisi penghargaan dalam bentuk royalti itu sangat minim dibandingkan usaha keras yang harus dilakukan.

Itulah dilema seorang penulis pemula, penuh cita-cita yang idealis, namun realita berbicara sebaliknya.

Beruntung Indonesia punya penulis yang sangat hebat baik sebagai cerpenis maupun novelis. Karya-karya mereka sering kali diangkat dalam film layar lebar.

Ada beberapa orang penulis yang memulai karyanya di suatu platform komunitas penulis yang sering dianggapnya sebagai batu loncatan.

Sebagai contoh Valeria Pakar, memulai debutnya sebagai penulis di platform yang disebut dengan “Wattpad”. Seiring dengan terkenalnya tulisannya itu dia menciptakan novel percintaan pertama bernama “Claires” diangkat dari Wattpad, lalu masuk jajaran best seller.

Sejak saat itu Valeria sibuk meneruskan penulisan novel dengan seri terbarunya bernama Loversation dan Nonversation sebagai judul pertamanya.

Perempuan penulis Indonesia yang satu ini yaitu Najwa Shihab memulai kariernya sebagai jurnalis. Najwa, perempuan lulusan Melbourne Law of School dikenal gemar membaca dan pengetahuannya begitu luas dari beberapa aspek bidang lain selain hukum.

Dia sangat cerdas bukan hanya untuk pembicara, tetapi juga pandai menuangkan isi kepalanya ke dalam tulisan hingga lahirlah buku Catatan Najwa.

Buku ini merupakan hasil refleksi Najwa Shihab atas isu yang dibahas di program Mata Najwa dengan gaya irama khas seorang Najwa. Kariernya begitu gemilang, ia bahkan terpilih menjadi Duta Baca Indonesia 2016-2020.

Hadirnya perempuan penulis di khasanah Indonesia membuat sastra Indonesia dikenal baik itu di Indonesia sendiri maupun secara global. Namun, perempuan penulis juga harus sadar masih banyak yang perlu dikejar untuk memperkenalkan tulisan-tulisan, hingga dapat mendunia karena literasi sastra sangat kental dengan pandangan dan wawasan yang mengglobal.

Ada banyak pembaca global yang ingin belajar sastra Indonesia berkembang. Oleh karena itu perempuan penulis harus memperkenalkan dunia tulisan dalam konteks sastra yang diakui oleh dunia di luar Indonesia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kembali Ke Alam, Petani Bali Gunakan Burung Ini Atasi Hama Tikus Sebelummnya

Kembali Ke Alam, Petani Bali Gunakan Burung Ini Atasi Hama Tikus

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.