Belum Sanggup Jadi Pahlawan? Mari Berkontribusi Pada Indonesia Lewat Tulisan

Belum Sanggup Jadi Pahlawan? Mari Berkontribusi Pada Indonesia Lewat Tulisan
info gambar utama

Di masa lampau, gelar pahlawan bisanya disematkan pada mereka yang berjuang demi kemerdekaan. Bukan saja harta yang dipertaruhkan, tetapi juga jiwa dan raga demi membebaskan negeri ini dari kungkungan penjajah.

Akan tetapi, di era sekarang arti pahlawan sudah mengalami pergeseran. Sesuai tantangan zaman, gelar pahlawan tidak hanya diperuntukkan bagi para pejuang.

Mereka yang konsisten berjuang di bidangnya masing-masing dengan tujuan untuk mengharumkan atau membuat perubahan di tengah masyarakat, bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rafi Ridwan (desainer fesyen), Jonathan Christie (atlet bulu tangkis), Butet Manurung (perintis Sokola Rimba), atau Eni Lestari (mantan TKW yang kini menjadi aktivis buruh migran).

Tentu saja tidak semua orang memiliki kepantasan mendapatkan gelar pahlawan. Diperlukan kiprah dan kualitas mumpuni agar bisa disejajarkan dengan nama-nama di atas.

Namun demikian, hal tersebut bukanlah alasan untuk berhenti memberi sumbangsih bagi bangsa. Lakukan apa saja sesuai kemampuan kita. Tidak perlu berkecil hati bila dirasa kemampuan dan upaya kita masih jauh panggang dari api, karena kebaikan sekecil biji sawi pun akan memberi dampak pada sekitar.

Nah, sebagai penulis ada lima hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk kontribusinya pada Indonesia:

Sebarkan inspirasi dan kebaikan

Ada banyak inspirasi dan kebaikan di sekitar kita. Tengoklah, lalu tulis dan sebarkan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan agar semakin banyak yang mengetahuinya, supaya bisa menjadi contoh konkret di masyarakat bahwa masih banyak orang baik di tengah kita.

Orang-orang yang mau bergerak memberi manfaat tanpa perlu diminta. Contohnya apa yang dilakukan oleh rekan-rekan Rumah Literasi Indonesia, yang pergerakannya berpusat di Banyuwangi.

Tak apa jika belum sanggup menjadi donatur mereka. Atau bahkan meniru menjadi motor berbagai kegiatan literasi, mulai dari mengelola rumah baca hingga merancang kegiatan yang bisa menjadi inspirasi pada anak-anak di pelosok desa.

Tulislah kegiatan mereka sebagai bentuk apresiasi dan dukungan. Dengan cara inilah kita turut menggaungkan apa yang mereka kerjakan di luar sana. Tidak hanya lewat status atau unggahan foto di media sosial, tetapi juga di laman-laman lainnya.

Kegiatan Inspirasi Sekolah Literasi 5 RLI
info gambar

Sepenting itukah menuliskan dan menyebarkannya?

Tentu saja.

Untuk apa?

Sederhana, siapa tahu gerakan positif tersebut bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama di pelosok-pelosok Indonesia.

Jika banyak yang melakukan, semakin banyak pula yang mendapatkan manfaat. Salah satunya adalah bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat di mana pergerakan itu berada.

Dengan demikian kemampuan analisa dan pola pikir kritisnya pun meningkat, yang pada akhirnya berimbas pada cara mereka menanggapi berita-berita hoaks.

Menyelipkan pesan positif lewat tulisan

Novel Komedi
info gambar

Tak ada orang yang mau dinasehati terang-terangan. Bahkan jika mereka memerlukan nasehat itu untuk kebaikan diri sendiri. Maka yang bisa kita lakukan adalah menyelipkan pesan-pesan positif dalam karya tulis kita.

Misalnya mencintai diri sendiri apa adanya seperti yang tersirat dalam novel komedi “Short Girl Story: Pendek itu Menyakitkan”.

Dalam novel itu dikisahkan Sasha merasa tak percaya diri dengan kekurangannya, terutama tinggi tubuh dan penampilannya. Terlebih sejak ia jatuh cinta pada sosok jangkung bernama Lex.

Ia rela melakukan apa saja demi menjadikan dirinya sempurna. Hingga ia menemukan bahwa yang utama sejatinya menerima dan mencintai diri apa adanya.

Di novel komedi kedua, “Glamo Girls : Don’t Blame The World”, lewat ketiga tokohnya cerita ini mengirimkan pesan bahwa siapa pun bisa berubah menuju kebaikan.

Gina, Lala, dan Monic yang kerap menyebalkan teman-temannya lewat gaya borju dan sikap yang kelewat sombong, berubah menjadi sosok yang memiliki kepedulian sosial usai pulang dari acara baksos tahunan di pulau Sabira.

Di tempat itu mereka mendapatkan banyak pelajaran berharga yang menginspirasi mereka untuk lebih peduli pada sesama.

Mungkin terlalu muluk jika berharap kedua kisah itu bisa memotivasi pembacanya. Akan tetapi, setidaknya pembaca bisa merasakan pengalaman sebagaimana karakter dalam cerita kala mengatasi rintangan atau masalah dalam hidupnya. Membuat mereka merasa “Oh, iya aku juga bisa melakukannya!”.

Menulis ulang pengalaman negatif dan membagikannya dalam bentuk yang lebih positif

Tidak bisa dipungkiri dalam hidup kita akan menemukan kejadian seasam lemon. Tidak hanya sekali, tetapi berulang-kali. Merasakan pengalaman semacam ini tak jarang membuat sedih, tertekan, atau bahkan merasa diri tak memiliki arti.

Tulislah ulang cerita-cerita semasam lemon tadi, bubuhilah dengan gula dan es di dalamnya agar terasa segar bagi mereka yang membaca. Berikan tip bagaimana mengatasinya agar orang-orang bisa belajar cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Skala berat
info gambar

Contoh sederhana mengatasi komentar nyinyir orang-orang terhadap tubuh kita atau acap disebut sebagai body shaming. Bagikan pengalaman kita di laman pribadi atau media sosial.

Bukan bagian marah dan sedihnya semata, tetapi juga pelajaran di balik itu dan cara menghadapinya tanpa perlu mengeluarkan tanduk atau marah.

Mengapa ini menjadi penting? Agar orang lain bisa mengambil pelajaran dan kemudian bisa menerapkannya dengan pendekatan baru yang lebih sesuai dan efektif.

Mencintai Indonesia dengan menceritakan keindahan alam dan budayanya

Hutan Djawatan
info gambar

Indonesia jelas dikaruniai keindahan alam dan budaya yang beragam. Rasanya setiap melangkah kita akan disuguhi oleh berbagai hal yang menakjubkan.

Gunakan berbagai kemudahan untuk berbagi informasi di era sekarang dengan mengenalkan betapa kaya negeri kita dengan ragam budaya dan kecantikan alamnya, lewat cerita yang kita unggah di laman pribadi atau media sosial. Agar semakin banyak orang yang tahu betapa beruntungnya kita hidup di Indonesia.

Jika budaya atau keindahan alamnya tersebut popular dan diminati oleh pelancong lokal atau manca, itu adalah bonus yang membahagiakan bagi kita sebagai penulisnya.

Menggunakan bahasa Indonesia yang baik

Bendera Indonesia
info gambar

Sebisa mungkin menggunakan menggunakan bahasa Indonesia yang benar meski hanya menulis status di media sosial. Tidak menyingkat-nyingkat kata, karena kebiasaan ini akan merusak bahasa.

Memang agak repot karena membutuhkan waktu lebih panjang untuk menuliskannya, akan tetapi cara tersebut secara tidak langsung mendidik kita untuk berbahasa yang benar.

Kebiasaan kecil ini jika dilakukan secara konsisten tak urung berperan dalam melestarikan bahasa Indonesia. Semakin lestari maka bahasa ini pun tak akan terpinggirkan di negerinya sendiri.

Inilah tujuannya. Jadi tak sekadar gaya-gayaan, untuk menunjukkan betapa cakapnya kita berbahasa Indonesia. Justru sebaliknya, ini merupakan perwujudan rasa cinta terhadap Indonesia. Jika bukan kita yang mencintainya, siapa lagi?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AY
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini