Kehidupan Gajah Sumatera di Barumun Nagari

Kehidupan Gajah Sumatera di Barumun Nagari

Gajah-gajah di BNWS bebas lepas di hutan © Foto: Ayat S Karokaro

  • Belasan gajah jinak hidup di ‘rumah’ menyerupai habitat asli di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Sumatera Utara. Tiga anak gajah lahir, ada tiga jantan dewasa dan sembilan betina dewasa.
  • Gajah-gajah ini hidup di area seluas 400 hektar. Kesejahteraan gajah, jadi hal utama termasuk hak hidup seperti di habitat asli.
  • Awalnya, mereka tak saling kenal karena diambil dari lokasi berbeda. Di suaka ini, mereka membentuk kelompok sendiri, dan beradaptasi.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sedang menyusun strategi rencana aksi gajah, target selesai tahun ini dengan peningkatan populasi 10%.

Pagi cerah. Kabut tampak menyelimuti Suaka Margasatwa Barumun, hari itu. Suakan ini terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di sudut ruangan luas dengan rumput menyelimuti, terlihat sejumlah pria sibuk beraktivitas. Ada yang membawa pembersih kotoran, ada bawa selang air. Mereka menuju ke sebuah kandang. Di sanalah, tempat gajah-gajah Sumatera beristirahat saat malam tiba. Tempat ini bernama Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS).

Setidaknya, ada 15 gajah Sumatera hidup di sini dengan perlakuan bak hidup di habitat asli. Tiga anak gajah lahir, ada tiga jantan dewasa dan sembilan betina dewasa. Mereka hidup di area seluas 400 hektar, milik BNWS, yang mendedikasikan lahan untuk pengembangbiakan gajah.

Atong Harahap, tampak membawa pisang segar untuk makan gajah-gajah di sana. Pria 21 tahun ini mahout di BNWS. Setiap hari, empat sisir pisang disiapkan untuk makanan satwa ini.

Tepat pukul 9.00, ketika matahari beranjak naik, gajah-gajah inipun keluar kandang. Mereka masuk hutan.

Kalau melihat di Aek nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) gajah jadi sirkus dan ditunggangi, berbeda dengan di BNWS, melarang keras menunggangi gajah. Mereka dilepas bebas, mencari makan sendiri di SM. Barumun. Gajah akan ditunggangi mahout ketika pemeriksaan medis berkala. Gunanya, mengendalikan mereka agar mudah diperiksa kondisi kesehatan oleh tim medis.

Untuk bertemu kelompok gajah di BNWS ini, memerlukan waktu hampir dua jam dengan masuk ke kawasan hutan yang sedikit terjal dan berbatu. Perlu tenaga ekstra untuk bisa melihat bagaimana gajah-gajah di BNWS ini menghabiskan hari sambil makan, minum berendam maupun main air danau.

Syukur Al Fazar, Manager Program BNWS ketika menemani perjalanan ke dalam hutan mengatakan, yang boleh naik gajah BNWS hanya mahout. Itupun, katanya, hanya untuk kontrol saat pemeriksaan kesehatan. Untuk tamu, mereka bisa melihat perilaku gajah, tetapi melarang menunggangi.

Gajah-gajah di BNWS bebas lepas di hutan | Foto: Ayat S Karokaro

Kesejahteraan gajah, katanya, jadi perhatian penting termasuk hak hidup seperti di habitat asli.

“Gajah-gajah di BNWS ini jinak, mereka gajah kamtib dari beberapa pusat pelatihan gajah di provinsi ini. Hak dan kesejahteraan mereka sangat kami perhatikan. Tamu yang datang hanya berjalan di dekat gajah,” kata pria yang biasa disapa Sugeng.

Dia menilai, menaiki gajah untuk pengunjung atau wisatawan suatu kekejaman. Dia contohkan, pelatihan gajah di Thailand. Gajah liar dipaksa latihan supaya mengikuti perintah.

Dalam proses penjinakan gajah liar ini, katanya, menyebabkan, 70% mati stres, obat bius over dosis, sampai latihan cukup keras hingga berujung kematian.

Di BNWS, kata Sugeng, gajah-gajah memang tak liar lagi. Mereka jadi satu kelompok seperti gajah liar yang hidup berkelompok dan mencari sahabat yang cocok.

Awalnya, mereka tak saling kenal karena diambil dari lokasi berbeda. Di suaka ini, mereka membentuk kelompok sendiri, dan beradaptasi. Mereka mencari ketua kelompok lagi, siapa ibu yang paling pengalaman untuk diikuti. Sifat seperti dalam kehidupan luar itu, katanya, masih ada.

Apakah memungkinkan lepas liar ke alam? Menurut Sugeng, gajah-gajah ini dikumpulkan dari berbagai lokasi yang belum tentu cocok jadi satu kelompok, apalagi mau lepas liar. Dia khawatir, terjadi konflik baru berujung pada kematian kalau bertemu kelompok gajah liar di alam.

Indra Explotasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, fokus mereka meningkatkan populasi 25 spesies prioritas terancam punah dan dilindungi, salah satu gajah Sumatera.

KLHK, katanya, lakukan penyusunan strategi rencana aksi (SRAK) gajah, dengan target selesai tahun ini dengan peningkatan populasi 10%.

“Saat ini, konflik gajah dengan manusia terus terjadi. Perburuan masih berlangsung, perusakan habitat juga. Ini harus kita selesaikan agar tak terjadi penurunan populasi,” katanya.

Menurut dia, pembentukan kantong-kantong baru termasuk di pusat pelatihan gajah, salah satu upaya peningkatan populasi. Selain itu, membangun koridor yang menghubungkan kantong-kantong gajah baru juga terus dilakukan.

Pemeriksaan kesehatan gajah oleh dokter hewan BNWS. Mahout mengawasi gajah kala pemeriksaan rutin kesehatan mereka | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia
Gajah-gajah Sumatera | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia


Catatan kaki: Ditulis oleh Ayat S Karokaro dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Perempuan Penulis Sebagai Ibu yang Merawat Masa Depan Sebelummnya

Perempuan Penulis Sebagai Ibu yang Merawat Masa Depan

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang Selanjutnya

Menyambut Kembali Maskot Ibu Kota yang Sempat Hilang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.