Puan Penulis, Titip Indonesia Ya...

Puan Penulis, Titip Indonesia Ya...

Kami berlainan suku dan agama, tapi satu Indonesia © KJog

Mari sejenak bicara tentang penulis perempuan dan Indonesia. Tentu dalam konteks keIndonesiaan. Jadi, penulis perempuan yang diperbincangkan di sini adalah penulis perempuan Indonesia. Bukan penulis perempuan dari atau di luar Indonesia.

Begini. Tanpa bermaksud menyombongkan diri (sebab saya termasuk di dalamnya), saya sangat mengamini pendapat yang menyatakan bahwa perempuan penulis, khususnya di Indonesia, merupakan sosok istimewa.

Betapa tidak? Takdir menjadi perempuan saja sudah istimewa. Eh, masih pula ditambah menjadi penulis. Padahal sejauh ini, profesi penulis masih tergolong sebagai profesi yang istimewa. Nah, lho. Bertumpuk-tumpuk 'kan istimewanya?

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, saya menyimpulkan bahwa penulis perempuan dipandang istimewa, sebab dianggap punya nilai plus.

Bentuk nilai plusnya beraneka macam. Antara lain dianggap lebih pintar, lebih kreatif, lebih tekun, dan lebih berwawasan luas daripada perempuan lain yang bukan penulis. Istilahnya, punya kadar eksistensi tersendiri di mata koleganya. Terlebih kolega yang paham mengenai dunia literasi.

Maka bayangkanlah, jika seorang ibu mampu berprofesi sebagai penulis. Terlebih kalau ia masih punya profesi/pekerjaan/karier lain. Kadar keistimewaannya jadi meningkat berlipat-lipat 'kan?

Kemudian yang perlu dipertanyakan, patutkah label istimewa disematkan pada perempuan penulis (khususnya penulis perempuan Indonesia)?

Lagi-lagi tanpa bermaksud sombong, saya dengan cepat menjawab, "Patut." Alasannya begini. Dalam posisinya sebagai penulis, seorang perempuan Indonesia punya peran dan fungsi strategis, yakni strategis untuk menjadi agen perubahan ke arah kebaikan.

Sementara belakangan ini, bangsa kita amat membutuhkan kehadiran agen-agen perubahan ke arah kebaikan. Tentu demi tetap tegaknya NKRI.

Iya. Dalam posisinya sebagai penulis, seorang perempuan berkesempatan luas untuk menyebarkan konten-konten kebaikan. Bisa berkesempatan mendidik dan menginspirasi para pembacanya untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.

Selain itu, berkesempatan untuk menanamkan jiwa patriotik kepada penikmat tulisan-tulisannya. Sekaligus menyadarkan tentang fakta kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa tercinta ini.

Begitulah sikap ideal yang mestinya dimiliki oleh perempuan penulis Indonesia. Apa pun jenis tulisannya, apa pun media publikasinya, hendaknya konten-konten positif saja yang ditulisnya. Bukan konten-konten yang provokatif yang berpotensi memecah belah NKRI.

Iya, sih. Tiap penulis memang bebas menyampaikan buah pikirannya. Bebas mengajak pembacanya untuk melakukan apa saja. Termasuk melakukan hal-hal yang negatif dan kontraproduktif. Namun alangkah bijak, jika kebebasan itu diiringi kesadaran bahwa kebebasan tersebut tidaklah absolut.

Jangan lupa, orang lain pun memiliki kebebasan serupa. Kalau masing-masing saling menerjang kebebasan yang dimiliki, niscaya runyam semuanya.

Jadi...

Puan penulis, titip Indonesia ya. Tolong warnai negeri ini dengan warna yang seindah-indahnya melalui tulisan-tulisan edukatifmu. Tolong sadarkan anak-anak negeri ini tentang kemajemukan yang mereka punyai. Tentu bukan untuk memperuncing perbedaan, melainkan demi memperbesar rasa saling menghargai.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Memahami Konsep Karakter dan Wawasan Kebangsaan Sebelummnya

Memahami Konsep Karakter dan Wawasan Kebangsaan

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Saya juga perempuan penulis Indonesia, bukan luar negeri. Hehe

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.