Menyelisik Tradisi Kawalu di Suku Baduy Dalam

Menyelisik Tradisi Kawalu di Suku Baduy Dalam

© Dok. Penulis

Seiring dengan zaman yang berubah, beberapa suku di Indonesia masih berusaha menjaga keaslian tatanan sosialnya yang telah turun temurun. Salah satunya, Suku Baduy.

Suku Baduy yang dikenal juga dengan sebutan Urang Kanekes berada di bawah kaki Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy terdiri dari dua bagian besar, yaitu: Baduy Luar dan Baduy dalam. Secara sederhana, perbedaan keduanya berdasarkan pada bagian "kelonggaran atau kebebasan" dalam menjalani keseharian.

Baduy Luar diizinkan menggunakan elektronik, sandal, transportasi, dan pakaian bebas. Baduy Dalam melarang adanya semua itu.

Meskipun demikian, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam masih saling dan sangat menjaga setiap tradisi yang diturunkan dari nenek moyang. Salah satu tradisi yang masih ada hingga saat ini adalah Tradisi Kawalu.

Tradisi Kawalu disebut juga sebagai bulan suci bagi suku Baduy. Tradisi ini dilakukan selama tiga bulan setiap tahunnya (pada bulan Kasa, Karo, Katiga), lebih tepatnya di daerah Baduy Dalam.

Kawalu diisi dengan doa-doa untuk memohon keselamatan alam dan manusia. Dalam pelaksanaannya, masyarakat suku Baduy berpuasa sehari tiap bulannya.

Selama Kawalu berlangsung, turis lokal ataupun mancanegara, pejabat daerah, dan pejabat negara tidak boleh memasuki wilayah Baduy Dalam; terdiri dari Desa Cibeo, Desa Cikawartana, dan Desa Cikeusik.

Tradisi Kawalu juga dimaksudkan sebagai upacara untuk berdoa meminta kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

Berangkat dari sinilah, kami melihat adanya nilai nasionalisme di dalam Tradisi Kawalu yang dapat diangkat sebagai pendukung dari integrasi nasional.

Ini dikarenakan suku Baduy Dalam terkesan "jauh", "pedalaman", "primitif" seakan bukan bagian dari Indonesia.

Namun bukan berarti tidak dapat terintegrasi, sebaliknya, justru dalam tradisinya terdapat kecintaan dan kesetiaan pada negeri, yang juga menjadi pendukung dari integrasi di lingkup nasional.

Pada tulisan Heddy Shri Ahimsa-Putra yang berjudul “Integrasi Nasional dan Ancaman yang dihadapi”, dalam Kuliah Umum Koentjaraningrat Memorial Lecture VX/2018, secara singkat, menelaah pandangan Koentjaraningrat mengenai hadirnya integrasi nasional dalam proses yang terus berlangsung melalui transformasi kebudayaan yang memperkuat kesatuan bangsa dengan tetap mempertahankan eksistensi kebudayaan-kebudayaan suku bangsa.

Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra, integrasi nasional dapat kita definisikan sebagai situasi di mana segenap anak bangsa dan kolektivitas yang mereka bentuk tetap sepakat berada dalam sebuah negara kesatuan, NKRI.

Melemahnya semangat integrasi yang disertai oleh menguatnya loyalitas maupun solidaritas kesukubangsaan (apalagi yang berdimensi politik) dan etnisitas tidak jarang dapat menggiring suatu bangsa yang majemuk kepada muara disintegrasi.

William Liddle mengidentifikasikan penghalang dalam integrasi nasional; yang berakar pada dimensi pembelahan horizontal, yaitu perbedaan suku bangsa, ras, agama, dan geografis.

Oleh karena itu, loyalitas dan solidaritas nasionalisme harus lebih kuat dibandingkan semangat primordial. Alih-alih mempertentangkan nilai-nilai dari budaya suku tertentu dengan nilai-nilai nasionalisme demi kepentingan integrasi, lebih baik menemukan benang merah dari keduanya.

Koentjaraningrat berujar, kesukubangsaan atau keanekaragaman suku penting untuk dipahami, dikaji, dan ditelisik lebih dalam bagi negara dengan penduduk plural, agar keanekaragaman suku bangsa dapat dikembangkan sebagai strategi nasional ke arah terwujudnya integrasi nasional.

Maka dari itu, tim mahasiswi UGM yang berjumlah tiga orang: Charistya Herandy (Antropologi Budaya), Aisyah Suki Pratiwi (Sastra Prancis), dan Rahmalia Intan Sulistyawati (Sastra Prancis), melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PSH) dan dana hibah dari Kemenristekdikti; melakukan penelitian lapangan ke suku Baduy yang berfokus pada Baduy Dalam.

Penelitian kami menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara mendalam. Dalam keseharian, kami memilih wawancara dalam bungkus obrolan santai dengan masyarakat Baduy.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membuka pandangan baru di masyarakat umum mengenai keteguhan suku Baduy dalam menjunjung kesatuan negara Indonesia.

*Ditulis oleh: Charistya Herandy


Catatan kaki:

Ahimsa-Putra, H. S. (2018). INTEGRASI NASIONAL DAN ANCAMAN YANG DIHADAPI. Makalah dalam kuliah umum Koentjaraningrat Memorial Lecture VX/2018. Bentara Budaya Yogyakarta, Rabu 31 Oktober 2018.

Liddle, R. W. (1970). Ethnicity, party, and national integration: an Indonesian case study. Yale University Press.

Poerwanto, H. (1998). Suku Bangsa dan Ekspres Kesukubangsaan. Humaniora, (9), 112-122.

Swasono, M. F. (Ed.). (1993). Masalah kesukubangsaan dan integrasi nasional. Penerbit Universitas Indonesia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Praoe Lajar, Rokoknya Para Nelayan Sebelummnya

Praoe Lajar, Rokoknya Para Nelayan

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.