Pulau Kecil Di Timur Indonesia, Tempat Ditulisnya Teori Evolusi

Pulau Kecil Di Timur Indonesia, Tempat Ditulisnya Teori Evolusi

Cuscus Wallace © Sumber: The Alfred Russel Wallace Website

Saat berbicara mengenai evolusi, kita mengarah kepada Charles Darwin. Tetapi, di sebuah pulau kecil dengan vulkanik di Indonesia, seorang naturalis yang jarang diketahui telah merumuskan sebuah teori yang menata ulang dunia sains.

Pulau tersebut merupakan pulau Ternate. Hampir seluruh wilayah pulau Ternate merupakan gunung vulkanik. Berasal dari laut, berbentuk seperti kerucut yang terpotong di bagian atas, dikelilingi awan beruap, dengan dikelilingi oleh dataran yang tidak begitu luas serta pantai terdapat bandar udara, sebuah kota dan jalan yang mengelilingi pulau tersebut.

Sumber: jalamalut.com
Ternate | Sumber: jalamalut.com

Berkat wilayahnya yang bervulkanik, Ternate diberkati dengan tanah yang subur serta pantai dengan pantai hitam berkilauan. Ternate terdiri dari sebuah gunung vulkanik aktif yang sangat besar, Gunung Gamalama, 1715 meter yang hanya berpenghuni di bagian kaki gunungnya menyisakan hutan hingga puncaknya.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Memang tampaknya seperti lokasi yang tidak masuk akal, terlebih lagi untuk salah satu momen besar eureka sains, ketika seorang naturalis era Victoria menuliskan teori evolusi melalui seleksi alam.

Wallace | Foto: npr.org
Wallace | Foto: npr.org

Pada saat ilmuwan yang berusia 35 tahun Alfred Russel Wallace tiba di Ternate pada Januari 1858, ia mengeksplorasi selama empat tahun kumpulan pulau-pulau yang ia sebut kumpulan pulau Melayu.

Ia melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer dengan kapal uap, kapal layar dan kapal tradisional, atau naik kuda, berjalan kaki. Ia dan asistennya mengumpulkan puluhan ribu spesimen, mulai dari orang utan sampai burung cendrawasih sampai kuskus. Belum lagi ribuan spesies serangga.

Dalam perjalanannya ke berbagai tempat yang sekarang menjadi Indonesia, Wallace telah melihat berbagai makhluk. Ada katak terbang yang menunjukkan bagaimana jari binatang itu dapat beradaptasi untuk berenang dan melompat tinggi. Ada orang utan yang mungkin memiliki nenek moyang sendiri seperti simpanse dan gorila.

Wallace menempati sebuah rumah yang dikelilingi oleh pohon buah, lima menit berjalan kaki ke pasar terdekat di pinggiran yang saat ini dikenal sebagai Kota Ternate. Ia menjadikan Ternate tempat persinggahan selama ekspedisinya di Malay Archipelago (Indonesia) dan tinggal di rumah tersebut di antara kurun waktu Januari 1858 hingga Juli 1861. Di awal masa tinggalnya di Ternate, ia mengirimkan teori evolusi berdasarkan seleksi alamnya kepada Charles Darwin, dan karena inilah rumah Ternate ini menjadi legendaris.

 
The Wallace Frog, Gliding or Flying Frog | asienreisender.de
Katak Wallace, katak melompat atau terbang | asienreisender.de

Disinilah dimana ia menulis banyak makalah ilmiah dan surat-suratnya. Dari Ternatelah ia mengirim surat tersebut di tanggal 9 Maret 1858 kepada Darwin bersamaan dengan makalah penjelasan teorinya. Darwin telah mencapai kesimpulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, dan dilatarbelakangi oleh realisasi Wallace. Mereka bersama-sama menerbitkan makalah yang memperdebatkan teori inovatif dan kontroversial mereka tahun itu. Darwin menerbitkan The Origin of Species setahun kemudian, yang menjadi sensasi dan mendorongnya menjadi tenar.

Wallace dan Darwin | wallacefund.info
Wallace dan Darwin | wallacefund.info

Meskipun keduanya berperan penting atas penemuan tersebut, Darwin memiliki keuntungan lebih: ia mendapatkan dukungan dari komunitas ilmiah dan uang untuk mengeksekusi pekerjaan tersebut, yang mana adalah pekerjaan Wallace tidak diketahui. Wallace mengumpulkan spesimen-spesimen untuk membuktikan teorinya. Ekspedisinya untuk mengumpulkan dan meneliti lebih banyak lagi spesimen didanai melalui menjual spesimen-spesimen tersebut ke museum dan kolektor pribadi.

Wallace melanjutkan perjalanannya. Pada 1899 ia menemukan terobosan dalam biogeografi, dan menemukan garis di perbatasan Asia Tenggara dan fauna Australia, Garis Wallace.

Pada 1862, ia kembali ke Inggris dan mengumpulkan setidaknya 125.600 spesimen, termasuk 83.000 spesimen kumbang.

Pada 1862 ia menerbitkan memoar perjalanan yang seolah tak pernah selesai, The Malay Archipelago. Ia meninggal pada usia 90 tahun, dan menulis berbagai subjek mulai dari hak perempuan dan spiritualisme. Ia juga tidak pernah lupa mengungkapkan hormatnya kepada koleganya Darwin, yang memang pantas ia dapatkan.


Sumber: Seasia.co | BBC

Pilih BanggaBangga42%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi12%
Pilih TerpukauTerpukau28%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bermula dari Pengalaman, Terlahir Mahakarya Luar Biasa Sebelummnya

Bermula dari Pengalaman, Terlahir Mahakarya Luar Biasa

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019 Selanjutnya

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.