Panorama Air Terjun Di Ujung Barat Indonesia Nan Indah yang Terkepung Sawit

Panorama Air Terjun Di Ujung Barat Indonesia Nan Indah yang Terkepung Sawit

Air Terjun Guruh Gemurai © Sumber: KSMTour

Kalau bertanya kepada warga Kota Pekanbaru, Riau, kemana mereka berlibur, banyak akan menyebut Sumatera Barat, sebagai tujuan utama. Berjarak tempuh empat jam, mereka sudah disuguhi wisata batu cadas, warisan alam Lembah Harau, Payakumbuh, Sumatera Barat.

Dari calon taman bumi (geopark) itu, para pelancong Pekanbaru bisa menyusuri belasan atau puluhan destinasi wisata lain yang mungkin hanya berjarak setiap 30 menit menuju Kota Padang. Jika lelah dengan air terjun, ngarai, keindahan lansekap, mereka bisa menyeberang ke pulau-pulau indah di seberang Pantai Padang.

Ada Pulau Mandeh, Angso Duo, dan pantai yang lagi ngehits, Pulau Suwarnadwipa. Itu masih di luar wisata kuliner yang ditawarkan tanah kelahiran Bung Hatta ini.

Apakah Riau tak punya wisata alam? Ada, hanya belum banyak tahu keindahan tersembunyi di alam Riau yang sudah dipenuhi perkebunan sawit dan kebun kayu.

Adalah Kuantan Singingi, Riau. Lua 43.000 hektar, rimba belantara yang telah sah jadi hutan lindung bernama Bukit Betabuh ini membentang di bagian barat-tengah Riau dengan Sumatera Barat.

Ia merupakan satu di antara lima blok hutan lindung di bawah pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kuantan Singingi Selatan seluas 82.166,94 hektar.

Hutan Lindung Bukit Betabuh sekitar 15.000 hektar masih berhutan. Sisanya, sekitar 17.000 hektar sudah jadi kebun karet dan sawit.

Perkebunan karet ditanam puluhan tahun lalu di sekitar hutan lindung, namun perluasan kebun hingga ke kawasan baru terjadi beberapa tahun terakhir. Begitu juga kebun sawit merambah kawasan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Meski penunjukan kawasan sebagai hutan lindung sejak 80-an melalui tata guna hutan kesepakatan (TGHK), namun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru menetapkan KPH pada 2014 sebagai pengelola tapak hutan itu.

Alam begitu indah. Hutan bukan gambut berkontur berbukitan. Banyak anak sungai berair jernih di bagian hulu. Tak ketinggalan belasan air terjun nan indah.

Awal Januari lalu, Lukman, warga Pesikaian berkunjung ke Air Terjun Guruh Gemurai, Desa Kasang, Kuantan Mudik. Meski hanya berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari desanya, tetapi kunjungan ini kali pertama baginya.

“Ini bersama adek dan anak-anak. Bagus air terjunnya tapi banyak sampah,” katanya.

Air Terjun Guruh Gemurai, yang bertingkat-tingkat | Foto: Zamzami
Air Terjun Guruh Gemurai, yang bertingkat-tingkat | Foto: Zamzami

Air terjun Guruh Gemurai, paling gampang diakses masyarakat umum. Hanya 30 menit dari Kota Taluk Kuantan, ibukota Kuantan Singingi. Air terjun ini memiliki empat tingkat dengan ketinggian antara enam hingga 10 meter. Keempat tingkat itu berada di satu cekungan batu cadas perbukitan.

Pengunjung datang dari atas. Kala melihat ke bawah, tingkatan air terjun tak terlalu terlihat karena kondisi curam.

Di tingkat tiga ada jembatan semen dengan bagian bawah mengalir ke satu tingkat air terjun lagi. Ini tingkatan paling bawah, sekaligus untuk orang mendirikan tenda. Jembatan menjadi lokasi favorif para pengunjung terutama muda-mudi berfoto-ria.

Jika musim hujan dan debit air banyak, suara deruan bergemuruh hingga seratusan meter. Saat saya ke sana, debit air kecil. Deruan hanya terdengar hingga puluhan meter dari lapangan parkir kendaraan yang bisa menampung lebih 50 mobil.

Munafrie, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Dinas Pariwisata Kuantan Singingi mengatakan, Guruh Gemurai merupakan air terjun terkelola baik. Pemerintah telah membangun gapura atau pos pintu masuk pengunjung. Setiap pengunjung kena retribusi.

Akses masuk beraspal, hanya sekitar satu kilometer dari jalan lintas tengah menuju Sumatera Barat. Lokasi air terjun sudah ada toilet dan tempat jualan panganan ringan.

Pengunjung yang ingin turun ke tingkatan paling bawah cukup mudah dengan mengikuti tangga yang dibangun mengular di sisi kanan tebing. Ada bagian tangga rusak dan curam. Bagi anak-anak sangat perlu pengawasan orang dewasa.

Selain air terjun, ada juga fasilitas flying fox.

Munafrie bilang, kawasan ini memang lebih banyak menjual pemandangan. “Lebih indah.”

Obyek wisata ini kelolaan Dinas pariwisata. Sayangnya, pemerintah kabupaten tak fokus hingga ,banyak aset terbengkalai. “Ke depan kita mau coba bangun kembali,” katanya.

Guruh Gemurai hanyalah satu di antara belasan air terjun indah yang ada di Hutan Lindung Bukit Betabuh ini. Di bagian atas Guruh Gemurai ada banyak kebun karet warga.

Saya menyusuri air terjun lain yang tak jauh dari Guruh Gemurai. Berjarak sekitar 10 menit dengan kendaraan, ditambah satu jam jalan kaki ada Air Hitam setinggi 20 meter. Akses ke lokasi cukup landai, di antara kebun-kebun karet warga. Menjelang dekat air terjun, jalan cukup terjal, dengan kemiringan sekitar 80 derajat.

“Sekarang air cukup bersih. Kalau kemarin-kemarin kami ke sini lebih keruh,” kata Vandi, petugas KPH Kuantan Singingi Selatan.

Air terjun ini, katanya, tak terlalu dikenal orang karena akses lebih sulit dibandingkan Guruh Gemurai.

Hutan Lindung Bukit Betabuh sebagian lahan menjadi kebun sawit. Air Terjun seperti Patisoni, di kelilingi sawit | Foto: Zamzami
Hutan Lindung Bukit Betabuh sebagian lahan menjadi kebun sawit. Air Terjun seperti Patisoni, di kelilingi sawit | Foto: Zamzami

Jika Air Hitam dan Guruh Gemurai ada di antara kebun karet, kini saya ke air terjun yang tak kalah indah namun berada di antara kebun sawit, masuk hutan lindung Bukit Betabuh.

Air terjun terjun ini bernama Patisoni. Tak kalah indah dengan Guruh Gemurai, air terjun setinggi sekitar 30 meter dengan kolam cukup luas hingga pengunjung bisa berenang. Air memang tidak sebersih Air Hitam ataupun Guruh Gemurai karena Patisoni berada di tengah-tengah kebun sawit milik PT Tri Bakti Sarimas.

Dari Taluk Kuantan, Ibukota Kuantan Singingi, hanya sekitar satu jam pakai kendaraan ke Desa Seberang Cengar, Kuantan Mudik. Perjalanan beraspal 45 menit disambung jalan tanah berpasir dan berbatu di kebun sawit sekitar 15 menit.

Kami sempat tersesat di kebun sawit karena jalanan banyak belokan, tak ada penanda arah. Kami berhenti di jalan kebun buntu berbatasan dengan hutan yang sangat sempit, dari kejauhan terdengar gemuruh air. Kamipun menyusuri pinggir hutan dan mengikut aliran air hingga tiba di bagian atas air terjun.

Pemandangan begitu indah. Apalagi sinar matahari terik membuat efek pasir di bagian kolam air terjun terlihat menguning keemasan di kelilingi dinding hutan hijau dengan pepohonan tinggi berdiameter sekitar 30 sentimeter. Sebatang kayu meranti tampak melintang di antara dua tebing di atas kolam.

“Ini baru pertama ke sini. Tahunya dari kawan. Tadinya susah juga cari jalan, tapi pas tanya ke orang tadi, akhirnya sampai ke sini,” kata Soni, warga Taluk Kuantan.

Kabupaten Kuantan Singingi, katanya, sangat banyak air terjun. Dia baru mengunjungi tiga. Soni tak tahu, air terjun ini ada di kawasan lindung.

“Ini sudah sawit semua. Kalau semua jadi kebun sawit, pasti bakal rusak. Kita harus menjaga, minimal biarlah seperti ini,” ucap Soni.

Dia mendapat informasi keberadaan air terjun dari temannya yang memposting foto di sosial media. Di sosial media, seperti instagram.

Terkait dengan banyak perkebunan yang mengepung air terjun-air terjun ini, Kepala KPH Kuantan Singingi Selatan, Haris mengatakan, sedang gencar mensosialisasikan keberadaan hutan lindung Bukit Betabuh kepada masyarakat desa sekitar kawasan.

Air Hitam, salah satu air terjun di Bukit Betabuh | Foto: Zamzami
Air Hitam, salah satu air terjun di Bukit Betabuh | Foto: Zamzami

Sosialisasi itu, katanya, untuk menahan laju perubahan hutan menjadi perkebunan-perkebunan baru baik sawit maupun karet. Jadi, potensi pariwisata alam bisa terjaga.

“Kami belum setahun di sini dan terus fokus mensosialisasikan hutan lindung agar jangan makin berkurang. Kami sudah peringatkan mereka dan telah memberikan pilihan-pilihan solusi untuk masyarakat dan hutan terselamatkan,” katanya.

Untuk menjaga destinasi baru wisata alam Bukit Betabuh, KPH juga merangkul dinas terkait dan kelompok masyarakat. Di antara lain membuat jalur baru menuju Air Hitam bersama komunitas Alam Batobo, kelompok pemuda pecinta alam dari Lubuk Jambi.

KPH yang menaungi Hutan Lindung Bukit Betabuh kini sedang gencar mempromosikan ekowisata sebagai salah satu strategi penyelamatan kawasan. Belasan hingga puluhan destinasi wisata baru memiliki keindahan alam memukau.

Air terjun Patisoni, yang di kelilingi kebun sawit | Foto: Zamzami
Air terjun Patisoni, yang di kelilingi kebun sawit | Foto: Zamzami

Air terjun Patisoni, Riau | Foto: Zamzami
Air terjun Patisoni, Riau | Foto: Zamzami


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli17%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kartini, Pendidikan Perempuan Pribumi dan Gastronomi Indonesia Sebelummnya

Kartini, Pendidikan Perempuan Pribumi dan Gastronomi Indonesia

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye Selanjutnya

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.