Perjalanan Panjang Buah Naga dari Amerika ke Indonesia

Perjalanan Panjang Buah Naga dari Amerika ke Indonesia

Buah naga yang cantik © Elsa's Wholesome Life

Beberapa tahun belakangan ini, masyarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar mulai mengenal konsep clean eating. Salah satu diet yang hanya mengonsumsi makanan yang organik, bebas gluten dan dairy, serta tidak diproses secara berlebihan.

Kemudian mulai bermunculan restoran yang menyediakan salah satu menu clean eating, yaitu smoothies bowl. Satu mangkuk yang berisi jus buah yang kental, lalu diberi topping biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah segar.

Salah satu yang menarik perhatian adalah smoothies bowl dengan warna merah yang mencolok. Bukan dari pewarna makanan, melainkan warna asli dari buah naga. Hal ini yang menyebabkan saya penasaran dengan buah yang telah mendunia ini.

Cantiknya smoothies bowl | Sumber: Sunkissed Kitchen

Buah naga atau Heloserkus undatus adalah buah yang manis namun memiliki khasiat untuk menurunkan kadar gula darah dan kolesterol, karena rasa manis dari buah naga bukan berasal dari glukosa.

Terdapat empat jenis buah naga, salah satunya adalah buah naga daging putih yang paling terkenal. Selain karena bentuknya yang lebih besar, rasanya juga lebih manis.

Namun setelah melihat warna buah naga berdaging merah yang menarik, masyarakat Indonesia mulai menyukai jenis ini juga. Rasanya pun juga manis dan segar.

Asal-usul buah naga

Tanaman ini awalnya ditemukan di tanah Meksiko, Amerika Tengah, dan AS. Dijuluki dengan nama pitahaya atau pitaya roja, tanaman ini awalnya dianggap sebagai kaktus hutan biasa. Kemudian masyarakat suku Indian mengonsumsi buah dari tanaman ini.

Julukan buah naga atau dragon fruit ini berasal dari masyarakat Cina kuno. Mereka meletakkan tanaman ini di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar.

Tradisi ini dilakukan karena dipercaya akan membawa berkah. Warna merah mencolok dari buah dengan julukan "thang loy" ini juga memberikan nilai estetika.

Buah naga, kaktus yang berbuah manis | Sumber: eBay

Buah naga kemudian berkembang secara pesat di Vietnam dan Thailand setelah dibawa oleh Prancis di tahun 1870. Inilah yang menyebabkan buah ini lebih dikenal sebagai tanaman dari Asia hingga saat ini.

Orang-orang Vietnam menyukai bentuk tanaman buah naga yang unik. Seperti kaktus, namun berbentuk segitiga dan berduri sangat pendek, sehingga tanaman ini sering digunakan untuk tanaman hias. Saat itu mereka belum memanfaatkan buahnya.

Buah naga di Indonesia

Menurut catatan sejarah, buah naga sudah ada di Indonesia sejak tahun 1977. Saat itu masyarakat Indonesia belum mencoba untuk membudidayakannya sendiri, melainkan hasil impor dari Thailand.

Kemudian Indonesia mulai mencoba membudidayakan untuk pertama kalinya di tahun 2000. Joko Rainu Sigit, warga Delangu, Jawa Tengah yang pertama kali melakukannya.

Kebun buah naga di Jawa Tengah | Sumber: YouTube

Saat itu ia membeli 250 benih tanaman di Thailand. Kemudian ia tanam di tanah yang dekat dengan rumahnya. Namun setelah dua tahun, tanaman ini tidak kunjung berbuah.

Akhirnya Joko mencoba untuk mempelajari karakteristik tanaman ini yang ternyata justru cocok ditanam di lahan yang kritis air. Curah hujan tinggi justru akan membuat kerusakan dan pembusukan.

Buah naga di Indonesia kini

Para petani buah naga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah kini berhasil mengakali tanaman buah naga ini. Provinsi Kalimantan dikenal dengan tanah gambut yang sangat berbeda dengan tanah berpasir di Meksiko.

Menurut yang dilansir dalam Jejak Rekam, Sunarto, petani buah naga asal Palangka Raya ini mengaku cukup mudah untuk menanam bibit di tanah gambut.

Yang harus disiapkan adalah pupuk organik agar tumbuh dengan baik. Selain itu tanah juga harus ditaburi kapur dan kalsium, agar bibit pohon buah naga tidak mudah terserang penyakit.

Sunarto menambahkan bahwa selain mudah untuk menanam, buah yang dihasilkan tanaman ini juga sangat banyak. Dari 2000 batang pohon, Sunarto dapat menghasilkan 2 ton buah dan bisa panen dua kali dalam sebulan.

Memang benar legenda bahwa buah naga dapat membawa berkah, baik untuk konsumen yang mendapatkan khasiatnya, juga untuk para petaninya yang dapat merawatnya dengan mudah.


Catatan kaki: Potensi Lokal | Jejak Rekam | Jurnal Unimus

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah Aditya Jaya Iswara

Apa Bedanya Anggrek Hitam Kalimantan dan Papua? Sebelummnya

Apa Bedanya Anggrek Hitam Kalimantan dan Papua?

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan Selanjutnya

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.