Bersiap Menyambut Kereta Hidrogen di Indonesia, Pertama di Asia

Bersiap Menyambut Kereta Hidrogen di Indonesia, Pertama di Asia

Kereta Hydrogen buatan ALSTOM untuk dioperasikan di Inggris © ALSTOM

Beberapa hari ini, sosial media Indonesia dihebohkan dengan kereta hidrogen yang akan didatangkan ke Indonesia, yang berasal dari Jerman. Jika benar terjadi, Indonesia akan menjadi negara pertama di Asia yang menggunakan moda transportasi ramah lingkungan ini.

Dilansir dari website Deutshce Welle (DW) Indonesia, Direktur PT. KAI, Edi Sukmoro, mengunjungi Niedersachsen, Jerman, sekaligus menaiki kereta hidrogen berkecepatan 80 km/jam beberapa bulan lalu. "Luar biasa kereta ini. Satu langkah maju dari teknologi elektrifikasi yang selama ini kita lihat menggunakan baterai," ujar Sukmoro seperti dikutip dari DW.com.id.

Kereta hidrogen terbilang ramah lingkungan sebab menggunakan bahan baku utama biomass ataupun sumber energi berkelanjutan lainnya, misalnya energi matahari dan energi angin, sehingga emisi yang dihasilkan berupa uap dan air. Sukmoro menambahkan pihaknya siap membawa kereta hidrogen pertama di dunia ke Indonesia.

Pihak penyedia kereta hidrogen pun mengklaim biaya investasi dari kereta hidrogen justru lebih murah ketimbang kereta diesel.

Design kereta hydrogen Alstom untuk dipakai di Inggris | Alstom
Kereta Hydrogen untuk Inggris | ALSTOM

Bulan lalu, dalam sebuah pertemuan di Berlin, Jerman, PT KAI menyerahkan draft MoU kepada Alstom, selaku pembuat kereta api hidrogen.

“Ini wujud keseriusan kita untuk memulai kerja sama. Kita sudah sampaikan draft MoU nya, dan ALSTOM akan sampaikan tanggapan. Target kita, saat kunjungan delegasi ALSTOM ke Indonesia nanti, MOU sudah bisa ditandatangani,” kata Aloysius Guntur Setyawan, Vice President New Business Cooperation and Policy PT KAI, seperti dikutip dari DW News, Senin (24/6).

Dari pertemuan tersebut pihak ALSTOM juga menyampaikan keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia. Indonesia merupakan negara Asia pertama yang secara serius menunjukkan ketertarikannya pada kereta hidrogen.

“Dalam waktu yang tidak lama kita berencana akan berkunjung ke Indonesia. Selain untuk membahas aspek teknis lebih jauh, kita juga ingin melakukan survei lapangan untuk lokasi proyek kereta hidrogen ini”, tutur Jörg Nikutta, Managing Director ALSTOM Jerman–Austria.

Kereta Hydrogen Alstom | alstom
Kereta Hydrogen buatan Alstom| Alstom

Kereta hidrogen pertama di dunia pertama kalinya diluncurkan pada 16 September 2018 di kota Bremervörde, negara bagian Niedersachsen. Kereta hidrogen ini dapat menempuh kecepatan hingga 140 km/jam. Dalam sekali perjalanan sejauh 1.000 km, kereta hidrogen hanya butuh sekali pengisian bahan baku air berhidrogen yang telah disediakan dalam kontainer baja setinggi 1,2 meter. Pengoperasian kereta ini menggunakan elektrifikasi dari proses kombinasi hidrogen dan oksigen. Dengan teknologi ini emisi yang dikeluarkan adalah air.

Bahan baku utama yang digunakan adalah hidrogen yang berasal dari biomass ataupun sumber-sumber energi berkelanjutan seperti energi angin dan matahari. Kehadiran kereta hidrogen di Indonesia dapat menjadi bagian dari pembangunan sektor transportasi yang berkelanjutan.

Alstom mengklaim dalam jangka panjang biaya investasi kereta hidrogen lebih murah ketimbang kereta berbahan bakar diesel.

“Kendati biaya pengadaan kereta yang lebih mahal, namun biaya pengoperasiannya cukup rendah sebab tidak menggunakan grid listrik dan mesin diesel. Disamping biaya perawatannya yang juga murah,” kata Stefan Schrank, seorang petinggi perusahaan.

Menurutnya kereta hidrogen memiliki fitur kenyamanan yang sulit ditandingi berupa suara mesin yang tenang, membuat perjalanan terbebas dari kebisingan mesin kereta.

Selain Indonesia, negara lain yang menujukkan ketertarikannya terhadap kereta hidrogen antara lain Austria, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Italia dan Kanada.

(Sumber berita: DW.com.id)

Pilih BanggaBangga68%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah

Pertama Kali Dalam Sejarah Airbus Oleh Tiga Mahasiswa Asal Indonesia Sebelummnya

Pertama Kali Dalam Sejarah Airbus Oleh Tiga Mahasiswa Asal Indonesia

Imbas Kemacetan dan Efeknya ke Daya Saing Selanjutnya

Imbas Kemacetan dan Efeknya ke Daya Saing

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.