Hiu Paus Indonesia Menjadi Spotlight Konferensi di Australia

Hiu Paus Indonesia Menjadi Spotlight Konferensi di Australia

Ilustrasi wisata hiu paus © Sumber: Google News

Hiu paus di Indonesia menjadi sorotan pada Konferensi Hiu Paus Internasional (IWSC - International Whale Shark Conference) 2019 yang diadakan di Exmouth, Australia Barat, pada akhir Mei lalu.

Hiu paus adalah ikan terbesar di dunia dan sebagian besar perilakunya masih menjadi misteri karena hanya sedikit spesimen yang diketahui. Namun, spesies ini terancam punah berdasarkan Daftar Merah Konservasi Alam (IUCN - International Union for the Conservation of Nature).

Konferensi ini, yang diadakan untuk yang kelima kalinya dan dihadiri oleh 130 peserta dari 21 negara, bertujuan untuk mengumpulkan semua pihak di seluruh dunia untuk berbagi informasi tentang aspek ekologis dan biologis hiu paus dan menerapkannya pada upaya konservasi.

Ada delapan topik mengenai hiu paus di Indonesia yang dipresentasikan pada konferensi tersebut. Topik tersebut menarik perhatian berbagai peserta dari seluruh dunia seperti peneliti hiu paus, pelestari alam, dan praktisi di bidang pengelolaan sumber daya alam dan pariwisata.

Wisata hiu paus di Labuhan Jambu, Gorontalo | Sumber: Media Indonesia

Delapan topik yang terkait dengan hiu paus di Indonesia termasuk potensi ekonomi wisata hiu paus berbasis masyarakat di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, disajikan oleh Maulita Sari Hani dari Conservation International (CI); dan penelitian dan konservasi hiu paus di Indonesia oleh Mark Erdmann (CI). Peluang dan tantangan untuk pengembangan wisata hiu paus di Gorontalo oleh Asril Djunaidi, seorang mahasiswa doktoral dari Universitas Hasanudin, juga dibahas.

Selain itu, perbandingan pergerakan hiu paus di tiga lokasi di Indonesia dilakukan oleh Abraham Sianipar (CI). Gerakan vertikal dan pola menyelam hiu paus di Papua Barat juga dianalisis oleh Megan Meyers, seorang mahasiswa doktoral dari University of Western Australia. Terakhir, penilaian kesehatan hiu paus di Teluk Cendrawasih dilakukan oleh Alistair Dove dari Aquarium Georgia.

"Kami sangat senang dan terkejut dengan sejumlah topik dari Indonesia pada konferensi ini. Kami berharap semua peserta yang hadir dapat terus saling membantu dan belajar dari satu sama lain, terutama mengenai pariwisata berkelanjutan," kata sekretaris IWSC 2019 Dani Rob dalam sebuah pernyataan.

Ketertarikan ini juga disampaikan oleh Gonzalo Araujo, seorang peserta dari Filipina, "Saya sangat senang melihat berbagai pemangku kepentingan di Indonesia melihat peluang dan membangun praktik pariwisata hiu paus yang berkelanjutan."


Catatan kaki: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli33%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Yellow Oleh Rich Brian di Times Square New York Sebelummnya

Yellow Oleh Rich Brian di Times Square New York

Sirkuit Mandalika di NTB mulai dibangun Oktober ini! Selanjutnya

Sirkuit Mandalika di NTB mulai dibangun Oktober ini!

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.