Bukan Tak Bermakna, Banyak Arti dari Segelas "Dawet Ayu"

Bukan Tak Bermakna, Banyak Arti dari Segelas "Dawet Ayu"

Es Dawet Ayu © Resep Biyen

Saat kita pulang kampung atau sekedar berjalan-jalan ke suatu daerah, kita pasti mengulik tentang kuliner khas daerah tersebut. Dengan peralatannya yang masih sederhana, tentunya membuat hidangan tersebut terlihat istimewa.

Jawa tengah, mempunyai segudang kuliner unik yang menarik untuk dijajal, salah satunya dawet ayu. Siapa sih yang tidak mengenal minuman satu ini? Tentu saja, minuman khas dari Banjarnegara ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan minuman lainnya.

Dengan paduan gula Jawa yang manis dicampur dengan santan putih dari kelapa, ditambah dengan cendol beraroma pandan, memang terlihat sederhana, namun mampu membius siapa saja yang meminumnya karena kesegarannya. Minuman satu ini memang paling cocok diminum saat siang hari atau musim kemarau.

Foto: IDN Times

Di Banjarnegara sendiri, penjual es dawet ayu menjual dagangannya dengan cara dipikul. Membawanya berkeliling lalu berdiam di suatu tempat. Faktanya, peralatan jualan dair es dawet ayu ini mempunyai makna tersendiri, lho.

Pasti kawan GNFI penasaran mengapa gagang centong yang digunakan begitu unik, dan selalu ada tokoh pewayangan yang setia menemani penjual dawet ayu ini. Lalu mengapa minuman ini dinamakan dawet ayu? Simak yuk fakta-fakta dari dawet ayu ini.

Penamaan dawet ayu

Usut punya usut, gagang centong yang digunakan untuk mengambil dawet ini terbuat dari kayu pohon kanthil dan namanya saling berkorelasi. Gagang centong ini menggambarkan sosok seorang putri pewayangan dari Jawa yang konon mempunyai wajah cantik dari tokoh-tokoh pewayangan yang lain. Hal ini dibuktikan lekukan centong yang mirip dengan paras muka Dewi Srikandi.

Penjual dawet ayu | Foto: Kompasiana

Patung pewayangan di atas gerobak

Tentu kita tidak terlalu memperhatikan arti patung wayang yang berada di atas gerobak dawet ayu ini, atau menganggap itu merupakan sebuah hiasan khas dari pedagang. Faktanya, patung pewayangan tersebut mempunyai filosofi yang unik. Itu adalah Semar dan Gareng, yang masing-masing disimbolkan mempunyai figur punakawan yang mempresentasikan kata mareng.

Apa itu mareng? Kata mareng ini merupakan bahasa Jawa tingkat tinggi yang hanya digunakan nenek moyang kita terhadap dewa pada saat itu. Mareng ini sendri berarti kemarau atau musim panas, tentu saja, filosofi ini berarti memohon cuaca agar selalu panas supaya banyak orang yang membeli dagangan mereka.

Namun jika di lihat dari masing-masing pewayangan, tokoh Semar ini sendiri menggambarkan dasar dari mendagangkan dawet ayu. Kemudian tokoh Gareng, memiliki arti ngeneng, yang berarti menarik perhatian orang. Tokoh Petruk ini memaknai dengan nyeluk atau mengundang orang.

Lalu tokoh Bagong berarti njagong atau makna dari duduk-duduk sambil mengobrol. Tokoh-tokoh pewayangan ini dipercaya nenek moyang untuk melariskan dagangan dawet ayu.

Menjadi kuliner ikonik pilihan Kementerian Pariwisata

Minuman khas Banjarnegara ini telah diapresiasi Kementerian Pariwisata menjadi 30 ikon kuliner Nusantara ada tahun 2012. Minuman ini sering dihidangkan, guna menjamu tamu-tamu kenegaraan dalam perayaan besar atau resepsi pernikahan.

Menjadi simbol kota

Tentu saja, kuliner unik satu ini juga telah diapresiasi pemerintah setempat dengan membuat patung penjual dawet ayu di pusat kota Banjarnegara, yang lengkap dengan pikulannya, lho.

Dawet Ayu Munardjo | Sumber: zubethexplorer

Penjual yang legendaris

Dawet Ayu Munardjo, begitu nama tempat ini. Siapa sangka dawet ayu ini memiliki resep kuno yang dipertahankan sejak tiga generasi lamanya. Dengan Rp 4.000 saja, kita bisa menikmati resep kuno dawet ayu ini. Dawet Ayu Munardjo ini telah mendapat sertifikasi ketetapan perlindungan hak kekayaan intelektual guna menjaga keaslian resep ini.

Bagi kawan GNFI yang ingin berkunjung ke Banjarnegara, sempatkan mencicipi dan share pengalaman kalian ya!


Catatan kaki: idntimes.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah Aditya Jaya Iswara

Berwisata di Perbatasan Indonesia Sebelummnya

Berwisata di Perbatasan Indonesia

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.