Makna Kehidupan di Balik Gamelan Jawa

Makna Kehidupan di Balik Gamelan Jawa

Seperangkat Gamelan Jawa © budayajawa.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Akhir-akhir ini ingatan saya terhadap musik tradisional Jawa, yakni gamelan kembali datang. Teringat ketika Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah memainkannya dan sempat bersama-sama merekam musik untuk lomba tari. Sebuah kesempatan yang menyenangkan. Saya harus ucapkan terima kasih ke guru mata pelajaran antropologi saya yang mengenalkan gamelan.

Gamelan sendiri tidak hanya milik Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, & D.I Yogkayarta), ada pula Gamelan Sunda dan Gamelan Bali. Masing-masing memiliki ciri yang sangat khas. Gamelan Jawa akan dimainkan lebih lembut, Gamelan Bali lebih nyaring, sedangkan Gamelan Sunda sangat khas dengan seruling, sudan, dan rebabnya.

Memiliki laras pelog dan slendro. Jika pelog terdiri dari notasi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 (ji, ro lu, pat, mo, nem, tu), slendro memiliki notasi 1, 2, 3, 5, 6, i (ji, ro, lu, mo, nem, i). Uniknya, Bali memiliki dua bunyi, yakni smaradhana.

Munculnya Gamelan Jawa

Gamelan Jawa sudah ada sejak tahun 326 Saka atau 404 Masehi. Menurut Yudoyono (dalam skripsi Prasetyo, 2012) ditambah dengan informasi dari pujangga Ranggawarsita, pada saat itu masyarakat Jawa banyak mendapatkan transformasi sosial budaya dari Hindu dan Buddha, budaya yang dibawa adalah budaya bunyi-bunyian seperti bunyi hewan-hewan dan nada pukulan dengan alat kendang, ketipung, dan lainnya. Itulah menginspirasi masyarakat Jawa untuk membuat Gamelan Jawa.

Pada relief di bangunan candi-candi seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur, memiliki tradisi membuat nyanyian untuk para dewa.

Versi lain masih menurut Yudoyono (dalam Prasetyo, 2012), R.P. Projo Sastro Prabowo mengungkapkan bahwa Gamelan Jawa diciptaan oleh “Batara Guru” atau nenek moyang manusia Jawa yang sangat sakti. Ciptaan tersebut masih dalam bentuk alat musik membranofon atau alat musik pukul dari kulit sapi. Diperkirakan pada tahun 227 Saka atau 355 Masehi.

Filosofi instrumen Gamelan Jawa

Setiap instrumen yang ada untuk Gamelan Jawa memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan. Instrumen tersebut antara lain:

Kendhang

Berperan sebagai pemimpin dalam permainan musik gamelan. Sebagai kendali irama cepat atau lambat. Pengambilan nama kendhang dari bunyi alat musik saat dimainkan.

Kendhang | Sumber: Wikipedia.id

Kendhang sendiri memiliki filosofi “ndang” sebagai arti agar bersegeralah dalam beribadah kepada sang Maha Pencipta.

Selain itu, arti lainnya adalah manusia harus segera melaksanakan aktivitas sesudah bengun pagi, dengan begitu rezeki akan datang padanya.

Bonang Barung dan Bonang Penerus

Bonang memiliki bunyi “nang” saat dimainkan. Bunyi tersebut diartikan sebagai setelah manusia lahir, manusia harus bisa berpikir dengan hati jernih, sehingga keputusan diambil penuh kesadaran.

Bonang | Sumber: Kampungbudaya.com

Saron

Berasal dari Bahasa Jawa sero yang artinya keras. Instrumen ini terbuat dari bahan besi dan berbentuk seperti lesung kecil. Saron mengajarkan manusia agar senantiasa lantang dalam menyuarakan kebenaran.

Saron | Sumber: Budayajawa.id

Gender

Berasal dari gendera atau bendera sebagai simbol permulaan. Sebagai permulaan gending maupun sebagai permulaan kehidupan.

Gender | Sumber: Kamerabudaya.com

Gambang

Berarti seimbang dan jelas, menunjukkan adanya keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Manusia juga harus jelas mengenai apa yang ingin dilakukan serta keseimbangan kebutuhan lahir dan batin.

Gambang | Sumber: dapurethnic.com

Suling

Terbuat dari bambu dan cara memainkannya dengan ditiup. Suling diartikan sebagai eling, yakni ingat. Agar manusia selalu ingat akan kewajibannya.

Suling | Sumber: Omeka1.grinell.edu

Siter

Berasal dari kata siteran dan dimainkan dengan dipetik. Makna filosofinya adalah manusia harus mampu mengantarkan atau membimbing orang lain pada suatu tujuan baik.

Siter | Sumber: Kamerabudaya.id

Rebab

Dibunyikan jika “gender” tidak ada. Mengandung makna agar manusia dalam melakukan sesuatu harus memiliki tujuan yang jelas. Agar tindakan yang dilakukan tidak menyimpang.

Rebab | Sumber: Dictio.id

Kethuk

Mengeluarkan bunyi “thuk” jika ditabuh. Diartikan sebagai manthuk yaitu setuju. Maksud dari makna tersebut adalah manusia haruslah setuju dengan semua perintah dan larangan Sang Pencipta.

Kethuk, Kempul, Gong | Sumber: Budayajawa.id

Kempul

Instrumen mirip gong tapi berukuran lebih kecil. Dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai kumpul, yakni ajakan untuk berjamaah dalam beribadah. Berkumpul dengan manusia lain. Tidak boleh egois menjadi manusia.

Gong

Gong memiliki bentuk besar dan menimbulkan suara “gooongg”. Bermakna agar manusia selalu mengakhiri hidupnya dengan sempurna.

Instrumen-instrumen gamelan memiliki filosofi yang luar biasa mengenai kehidupan manusia. Gamelan juga sangat menarik untuk dipelajari. Dulunya tidak suka mungkin setelah mencoba akan menjadi suka.

Catatan Kaki: kompasiana.com | budayajawa.id | 1001indonesia.net | lib.ui.ac.id

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga42%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang27%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi12%
Pilih TerpukauTerpukau8%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Berkunjung ke Lasem, Membuat Hati Adem Sebelummnya

Berkunjung ke Lasem, Membuat Hati Adem

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat Selanjutnya

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.