Uang Japuik, Adat Unik Menikahi Lelaki Padang Pariaman

Uang Japuik, Adat Unik Menikahi Lelaki Padang Pariaman

Pernikahan Adat Minang © Weddingku

Yang pertama saya lihat ketika membuka akun Instagram adalah banyaknya perayaan pernikahan teman-teman saya.

Tidak iri, sih. Saya justru tertarik dengan berbagai macam adat pernikahan yang ada di Indonesia.

Saya sendiri juga berasal dari keluarga Bugis, yang memiliki adat uang panai dalam tradisi pernikahan.

Menurut budaya Bugis, uang panai merupakan sejumlah harta yang diberikan mempelai pria untuk keluarga wanita yang akan dinikahi.

Kemudian saya mengetahui bahwa terdapat etnis Minangkabau juga memiliki tradisi unik dalam adat pernikahannya.

Pernikahan adat Minang | Sumber: Weddingku

Filosofi hidup Minangkabau

Setiap etnis di Indonesia memiliki pandangan sendiri tentang kehidupan. Salah satunya adalah etnis Minangkabau yang memiliki pemahaman alam takambang manjadi guru, atau artinya alam terkembang menjadi guru.

Adat Minangkabau menganut sistem matrilineal, yaitu anggapan bahwa ibu adalah sumber perkembangan dari kehidupan.

Segala budi pekerti dan perilaku dalam kehidupan yang baik berasal dari ibu yang baik yang melahirkan insan yang baik pula.

Maka dari itu, masyarakat Minang akan memprioritaskan kaum ibu. Ini disebabkan karena kaum ibu memiliki kodrat dan kemampuan yang lemah dibanding kaum laki-laki.

Ditambah juga dengan kaum ibu yang tidak sebebas kaum laki-laki, sehingga perlu dihormati dan dilindungi.

Anak laki-laki yang sudah cukup dewasa dan mengenal uang, maka mereka tidak lagi tinggal bersama orang tuanya lagi di Rumah Gadang.

Mereka harus tidur di surau atau masjid. Berbeda dengan anak perempuan yang tetap tinggal bersama orang tua di rumah gadang.

Rumah Gadang khas Minangkabau | Sumber: Kemendikbud

Lelaki dan Uang Japuik

Adat pernikahan yang menggunakan uang japuik ini hanya ada di Padang Pariaman, salah satu kabupaten kecil di Sumatra Barat.

Lelaki Padang Pariaman meskipun banyak yang merantau ke kota-kota besar di Sumatra Barat, namun tetap mempertahankan tradisi daerah asal, termasuk adat pernikahan.

Adat Minangkabau juga melihat laki-laki ketika menikah dan menjadi suami adalah pendatang di keluarga isrinya.

Menganut sistem matrilokal, laki-laki Minang yang telah menikah berstatus sebagai urang sumando, yang artinya seorang pendatang.

Sehingga keluarga istri menghormati dan memperlakukan pendatang sebaik-baiknya. Maka dari itu di Minangkabau memiliki nilai moral datang karano dipanggia, tibo karano dijapuik, yang artinya datang karena dipanggil, tiba karena dijemput.

Dalam proses pernikahan pun, sang laki-laki yang diantar ke rumah istrinya. Kemudian keluarga istri akan menjemput untuk menunjukkan ketulusan hati menerima kedatangan mempelai laki-laki.

Sebaliknya, keluarga mempelai laki-laki akan mengantarkan secara adat sebagai tanda bahwa keluarga telah ikhlas melepaskan. Inilah alasan laki-laki dalam adat Minang disebut sebagai orang jemputan.

Akad nikah Minang | Sumber: YouTube

Proses pemberian Uang Japuik

Terdapat beberapa kesalahpahaman bahwa uang japuik digunakan untuk "membeli" calon mempelai laki-laki.

Namun sebenarnya justru uang japuik diberikan sebagai tanda memuliakan laki-laki. Ini disebabkan oleh pandangan masyarakat Minangkabau yang memuliakan kaum ibu.

Seluruh harta warisan dan Rumah Gadang akan diberikan pada kaum ibu, sehingga laki-laki yang akan menikah diberikan uang "jemputan" ini untuk meningkatkan derajatnya.

Nominal Uang Japuik ini berbeda-beda tergantung status sosial laki-laki dan musyawarah dari kedua keluarga besar.

Jika saat ini bisa menggunakan uang, dulu dihitung menggunakan satuan ameh atau emas. Satu ameh setara dengan 2,5 gram emas.

Setelah proses pernikahan dan pemberian Uang Japuik selesai, maka akan ada tradisi manjalang mintuo, yaitu mengembalikan "uang jemputan" dalam bentuk perhiasan pada sang istri.

Makna dalam yang terkandung dalam setiap proses ritual dari adat di Indonesia membuat saya menghargai kekayaan negeri ini.


Catatan kaki: Ririanty Yunita, dkk/UANG JAPUIK DALAM ADAT PERKAWINAN PADANG PARIAMAN DI BANDAR LAMPUNG | Hipwee

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau30%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mengulas Sejarah Kesenian Ketoprak Sebelummnya

Mengulas Sejarah Kesenian Ketoprak

Minang dan Kabau: Nama Kecil Kota Padang Selanjutnya

Minang dan Kabau: Nama Kecil Kota Padang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.