Dari Sarung, Suku Tengger Bisa Melihat Status Pernikahan

Dari Sarung, Suku Tengger Bisa Melihat Status Pernikahan

Keseharian Suku Tengger © Winona Araminta

Keindahan Gunung Bromo yang menawan menyebabkan tingkat kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara melonjak, dengan begitu pula Gunung Bromo masuk ke dalam program 10 Bali Baru yang dicanangkan oleh pemerintah. Gunung yang terletak di Probolinggo ini tak hanya menyajikan panorama yang indah, namun juga terdapat keunikan-keunikan lain yang ada di wilayah tersebut.

Perayaan upacara Yadnya Kasada l Sumber: zabur karuru

Kawasan ini dihuni oleh masyarakat Suku Tengger. Suku ini sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit yakni pada abad ke 16. Suku Tengger memiliki beberapa tradisi seperti Upacara Yadnya Kasada, Ritual Meminta Hujan (Ojung), Hari Raya Masyarakat Tengger (Karo), dan masih banyak lagi. Tradisi-tradisi yang dilakukan di kawasan bromo ini menarik kunjungan wisatawan yang sangat melimpah.

Suku Tengger juga memiliki tata bahasa serta sistem penanggalan yang berbeda. Tata Bahasa Suku Tengger menggunakan Bahasa Kawi dan beberapa kosakata Bahasa Jawa kuno yang sudah jarang digunakan masyarakat Jawa. Sistem penanggalan Suku Tengger terdiri dari 12 bulan yang memiliki nama bulan berbeda dengan penanggalan pada umumnya,

Kawasan Gunung Bromo memiliki ketinggian kurang lebih 2.329 Meter diatas permukaan laut. Tak heran jika suhu di kawasan ini mencapai minus 4 derajat. Hal ini membuat para wisatawan selalu memakai pakaian yang tebal agar tetap hangat.

Penduduk sekitar kawasan Gunung Bromo l Sumber: bromo-tour

Jangan heran jika kawan GNFI berkunjung ke Gunung Bromo bertemu dengan penduduk asli Suku Tengger yang hampir seluruhnya menggunakan sarung dalam segala aktivitasnya. Sebagian orang menggunakan sarung sebagai pakaian salat, ronda, dan juga acara-acara khusus.

Berbeda dengan para wisatawan yang menggunakan jaket setiap mengunjungi kawasan Gunung Bromo, Suku Tengger menggunakan kain sarung sebagai pelindung dan penghangat tubuh. Tak hanya berfungsi sebagai kain penghangat tubuh. Sarung yang dikenakan penduduk Suku Tengger juga memiliki kegunaan dan makna yang berbeda-beda.

Dikutip dari Budaya-Indonesia.Org, Pak Subi salah seorang petugas penyewaan kuda mengatakan bahwa penduduk Suku Tengger menggunakan sarung dengan makna yang berbeda-beda.

Bagi kaum laki-laki, sarung berguna sebagai formalitas, bergaya, hingga atribut penunjang untuk bekerja. Terdapat beberapa cara memakai sarung pada kaum laki-laki yaitu Sengkletan, sarung dipakai dengan cara diselempangkan, model pemakaian sarung ini merupakan yang paling umum digunakan.

Selanjutnya Sempetan, melipat sarung hingga batas pinggang layaknya pemakaian sarung yang biasa digunakan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Contoh penggunaan sarung pada kaum perempuan Suku Tengger l Sumber: sendy

Penggunaan sarung tak hanya pada kaum laki-laki melainkan juga pada kaum perempuan. Berbeda dengan kaum laki-laki, penggunaan sarung pada kaum perempuan memiliki arti yang cukup mendalam dan khas.

Kaum perempuan biasa menggunakan sarung sebagai penanda status sosial. Sarung yang digunakan dengan menyimpulkan ke belakang menandakan bahwa mereka masih gadis dan belum memiliki pasangan, sedangkan sarung yang disimpulkan dipundak sebelah kanan menandakan bahwa mereka masih gadis tapi sudah memiliki pasangan.

Sarung yang disimpulkan ke depan menandakan bahwa perempuan tersebut sudah menikah, dan penggunaan sarung bagi kaum perempuan yang terakhir yaitu dengan menyimpul sarung di pundah sebelah kiri yang menandakan bahwa perempuan itu sudah menjadi seorang janda.

Penduduk Suku Tengger menganggap sarung merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, tak hanya itu, sarung juga menjadi kebanggaan Suku Tengger, bahkan Suku Tengger juga mempertaruhkan harga dirinya jika bersangkutan dengan sarung.


Catatan kaki: kompasiana.com l budaya-indonesia.org l romadecade.org

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang30%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau40%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

QR Code Indonesia Standard (QRIS). Sudah sampai mana? Sebelummnya

QR Code Indonesia Standard (QRIS). Sudah sampai mana?

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna Selanjutnya

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna

Atika Puji
@atikaapjpw

Atika Puji

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.