Foto: Edukasi Kopi di Kaki Gunung Kawi? Seperti Apa?

Foto: Edukasi Kopi di Kaki Gunung Kawi? Seperti Apa?

Teguh Suwiyono, anggota Gapoktan Mekar Tani memperlihatkan proses penjemuran kopi didalam green house berukuran 4×6 meter yang baru dibuat sebulan ini © Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

  • Saat ini merupakan momen yang tepat mengikuti edukasi kopi ketika petani Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Malang, Jatim memanen dan mengolah biji kopi
  • Edukasi kopi merupakan acara mengenal kopi, mulai dari teknik pemetikan biji kopi di kebun, pemrosesan, sampai observasi rasa kopi (coffe cupping/coffe tasting) sebelum kopi diseduh
  • Ada sekitar 400 petani kopi di Desa Jambuwer, dan 27 petani tergabung dalam Gapoktan Mekar Tani. Mereka mendapat pendampingan budidaya dan pascapanen dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang
  • Kopi Jambuwer bahkan pernah juara pada festival kopi di Bondowoso, yang makin memotivasi pengembangan kopi merah itu

Bila mendengar kata Gunung Kawi, mungkin akan langsung terbayangkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ritual-ritual pesugihan untuk mencari kekayaan.

Hal itu tidak salah. Akan tetapi ada yang beda dengan warga di Desa Jambuwer Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Satu desa yang terletak di lereng selatan Gunung Kawi, berketinggian 433 meter diatas permukaan air laut. Warga desanya mencari kekayaan lewat biji kopi.

Seperti saat ini, terlihat biji kopi terserak di halaman depan rumah sebagian warga Desa Jambuwer. Pada bulan-bulan ini, warga mulai beraktifitas menjemur kopi usai panen. Salah satunya yaitu Teguh Suwiyono. Dibandingkan dengan kopi yang ada didepan rumah warga lainya, kopi milik Teguh ini nampak berbeda. Warga lain menjemur di halaman depan rumah ala kadarnya, milik Teguh ini dijemur didalam green house berukuran 4×6 meter yang baru dibuat sebulan ini.

“Dengan begini kualitas kopi bisa lebih bagus, harganya pun berbeda,” kata Teguh mengawali pembicaraan sembari menunggu rekan-rekannya yang akan berkunjung ke rumah. Kebetulan, hari itu dia bersama rekannya sedang mengadakan acara edukasi kopi. Mengenal kopi dari kebun hingga proses coffe cupping atau sering disebut juga dengan coffe tasting, merupakan proses observasi rasa sebelum kopi diseduh dalam cangkir untuk para penikmat.

Satu persatu rekan mulai berdatangan, ada puluhan orang, dari Komunitas Kedai Kopi, sebuah wadah perkumpulan penikmat kopi dan pemilik kedai, perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, dan juga rekan sesama petani.

Peserta menunjukkan biji kopi yang dijemur di dalam green house di Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Malang, Jatim, Selasa (10/07/2019) | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Buah kopi yang dipetik selektif dan setengah selektif, yaitu dilakukan pada semua buah dalam satu dompol yang warnanya sudah merah semuanya | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Mengenal Kopi dari Petani

Rumah Teguh adalah titik start perjalanan untuk mengenal kopi dari kebun yang berjarak kurang lebih sekitar 700 meter. Sekitar pukul 10.00 WIB pada Selasa (10/07/2019) lalu sejumlah peserta yang hadir sudah kumpul di kebun kopi.

Kusnari, yang juga seorang petani di daerah tersebut sudah siap untuk memandu para peserta. Dia tidak menggunakan topi, karena baginya pohon kopi yang rimbun dibawah tegakan pohon sengon (Albizia chinensis) melindungi dari sinar matahari, artinya tidak terlalu menembus kulit karena tertutup rimbunya daun-daun. Dengan memakai kaos oblong bertuliskan “Tanaman Subur Petani Makmur” itu, Kus menjelaskan bagaimana caranya memetik kopi dengan baik.

Buah kopi tidak dipanen secara serentak, namun proses pemetikannya dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama yaitu pemetikan secara selektif, itu dilakukan hanya pada buah yang berwarna merah penuh atau telah matang dengan sempurna. Kemudian, pemetikan secara setengah selektif, yaitu dilakukan pada semua buah dalam satu dompol yang warnanya sudah merah semuanya.

Petani dari Gapoktan Mekar Tani mencontohkan cara memetik buah kopi dengan baik di kebun kopi Jambuwer | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Salah satu peserta memetik kopi di kebun kopi Jambuwer. Buah kopi tidak dipanen secara serentak, namun proses pemetikanya dilakukan dengan beberapa tahapan | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Pemetikan selanjutnya adalah dengan cara serentak atau petik racutan, hal itu dilakukan terhadap semua buah kopi dari semua dompolan dipetik habis, termasuk yang berwarna hijau.

Untuk pemetikan seperti ini, kata Kus, biasanya dilakukan pada akhir musim panen. Ada pula lelesan, yaitu pemanenan dengan memungut buah kopi yang jatuh dari tangkainya karena sudah kelewat matang.

Kus melanjutkan, untuk menjaga agar tanaman kopi tetap produktif, maka pemetikan harus dilakukan dengan cara yang benar, mencabut buah kopi dengan cara tegak lurus. Hal itu dilakukan agar tidak merusak pada tangkai buah, sehingga nantinya tangkai itu akan kembali ditumbuhi buah kopi lagi.

Buah kopi yang dipetik oleh salah satu peserta di kebun kopi Jambuwer. Pemetikan dilakukan secara selektif, dilakukan pada buah yang berwarna merah penuh | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Peserta istirahat usai memetik kopi di kebun kopi Jambuwer | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Tidak hanya Kus, Teguh yang juga sesama anggota di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mekar Tani Jambuwer ini juga turut menjelaskan, setelah kopi dipanen dari kebun, kemudian sebagian akan diolah ditempat pengolahan Gapoktan sampai kering.

“Kalau sudah kering, sebagian disimpan, yang jelas kita sudah punya langganan kedai atau coffe shop sendiri, otomatis selain petik kita juga melakukan proses roasting (pemanggangan biji kopi mentah) dengan baik,” jelas Teguh, sambil membawa rinjingyang terbuat dari bambu, tempat untuk memanen kopi.

Para peserta terlihat antusias mendengarkan penjelasan dari kedua petani tersebut, seolah tidak sabar ingin segera memetik kopi yang berada di lereng gunung Kawi itu. Nunung salah satunya, perempuan asal Kepanjen ini mengaku seumur-umur baru pertama kali datang ke kebun kopi. Ia merasa senang, sehingga muncul dibenaknya untuk membuat usaha kedai kopi. Selama ini, dia merasa hanya sebagai penikmat kopi saja. Tanpa mengetahui bagaimana proses dari petani.

“Memetik saja ada caranya, jadi tidak langsung semua. Ada seninya,” ujar perempuan berumur 50 tahun itu.

Peserta mengamati kopi yang dijemur di dalam green house di Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Malang, Jatim, Selasa (10/07/2019) | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Potensi Kopi Jambuwer

Sita Rissanti, petugas dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang mengatakan, di Jambuwer ada sekitar 400an petani. Dan 27 petani tergabung dalam Gapoktan Mekar Tani. Ia mengaku, pihaknya selalu memberikan pendampingan ke petani kopi Jambuwer, baik berupa Bimbingan Teknis (Bimtek) maupun menjembatani para petani untuk mengikuti acara festival atau pameran.

“Pernah juara tiga saat festival kopi di Bondowoso, dari situ kita semakin semangat untuk mengembangkan kopi merah Jambuwer,” tutur Sita, yang sudah mendampingi Petani dari tahun 2016 ini.

Dia melanjutkan, pihaknya juga pernah memfasilitasi alat pemrosesan kopi berupa mesin kopi roaster, satu set alat seduh, dan mesin grender kopi untuk menunjang kegiatan Gapoktan Merkar Tani dalam mengolah kopi pascapanen.

Setelah dari kebun, peserta diajak untuk mengetahui bagaimana proses cupping atau coffe tasting, proses observasi rasa sebelum diseduh | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Peserta berdiskusi sebelum ke kebun sembari menikmati kopi hasil dari petani kopi Jambuwer | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Christina Damayanti, salah satu barista di Malang. Setelah melakukan cupping,dia mengatakan, kopi Jambuwer sebetulnya memiliki potensi untuk lebih dikembangkan lagi, tinggal bagaimana cara pemrosesan, atau cara treatmen hasil setelah petik. “Dari hasil cupping hari ini rasa cenderung gurih, manis, tapi masih ada beberapa yang cacat rasa, seperi rasa sepet, itu di karena penyimpanan yang kurang baik,” ungkap perempuan yang pernah menjadi pramusaji itu.

Ia berpesan, kedepan harus ada satu parameter, atau ada orang yang berkompeten mau melakukan pendampingan ke petani, mengajari bagaimana cara memproses kopi dengan baik, dari proses petik hingga proses penyimpanan. Supaya hasilnya juga bisa maksimal, harga bisa lebih mahal. Tentunya petani lebih sejahtera, dan bisa mandiri dalam menentukan harga.

Peserta melakukan proses cupping atau coffe tasting hasil kopi kebun Jambuwer | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Giacomo Tabacco, salah satu peserta dari Italia mencicipi kopi hasil petani kopi Jambuwer | Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia


Catatan kaki: Ditulis oleh Falahi Mubarok dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pisang hingga Talas, Produk Siap Ekspor dari Bawah Rindangnya Hutan Desa Burno Sebelummnya

Pisang hingga Talas, Produk Siap Ekspor dari Bawah Rindangnya Hutan Desa Burno

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia Selanjutnya

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.