Perubahan Cepat dan Nostalgia Masa Lalu di Kota 'Pahlawan Merah'

Perubahan Cepat dan Nostalgia Masa Lalu di Kota 'Pahlawan Merah'

Subakhtar Square di pusat Ulaanbataar © Lonely Planet

Mempesona, luas, tanpa ujung, tanpa batas. Hamparan padang rumput maha luas, bergunung-gunung, tak ada pohon, tanpa jeda. Permukaannya berbayang awan yang menggantung, indah diantara gelimang matahari musim panas. Udara yang cukup sejuk di pagi hari, diiringi hembusan angin dari utara yang bergerak pelan. Di kejauhan, di balik bukit kecil di Ar-dulaan, terlihat 3 bangunan berwarna putih khas masyarakat Mongolia yang diberi nama Ger. Pun beberapa ekor kuda, yak, dan unta, dan anak anak kecil yang sedang bermain dengan kambing-kambing Cashmere yang berbulu tebal.

s
Hamparan stepa yang luas tak berbatas | Akhyari Hananto

Inilah Mongolia. Negeri yang luasnya hampir sama dengan luas gabungan pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Negeri dengan padang stepa yang begitu luas, negeri dengan orang-orang yang terkenal ramah dan murah senyum, dengan gaya hidup yang tak berubah sejak berabad lalu. Negeri dengan penduduk paling jarang di dunia yang ditinggali masyarakat nomaden terakhir yang masih aktif di dunia. Separuh dari orang Mongolia menjalani gaya hidup pastoral yang tak berubah sejak zaman Jengis Khan delapan abad lalu. Seiring waktu, makin banyak orang Mongolia yang memilih pindah dan hidup permanen di Ulaanbaatar, meski masih banyak, namun karena hal itulah, masyarakat nomaden sudah berkurang jumlahnya. Perubahan sedang terjadi dengan cepat di negeri itu, bisa jadi, inilah saat yang tepat untuk berkunjung.

Ekplorasi Ibukota

Jika padang stepa nan luas dan masyarakat nomadennya adalah Yin, maka Ulaanbaatar adalah Yang -nya. Ulaanbaatar telah menjadi satu-satunya tempat yang bisa disebut kota di Mongolia. Kota yang telah menjelma menjadi kota industri dan padat penduduk ini dijejali dengan kerumunan apartemen era Soviet berwujud kotak-kotak yang telah dimakan usia, juga ger yang dipasang permanen, pun bangunan-bangunan tinggi modern dan mengkilap buatan Tiongkok.

s
Mal Sangri-La |Akhyari Hananto

Seluruh sentra kegiatan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kesenian, ada di Ulaanbataar. Ekonomi sedang tumbuh cepat di Mongolia sejak beberapa tahun ini, dan Ulaanbataar adalah etalasenya. Deretan Toyota Prius dan Land Cruiser, bersanding dengan mobil-mobil mewah Eropa dan mobil-mobil UAZ peninggalan Uni Sovyet. Outlet Armani juga telah buka di kota ini sejak 2010, tak jauh dari Gobi Cashmere, satu-satunya produk Mongolia yang mendunia.

c
Mobil paling banyak di Ulaanbataar, Toyota Prius | Globe and Mail

Detak pembangunan makin terasa di kawasan selatan kota ini, di mana bangunan-bangunan baru, jalan 4 jalur, dan juga mall dan ruang publik dibangun dengan cepat. Sebuah paradoks ketika melihat pembangunan-pembangunan yang serba cepat (dari investor-investor Tiongkok) ini dari Zaisan Memorial yang terletak di atas bukit, tempat dimana glorifikasi komunisme begitu terasa. Inilah tempat yang menggambarkan perjuangan bersama Mongolia dan Sovyet dalam mengusir para penyerbu di Perang Dunia II, yakni Jepang, dan Nazi. Dari titik ini, kita bisa melihat Ulaanbataar dari ujung ke ujung, dari Shangri-La Tower (gedung tertinggi di Mongolia), hingga ribuan ger-ger yang tersebar di perbukitan di Songhino Khairkhan.

s
Zaisan Memorial | Travel Weekly

Kota ini memang tidak bisa dikatakan sebagai kota besar. Penduduknya sekitar 1.5 juta orang. Hampir sama dengan populasi kota Palembang. Meski begitu, luas wilayah Ulanbatar lebih dari 10 kali luas Palembang, atau 2 kali lipat luas Palangkaraya, kota terluas di Indonesua. Menariknya, separuh populasi Mongolia tinggal di kota yang mempunyai arti "Red Hero" atau Pahlawan Merah ini.

s
Gobi Cashmere, produk yang mendunia | Akhyari Hananto

Sebagai pusat pertumbuhan, kini banyak pusat-pusat keramaian, dan gedung-gedung bisnis baru yang sudah dan sedang dibangun. Pemerintah Mongolia juga mendorong pembangunan apartemen-apartemen modern baru untuk menampung ratusan ribu penduduk Ulaanbataar yang tinggal di ger-ger di sekitar kota, dan menggantikan rumah-rumah susun peninggalan era Sovyet. Hal inilah yang membuat garis langit (skyline) Ulaanbataar berubah sangat cepat.

s
Jalan lebar, bis modern, dan bangunan gaya Russia | Akhyari Hananto

Yang menarik, pemerintah kota itu sejak lama menaruh perhatian besar pada ruang-ruang terbuka yang menjadi tempat bertemu banyak orang. Di pusat-pusat kota, tak ada jejalan rumah-rumah penduduk. Hanya blok-blok khas Russia dan ruang terbuka di antaranya. Di saat musim panas (summer) taman-taman kota juga tumbuh sempurna sebagai penghias alami kota. Kota ini tergolong bersih dari sampah. Saya tak melihat tumpukan ataupun serakan sampah di ruang terbuka. Di pusat-pusat keramaianpun, terlihat banyak orang yang lebih memilih berjalan ke tempat-tempat sampah dibandingkan dibuang sembarangan.

s
Keramaian di Sukhbatar Square memperingati hari nasional | Akhyari Hananto

Arus modernisasi makin tak terbendung di kota ini. Selain gedung-gedung modern dan mobil-mobil teknologi hybrid, masyarakat Ulaanbataar juga mulai sangat terbiasa dengan budaya luar, terutama dari barat dan Tiongkok. Gaya pakaian, lifestyle, sudah tak beda jauh dengan kota-kota lain di Asia. Anak-anak mudanya juga tak lagi menonton TV atau membaca koran. Gantinya, Instagram dan Youtube menjadi dua platform terpopuler untuk mencari informasi dan hiburan. Banyak startup-startup baru yang khusus memproduksi konten-konten digital untuk Instagram, Youtube, atau Facebook. Menurut laporan dari Hootsuite (Januari 2019), pengguna internet di Mongolia adalah 70% dari jumlah penduduk, dan hampir 100%-nya adalah pengguna sosial media aktif.

Polisi Modern dan Nostalgia

Seragam polisi pun kini makin mentereng dengan warna biru gelap dengan mobil-mobil police ber-livery khas barat. Dulunya, mobil polisi adalah berupa minivan UAZ produksi Russia dengan warna putih dan hijau tua yang terkesan kuno dan kurang modern. Kini mobil-mobil polisi diganti dengan KIA All New Rio dan livery dan signage POLICE dalam bahasa Inggris.

ds
Mobil polisi dengan livery modern khas barat | Akhyari Hananto

"Saya tak rindu dan tak ingin bernostalgia ke era komunisme, tapi rasanya, kota ini sudah berubah terlalu cepat. Saya takut, anak-anak muda ini tak lagi mengenal akarnya" kata Altansarnai, seorang guru perempuan yang saya temui di Zaisan Memorial. "Sedikit demi sedikit, kami akan lupa pada tradisi, dan karakter bangsa Mongolia" lanjutnya dalam bahasa Inggris yang lancar.

Bisa jadi, Antansarnai tak sepenuhnya salah. Namun, ada satu hal yang tak berubah dari kota ini. Yakni keamanannya. Saya diingatkan oleh kawan, seorang mahasiswa di National University of Mongolia, bahwa saya bahwa saya bisa berjalan kaki ke manapun (kota ini punya trotoar yang lapang dan panjang), pulang jam berapapun, dan tak akan ada hal buruk yang terjadi.

Yang jelas, kota ini adalah 'dunia yang berbeda' dari akar Mongolia. Wajib kunjung memang, karena kita akan disuguhi hal-hal yang tak kita dapati di Indonesia. Nikmati Ulaanbataar setidaknya 3 hari. Kunjungi museumnya, dan sempat menyaksikan pertunjukan teaternya yang luar biasa, nikmati kulinernya yang murah dan cukup beragam. Setelahnya, tinggalkan ibukota, dan nikmati Mongolia yang sesungguhnya, jauh di luar kota, karena tak ada traveler yang ke Mongolia dan hanya berdiam diri di sana.

(Bersambung)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Atlet Karate Indonesia Raih 3 Medali di Ceko Sebelummnya

Atlet Karate Indonesia Raih 3 Medali di Ceko

Bertambah Lagi Opsi Perjalanan Udara Jayapura-Timika Selanjutnya

Bertambah Lagi Opsi Perjalanan Udara Jayapura-Timika

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.