Merawat Gigi Secara Tradisional Ala Orang Indonesia

Merawat Gigi Secara Tradisional Ala Orang Indonesia

Ramuan sirih pinang © Detik.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pasta gigi atau di Indonesia biasanya disebut dengan odol atau tapal gigi, menjadi kebutuhan manusia yang tidak boleh dilewatkan. Odol sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi segala kebutuhan kebersihan mulut seperti perawatan gigi, gusi, mulut dan tenggorokan.

Odol masuk ke pasaran pada tahun 1903 dan di tahun berikutnya diperkirakan masuk ke pasar Indonesia. Jika pasta gigi baru masuk di tahun 1900-an, lantas sebelum pasta gigi populer dan akhirnya banyak digunakan, bagaimana orang Indonesia merawat gigi mereka?

Mungkin orang tua kalian atau nenek-kakek pernah bercerita tentang bagaimana mereka merawat gigi. batu bata. arang, hingga daun sirih menjadi bahan-bahan yang digunakan orang-orang untuk merawat gigi.

Saat ini masyarakat sudah jarang yang menggunakan bahan-bahan alami tersebut dan lebih memilih menggunakan pasta gigi. Tapi, tidak ada salahnya mengenal cara kakek nenek kita merawat gigi mereka, karena bahkan ada yang menjadi tradisi..

Merawat gigi dengan makan sirih

Sirih atau piper betel merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Tanaman ini memiliki beberapa variasi seperti sirih hijau, sirih kuning, sirih kaki merpati, sirih merah, dan sirih hitam.

Tradisi merawat gigi dengan makan sirih sudah lama dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Biasanya disebut dengan nginang dalam Bahasa Jawa. Sirih pinang memiliki beberapa tambahan komponen yang harus ada sebagai pelengkap.

Ramuan sirih pinang | Sumber: Kompasiana.com

Pelengkap tersebut antara lain adalah daun sirih, pinang kapur (basah/mentah atau kering), gambir, dan tembakau. Beberapa orang juga menambahkan kapulaga ke dalam ramuaan sirih pinang mereka.

Tradisi nginang bisa ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua. Di Jawa biasanya tidak menggunakan pinang tetapi menggunakan kapur mentah, sedangkan di Papua dan NTT menggunakan kapur kering. Sirih akan ditumbuk menggunakan lesung kecil.

Sirih yang dikonsumsi akan menghasilkan ludah berwarna merah dan serat-serat buah pinang. Ludah tersebut akan disimpan di dalam tempolong sebelum akhirnya dibuang setelah penuh. Namun makan sirih bisa menyebabkan kecanduan seperti halnya ketika merokok, karena biji pinang yang menjadi campuran mengandung zat psikoaktif yang kirip dengan nikotin, alkohol, dan kafein.

Aktivitas tersebut dipercaya dapat menjaga kesehatan gigi dan sistem pencernaan. Gigi akan menjadi lebih kuat karena ketika mengunyah sirih akan memicu produksi air liur. Air liur sendiri mengandung banyak jenis protein yang bisa menjaga kekuatan gigi. Air liur juga dapat membantu mengikat dan melembutkan makanan sehingga mudah untuk menuju usus.

Cara yang lebih sederhana untuk menggunakan daun sirih adalah merendam rebus daun sirih dan air hasil rebusan akan dipakai berkumur. Sedangkan daunnya bisa digosokkan ke gigi.

Menggunakan batu bata

Selain tradisi pinang sirih, masyarakat zaman dulu juga menggunakan batu bata. Cara menggunakannya lebih sederhana dari tradisi pinang sirih. Hanya perlu menghaluskan batu bata yang kemudian digosok-gosokkan dengan jari ke gigi.

Setelah itu pastinya harus berkumur. Batu bata diyakini dapat memutihkan gigi. Batu bata mengandung fluoride yang juga bermanfaat untuk gigi seperti mengontrol kerusakan gigi.

Penggunaan Batu Bata Untuk GIgi | Sumber: Nakita.id

Manggunakan arang

Beberapa waktu lalu memutihkan gigi dengan arang menjadi tren. Sebelum itu masyarakat zaman dahulu juga sudah menggunakan arang sebagai pasta gigi. Kakek dan nenek juga sempat bercerita soal ini.

Arang | Sumber: Kompas.com

Arang menjadi salah satu inspirasi merk pasta gigi. Merk tersebut mengeluarkan pasta gigi yang mengandung charcoal.

Penggunaan arang untuk memutihkan gigi dengan 2-3 kali. Namun dari dokter gigi penggunaan arang aktif secara terus menerus dapat merusak enamel dan menyebabkan erosi pada gigi. Jadi jangan terlalu sering ya kawan.

Untuk penggunaannya hampir sama dengan penggunaan batu bata. Arang akan dihaluskan dan digosokkan ke gigi.

Catatan Kaki: detik.com | boombastis.com | damniloveindonesia.com | journal.uny.ac.id

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih50%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Inilah Kebun Binatang Pertama di Indonesia Sebelummnya

Inilah Kebun Binatang Pertama di Indonesia

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.