Mata Uang Digital Facebook Harus Diwaspadai Indonesia

Mata Uang Digital Facebook Harus Diwaspadai Indonesia

Ilustrasi media sosial Facebook © William Iven/Unsplash

Thomas L. Friedman, seorang kolumnis terkenal Amerika Serikat dalam bukunya “Longitudes & Attitudes, Exploring the World After September 11” (2002) pernah mengatakan bahwa keseimbangan kekuasaan dalam sistem globalisasi adalah antara negara-negara dan pasar global.

"Between nation–states and global markets. These global markets are made up of million investors moving money around the world with the click of a mouse. I call them the Electronic Herd, and this herd gathers in key global market financial centers -such as Wall Street, Hong Kong, London, and Frankfurt- which I call the Supermarket”.

Sekarang Electronic Herd, atau sekumpulan, sekelompok elektronik yang dimaksud Thomas Frieddman itu juga termasuk raja-raja media sosial dunia yang memiliki “Big Data”, seperti Facebbok. Ya, kerajaan medsos dunia ini berencana mengeluarkan mata uang digital atau cryptocurrency yang disebut Libra.

Arti Libra sendiri dari ilmu astrologi menggambarkan keadilan, tapi menurut bahasa Romawi kuno menggambarkan satuan berat, sedangkan di Prancis Libra (atau Libre) berarti bebas.

Baru-baru ini tanggal 16 Juli 2019, Kongres Amerika Serikat memanggil Facebook untuk hearing tentang rencana itu. Kongres sangat berkepentingan karena rencana Facebook bisa berbahaya terhadap keperkasaan dolar Amerika, terhadap data pribadi yang bisa disalahgunakan.

BACA JUGA: Intip Uniknya Kantor Facebook Indonesia, Banyak Karya Seniman Lokal Lho!

Hearing itu fokus pada penyelidikan terhadap rencana Facebook tersebut, “Eximining Facebook’s Proposed Digital Currency and Data Privacy Considerations”.

Tidak hanya kongres AS, pemerintahan Trump juga menaruh kekhawatiran yang besar soal rencana itu. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, menyatakan bahwa Departemen Keuangan AS sangat memperhatikan kalau Libra itu dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak pencuci uang atau “money laundering” dan pihak-pihak yang memberi dana pada kegiatan teroris, karena itu masalah ini adalah benar-benar masalah keamanan nasional.

Sebenarnya, bukan Facebook yang memiliki proyek mata uang digital itu, namun Asosiasi Libra, yang mana Facebook ikut mendirikannya. Asosiasi ini akan bertindak sebagai Otoritas Keuangan dalam proyek cryptocurrency ini.

Libra punya ambisi untuk “memberdayakan miliaran orang”, menyebutkan bahwa ada sekitar 1,7 miliar orang dewasa di dunia ini yang tidak memiliki rekening di bank dapat menggunakan mata uang digital ini.

Namun yang perlu diketahui bahwa mata uang Libra ini keberadaannya hanya dalam bentuk digital. Transaksi Libra akan dicatat di Buku Besar dalam bentuk perangkat lunak, yang disebut Blockchain, dan perangkat ini akan diatur oleh para pendiri.

BACA JUGA: Callind, Media Sosial Buatan Anak Bangsa yang akan Menyaingi Facebook dan Whatsapp

Rencana Facebook di atas tidak hanya menarik perhatian serius di Amerika Serikat, tapi juga di Eropa, misalnya Bruno Le Maire. Menteri Keuangan Prancis itu mengatakan bahwa Libra bukan “Mata Uang Berdaulat” yang bisa digunakan oleh pemerintah.

Gubernur Bank of England, Mark Carney, mengatakan bahwa harus ada peraturan yang ketat, sementara anggota Parlemen Eropa dari Jerman, Markus Ferber, mengatakan bahwa para regulator harus “waspada tinggi” terhadap rencana Facebook ini.

Dua Senator dari Partai Republik dan Demokrat di Kongres Amerika Serikat sebenarnya sejak sebelum rencana Facebook itu secara resmi diumumkan, awal bulan Mei 2019 sudah mengirimkan surat kepada CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menanyakan informasi tentang rancana Facebook mengeluarkan mata uang digital ini.

David Marcus, seorang eksekutif Facebook yang bertanggung jawab menjalankan proyek ini, yang menjawab pertanyaan kedua Senator itu.

Dalam sidang hearing di Kongres AS itu, banyak kritikan dari para senator terhadap Facebook, misalnya karena raja medsos ini terkenal dengan kekuasaannya di pasar global dan memiliki reputasi jelek dengan beberapa skandal.

Apa bisa dipercaya oleh publik, karena rencana mata uang digital itu punya potensi disalahgunakan untuk tindakan kriminal. Malahan, Senator Sherrod Browan dari Ohio (Partai Demokrat) menyebut Facebook itu “bahaya”, karena pengguna jejaring sosial ini akan meyetorkan data pribadi mereka bila bergabung dengan proyek Libra.

BACA JUGA: Kini Berdonasi Bisa dengan Cryptocurrency

Bisnis keuangan pada dasarnya adalah bisnis “kepercayaan”. Ada juga Senator yang menyindir bahwa Facebook itu bukan perusahaan, tapi sebuah negara.

Saking khawatirnya, pihak lembaga Legislatif Amerika Serikat terhadap ambisi Facebook di bidang keuangan ini, Sub-Komite DPR AS bidang hukum akan melebarkan penyelidikannya tentang kekuasaan pasar global tidak hanya terhadap Facebook, tapi juga terhadap raja-raja medsos lainnya seperti Google, Amazon, dan Apple.

Meskipun dihujani dengan kritikan-kritikan keras dari anggota parlemen Amerika Serikat dan para pejabat keuangan Eropa, David Marcus yang menjabat eksekutif Facebook, mempertahankan alasan rasional dan ambisi Facebook berencana mengeluarkan mata uang digital ini, dan meyakinkan bahwa rencana Facebook itu terus berjalan meskipun “memerlukan waktu” untuk berusaha, agar rencana itu tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang punya niat jahat seperti pencucian uang dan kegiatan teroris.

Bagi pihak-pihak yang meragukan reputasi Facebook dalam menjaga dan melindungi privasi orang, Facebook meyakinkan bahwa akan bersedia untuk bekerja sama dengan pemerintah, terutama regulator keuangan untuk melindungi privasi nasabahnya.

Facebook juga tetap meyakinkan bahwa ambisinya untuk mengembangkan mata uang digital ini adalah untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi secara cepat dan aman secara global.

BACA JUGA: Uang Japuik, Adat Unik Menikahi Lelaki Padang Pariaman

Memang sebagai ambisi awal, mata uang digital Facebook ini masih menyisakan banyak pertanyaan, misalnya bagaimana mengatur fluktuasi mata uang digital terhadap mata uang lainnya misalnya seperti dolar, euro, dan yen.

Apakah Libra di-backup oleh Reserve atau cadangan dana yang besar, bagaimana mengukur nilai tukar mata uang digital, bagaimana menjaga privasi pengguna mata uang digital ini; meskipun Facebook meyakinkan publik bahwa khusus untuk menjaga privasi ini Facebook membentuk asosiasi pengawas, no profit dengan belasan mitra termasuk PayPal, Uber, Spotify, Visa, dan Master Card.

Kalau toh ambisi Facebook ini masih awal, pihak regulator keuangan di Indonesia tetap harus mengantisipasi dengan regulasi yang tepat, apabila ambisi Facebook menciptakan mata uang digital ini benar-benar terjadi. Sebab, nanti akan terjadi ada mata uang tanpa kedaulatan negara.

Harus disadari juga, saat ini para penentu kebijakan di dunia tidak hanya negara dan para investor global, tapi juga para pencipta sosial media yang menggunakan teknologi informasi super canggih yang mengatur dunia ini, dan menggerakkan uang triliunan hanya dengan mengklik komputer di kamarnya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

"I Love You 3000" Bergema di Radio Amerika Sebelummnya

"I Love You 3000" Bergema di Radio Amerika

Bertambah Lagi Opsi Perjalanan Udara Jayapura-Timika Selanjutnya

Bertambah Lagi Opsi Perjalanan Udara Jayapura-Timika

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.