Tak Hanya Api Cinta Sandhy Sondoro, Api di Madura Juga Tak Pernah Padam

Tak Hanya Api Cinta Sandhy Sondoro, Api di Madura Juga Tak Pernah Padam

Pagar di Api Tak Kunjung Padam © Sibolang.web.id

Mengulik Pulau Madura memang selalu menarik termasuk objek wisatanya. Salah satu objek wisatanya. Api Tak Kunjung Padam, salah satu objek wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di Madura. Terletak di Desa Larangan Tokol, KEcamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Api tersebut berasal dari bawah permukaan tanah atau perut bumi dan tidak akan padam walaupun disiram air. Bahkan ketika hujan, api akan tetap menyala dengan sendirinya. Daerah tersebut dipagari oleh warga. Api yang dihasilkan juga berwarna biru.

Aktivitas warga di Api Tak Kunjung Padam | Sumber: Akucintaindonesia

Walaupun memang berasal dari gas yang ada di dalam perut bumi. Namun masyarakat Madura juga memiliki ceritanya sendiri mengenai api abadi tersebut. Api Tak Kunjung padam disebut dengan “Dhangka”.

Legenda mengenai api tersebut mengenai Ki Moko seseorang yang dianggap sakti dan ternama di Madura. Ki Moko tersebut menancapkan tongkatnya di tanah tersebut yang kemudian menimbulkan nyala api hingga sekarang.

Konon pada sekitar abad 16 tahun 1605 Saka atau 683 Masehi Ki Moko hidup sebagai pengelana dan penyebar agama Islam. Nama asli dari Ki Moko adalah R. Wignyo Kenongo. Awalanya Ki Moko adalah seorang pencari ikan yang tinggal di tengah hutan.

Suatu hari Ki Moko mendengar berita bahwa Kerajaan Palembang sedang bersedih karena seorang putri Raja tengah sakit dan tak kunjung sembuh. Ki Moko kemudian mencoba membantu dan memberikan bumbung bambu berisi berbagai mata ikan. Ketika Raja membukanya teryata berisi intan dan berlian. Kejadian tersebut membuat Raja bahagia dan putrinya pun sembuh dari sakit.

Raja yang merasa berterima kasih memberikan hadiah sebuah peti kepada Ki Moko ternyata di dalamnya adalah seorang putri Raja bernama Siti Suminten yang kemudian dijadikan istri.

Rombongan kerajaan akan datang untuk pelaksanaan pernikahan. Mendengar hal tersebut Ki Moko berdoa untuk memohon pertolongan. Kemudian Ki Moko menancapkan tongkat dan berdirilah bangunan megah termasuk sumber kebutuhan lain seperti air.

Pernikahan pun terlaksana. Namun kemudian keajaiban itu sirna menyisakan api. Api itulah yang dinamakan Api Tak Kunjung Padam.

Makam dari Ki Moko ada di Desa Branta Tinggi, Kecamatan Tlanakan dan hingga saat ini masih dikeramatkan dan dirawat oleh warga.

Cerita di atas merupakan legenda yang muncul di masyarakat, sedangkan dalam penjelasan ilmiah, wilayah yang dipagari itu mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan oksigen, sehingga menimbulkan fenomena api menyala.

Namun pernah tersiar kabar bahwa di dalam tanah tersebut tidak mengandung gas apapun. Terdapat sekitar 50 titik semburan nyala api yang sudah dipagari melingkar oleh warga sekitar.

Membakar Jagung di Api Tidak Kunjung Padam | Sumber: Dream.co.id

Masyarakat yang berkunjung ke wisata tersebut dapat membakar jagung, ayam ataupun ikan yang dijual oleh orang setempat.

Sebenarnya ada dua titik api abadi yang ada di situ dan masih berdekatan. Lokasi yang biasa dikunjungi oleh wisatawan disebut dengan Apoy Lake atau api laki-laki, sedangkan api abadi lainnya berada di dekat pintu masuk disebut dengan Apoy Bine’ atau api wanita.

Selain sumber api abadi, di sana juga ditemukan sumber air yang mengandung belerang dan masyarakat mempercayai airnya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Namun saat ini sumber air tersebut sudah tidak ada karena pipa macet.

Untuk kalian yang ingin menjelajah Pulau Madura bisa mampir ke Api Tak Kunjung Padam ini untuk menikmati keajaiban alam dan membakar jagung bersama wisatawan lainnya.

Sumber: pulaumadura.com | detik.com | portalmadura.com | plat-m.com | sejarah-budaya.com | guideku.com | lontarmadura.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Janur Kuning: Serba-serbi dan Mitosnya Sebelummnya

Janur Kuning: Serba-serbi dan Mitosnya

1 Dasawarsa Edu Art Forum Pamerkan “Nuansa Estetika” Selanjutnya

1 Dasawarsa Edu Art Forum Pamerkan “Nuansa Estetika”

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.