Dumbo Sang Penghuni Baru Batu Secret Zoo

Dumbo Sang Penghuni Baru Batu Secret Zoo

Dumbo, bayi gajah berada diantara kaki induknya saat diperkenalkan di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (13/07/2019). Dumbo lahir pada Jumat (5/7/2019) dini hari © Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

  • Seekor bayi gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), lahir di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Malang, Jawa Timurpada Jumat (5/7/2019) dini hari.
  • Dumbo berjenis kelamin jantan lahir sehat dengan persalinan norman dari gajah jantan bernama Andalas dan gajah betina bernama Nazumi yang berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan, Banyu Asin, Sumatra Selatan.
  • Setelah dilahirkan, Dumbo dan induk betinanya dipisahkan dalam kandang tersendiri karena induknya sangat protektif dan kulit Dumbo yang masih sangat sensitif.
  • Dirjen KSDAE KLHK Wiratno berharap Dumbo diperhatikan kesejahteran dan perawatannya sebagai bentuk kesejahteraan hewan (animal welfare).

Matanya masih nampak sayu, belum sempurna seratus persen, jalannya pun belum stabil. Kadang dia harus berhenti sementara, berpisah jarak dengan induknya. Lalu kembali berlari-lari kecil mengikuti, dan bersembunyi di bawah kaki ibunya saat digiring oleh keeper keluar dari kandang berukuran 7 x 21 meter persegi untuk di kenalkan ke publik di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, pada, Sabtu (13/07/2019).

Dia merupakan bayi jantan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), yang lahir pada Jumat (5/7/2019) pukul 02.22 WIB. Bayi gajah yang diberi nama Dumbo ini lahir dari induk gajah pejantan bernama Andalas dan gajah betina bernama Nazumi, kedua gajah itu berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan, Banyu Asin, Sumatra Selatan.

Menurut Roosy Margaretha, dokter hewan Batu Screet Zoo, proses kelahiran bayi gajah normal dengan pengawasan sejak dari kandungan hingga kelahiran.

“Kami terus memonitoring untuk kadar kalsium darah dan USG, jadi kita mengerti perkembangan posisi anakan gajah saat di rahim itu seperti apa, kita upayakan sebelum proses kelahiran agar bisa berjalan dengan lancar,” kata Roosy.

Berdasarkan tinggi dan postur tubuh, Dumbo diperkirakan memiliki berat badan 97 kg dan tinggi 76 cm. Ketika dikeluarkan dari kandang, kondisi bayi gajah memang masih belum stabil.

Setelah dilahirkan, Dumbo dan induknya dipisahkan dalam kandang tersendiri dari gajah yang lain untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Gajah memang hidup berkelompok dan hewan nocturnal –aktif aktif pada malam hari– dengan daya jelajah mencapai 20 km.

“Untuk itu, sementara waktu tiga sampai empat bulan kita pisahkan, baru nanti kita akan ada pendekatan bertahap untuk berkelompok,” jelas Roosy.

Dumbo menyusu ke induknya di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (13/07/2019). Dumbo masih belum stabil kondisinya karena masih bayi dan induknya sangat protektif | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Dumbo butuh penyesuaian dari awal, belum dimandikan oleh keeper karena kulit bayi gajah itu masih sangat sensitif. Apalagi indukannya masih sangat protektif. Sehingga Dumbo elum dilatih apapun.

“Di umur satu atau dua bulan kita sudah mulai melakukan pelatihan-pelatihan kecil, seperti memandikan, bermain dengan air, dipegang-pegang dan dielus-elus,” ujarnya.

Karena pemeliharaan oleh keeper, gajah yang hidup di kebun binatang atau penangkaran, kata Roosy, akan lebih jinak dibandingkan gajah liar di alam.

Sedangkan penyakit yang rentan menyerng dan menulari anakan gajah adalah virus herpes. “Maka dari itu, kita melakukan upaya-upaya untuk screening dan pemeriksaan darah. Melakukan imun suport untuk anakan gajah dan indukanya,” paparnya.

Dirjen KSDAE KLHK Wiratno (bertopi) usai memberikan buah ke indukan gajah saat hadir dan memberikan nama bayi gajah Dumbo di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (13/07/2019) | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Kesejahteraan Satwa

Saat acara pengenalan pertama Dumbo kepada masyarakat, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KSDAE KLHK), Wiratno, meminta pengelola Batu Screet Zoo memperhatikan kebersihan sebagai bagian dari kesejahteraan hewan (animal welfare).

“Memperhatikan animal wilfire, (dengan) harus cukup luas tempatnya, makanannya cukup, pemantauan kesehatannya juga harus ada record nya, karena itu adalah salah satu syarat,” kata Wiratno, Sabtu (13/07/2019) yang sekaligus memberi nama anakan gajah itu Dumbo, yang diambil dari tokoh kartun di majalah anak-anak Bobo.

Wiratno mengapresiasi kelahiran Dumbo sebagai bentuk pentingnya konservasi satwa di luar habitatnya (ex situ) karena status konservasi gajah yang terancam punah disebabkan populasinya semakin menurun.

Induk gajah dan Dumbo saat dikenalkan ke publik di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (13/07/2019) | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Populasi gajah di habitatnya (in situ), terancam oleh perburuan dan alih fungsi lahan. Dia menyebutkan populasi gajah di Indonesia saat ini sekitar 1.470 ekor di Sumatra, dan sebagian besar di Aceh.

“Ini (kelahiran Dumbo) bisa menjadi salah satu contoh untuk pendidikan anak-anak, penting juga orang melihat satwa liar di Taman Safari, kemudian dia bisa tertarik untuk belajar mengenai satwa liar, hutan dan seterusnya,” ucapnya.

Belalai gajah yang keluar dari kandangnya saat dijaga seorang keeper di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Malang, Jatim. Hewan yang hidup di habitatnya secara berkelompok ini merupakan hewan nocturnal, aktif pada malam hari dalam sehari dan semalam | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Indra Gumay Febryano dan Rusita, dalam penelitiannya tentang Perilaku Gajah Sumatra dalam Pengembangan Wisata Pendidikan Berbasis Konservasi mendeskrispikan pariwisata memiliki berdampak positif dan negatif terhadap satwa liar di penangkaran.

Dampak positifnya berupa dukungan finansial untuk konservasi, peningkatan penelitian, dan edukasi pengunjung tentang satwa liar, dan dapat meningkatkan perlindungan spesies satwa liar dan habitatnya, serta meningkatkan pengalaman wisata satwa liar. Namun, dampak negatifnya yaitu karena kehadiran manusia yang dapat menganggu satwa.

Ranaweerage et al. (2015) dalam penelitian yang dipublikasikan dalam sebuah jurnal Global Ecology and Conservation memaparkan gajah dalam sebuah tempat ekowisata dapat berubah perilakunya karena aktivitas pariwisata seperti perilaku dan jarak yang terlalu dekat dengan pengunjung, tur wisata yang padat dan kebisingan kendaraan.

Sehingga penting memantau efek pariwisata pada spesies yang terancam punah seperti gajah Asia dan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk pengelolaan ekowisata dengan interaksi satwa liar didalamnya.

Induk gajah yang mengalami katarak mata di Batu Screet Zoo, Kota Batu, Malang, Jatim . Populasi gajah di Indonesia saat ini sejumlah 1.470 ekor | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia


Catatan kaki: Ditulis oleh Falahi Mubarok dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih50%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Koplak, Kopi dari Biji Salak Sebelummnya

Koplak, Kopi dari Biji Salak

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye Selanjutnya

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.