Rujak Buah Pembawa Jodoh dari Sumatra Utara

Rujak Buah Pembawa Jodoh dari Sumatra Utara

Ilustrasi rujak buah © stockpholio

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Rujak manis, atau sering kita sebut dengan rujak buah, merupakan olahan semacam salad yang dibumbui dengan campuran gula merah, kacang, dan sedikit cabe.

Makanan khas Indonesia ini biasanya berisi mangga muda, nanas, bengkoang, pepaya, belimbing, dan jambu air. Di Jawa, tradisi rujakan ini selalu hadir dalam acara mitoni atau menyambut kehamilan di bulan ke-tujuh. Tak hanya di Jawa, di Sumatra rujak buah juga sangat populer terutama di Sumatra Utara.

Tak kalah unik, di persimpangan ini terdapat makanan khas Medan yang menjadi favorit bagi masyarakat setempat, namanya Rujak Buah Simpang Jodoh.

Nama Simpang Jodoh ini diambil dari nama kawasan tersebut yang jalan bertemunya Jalan Pasar 7 dan Jalan Besar Tembung. Mengapa dinamakan Simpang Jodoh? Konon katanya di persimpangan ini tempat bertemunya kalangan remaja yang menunggu jodohnya.

Pada era 1800-an, kawasan ini masih berupa hutan yang luas dan pemukiman puak melayu di bawah kekuasaan Percut. Namun, sejak perusahaan Deli Maatschappij datang pada tahun 1857 dan membuka kawasan ini untuk perkebunan, kawasan ini menjadi ramai dengan 344 orang kuli kontrak yang bekerja di sini.

Pada tahun 1905, Deli Maatschappij menyatukan perkebunan Timbang Deli dan perkebunan Bandar Klippa yang mempunyai luas sebesar 5.000 bidang tanah.

Deli Maatschappij merupakan sebuah perusahaan milik Jacob Nienhyus dan Peter Wilhelm Janssen yang merupakan perusahaan budi daya tembakau untuk kesultanan Deli pada kala itu.

Sumber: BanyakCakap

Sejak 1950, Rujak Buah Simpang Jodoh ini sudah berdiri di daerah Tembung yang buka saat menjelang malam.

Berawal dari Daud, yang merupakan menantu dari penjual rujak ini, ia menuturkan awal mula berdirinya Rujak Buah Simpang Jodoh berawal dari anak muda yang kala itu berkumpul sembari melihat kereta api lewat.

Situasi itu dimanfaatkan mertua Daud untuk membuka Rujak Buah di kawasan Simpang Jodoh itu.

Tak hanya satu, namun berderet penjual Rujak Buah di kawasan tersebut yang jumlahnya saat ini mencapai 40 pedagang rujak. Uniknya para penjual di kawasan Simpang Jodoh merupakan perempuan, lho.

Bisnis Rujak Buah ini merupakan usaha turun temurun yang sudah dilakoni 3 generasi. Persimpangan ini membuat lokasi penjualan cukup strategis karena banyak dilalui transportasi umum dan orang lalu lalang dari warga Tembung itu sendiri maupun pendatang.

Penjualan rata-rata penjual Rujak Buah Simpang Jodoh ini bisa menghabiskan 100 bungkus per harinya. Jika ditotal, hasil penjualan kotornya bisa mencapai 40 juta per bulannya, sungguh jumlah yang fantastis ya, Kawan GNFI!

Jika dikurangi dengan modal dan biaya lainnya, penghasilannya bisa mencapai 18 juta per bulannya.

Penjual rujak buah Simpang Jodoh | Sumber: ukmmedan.com

Tak hanya rujak buah, penjual rujak buah di kawasan Simpang Jodoh ini ternyata juga menjual rujak ulek dan rujak tumbuk. Dengan tarif yang dibanderol dari Rp 13.000 saja, para pembeli bisa menikmati rujak khas Simpang Jodoh dengan pemandangan kereta api, dan siapa tahu kita bisa menemukan jodoh disana.


Sumber: indonesia.go.id | mhm.asia

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Merekam Alam dan Kehidupan Lewat Festival Film Lingkungan Borneo Sebelummnya

Merekam Alam dan Kehidupan Lewat Festival Film Lingkungan Borneo

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim Selanjutnya

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim

kevin naufal
@kevin_naufal

kevin naufal

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.