Tradisi Unik Sebelum Berangkat Haji

Tradisi Unik Sebelum Berangkat Haji

Keberangkatan jamaah haji © labbaik.id

Pergi ke Tanah Suci untuk melakukan ibadah haji merupakan suatu anugerah yang takkan mungkin dilupakan. Beberapa daerah di Indonesia memiliki perayaan unik yang telah menjadi tradisi bila seseorang akan melaksanakan ibadah haji.

Tale Haji Kerinci, sesuai dengan namanya tradisi ini berasal dari masyarakat Kerinci. Daerah yang berada di Provinsi Jambi dengan luas wilayah sekitar 4.200 km² ini memiliki kesenian khas bernama Tale yang artinya nyanyian bersama.

Tale Haji dilaksanakan saat pelepasan keluarga atau kerabat yang akan berangkat ke Mekah untuk memenuhi panggilan-Nya.

Nyanyian dilantunkan menggunakan bahasa setempat, Tale Haji biasanya mulai menggema sejak sebulan menjelang keberangkatan. Tradisi ini sudah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Calon jemaah haji akan di Tale-kan dari rumah ke rumah, terutama yang memiliki hubungan keluarga.

Tale Haji berisi doa dan nasehat agar orang yang akan berangkat menjadi haji yang mabrur. Usai melaksanakan Tale Haji, calon jemaah akan dilepas dari masjid bersama-sama. Tak hanya berangkat, kepulangan jemaah haji juga disambut suka cita oleh masyarakat setempat.

Bukan cuma masyarakat Kerinci yang memiliki tradisi unik, masyarakat Madura juga memiliki tradisi serupa, bahkan diadakan sebanyak tiga kali yaitu sebelum, saat, dan setelah haji. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, calon jamaah haji menggelar selamatan dengan mengundang seluruh keluarga.

Uniknya lagi ketika seorang calon haji sudah pergi dari rumah, salah satu anggota keluarganya menabur uang recehan dan kertas pecahan sampai Rp 5.000. Selama jamaah melaksanakan ibadah haji, keluarga di rumah mengadakan doa bersama seperti membaca Alquran dan shalawat setiap malam dan diadakan hingga sang haji tiba di rumah.

Sambutan meriah menanti saat jamaah haji tiba di Tanah Air. Kemudian kunjungan dari sanak saudara seakan tidak berhenti untuk meminta doa, karena mereka percaya doanya akan cepat dikabulkan.

Setelah 40 hari usai kedatangan haji, selamatan kembali digelar namun dengan jumlah tamu yang lebih sedikit. Diadakan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah menyempurnakan ibadahnya dengan melaksanakan rukun Islam kelima.

Klansah | Foto: Idham Khalid/ Kompas.com

Warga Lombok juga memiliki tradisi uniknya. Membuat klansah atau tenda di depan rumah calon jemaah haji. Tepatnya di Desa Darek, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pembuatan klansah mulai dilaksanakan setelah lebaran Idulfitri. Pembuatan klansah dilakukan secara gotong royong dan membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Dalam membuat klansah hanya membutuhkan bahan yang sederhana yakni bambu untuk tiang dan daun kelapa untuk atapnya. Selain klansah, gempeng atau pagar dari bambu juga dibangun mengelilingi rumah calon jemaah haji.

Nantinya selama sembilan hari ke depan, klansah akan dijadikan tempat untuk warga membaca Al Barzanji dan doa untuk keselamatan para jamaah haji dalam beribadah.

Sumber: konselingindonesia.com | jambi.tribunnews.com | regional.kompas.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

PT PAL Indonesia (Persero) Produksi Dua Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter Sebelummnya

PT PAL Indonesia (Persero) Produksi Dua Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter

Goride Instan, Bentuk Inovasi dan Tanggung Jawab Gojek Lewat Fitur Terbarunya Selanjutnya

Goride Instan, Bentuk Inovasi dan Tanggung Jawab Gojek Lewat Fitur Terbarunya

Novita Caesaria
@_novitacaesaria

Novita Caesaria

Mahasiswi yang lagi ikut Magang Seri GNFI~

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.