Tema Menarik dari Kalimantan Indigenous Film Festival 2019

Tema Menarik dari Kalimantan Indigenous Film Festival 2019

Ilustrasi penduduk asli © Sumber: BIFF

Kalimantan Indigenous Film Festival (KIFF) kembali tahun ini untuk memperkuat gaungan suara orang-orang yang sering terpinggirkan.

21 film sebagian besar dokumenter, akan diputar di Cinema XXI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 9 dan 10 Agustus. Film yang dikuratori merupakan garapan dari pembuat film lokal di Kalimantan, Papua, Yogyakarta, Bali, dan juga Thailand, India , Afrika, dan Malaysia

“Kami memiliki jumlah pembuat film yang berusaha menggambarkan penduduk asli dalam bingkai tertentu atau bahkan mengasosiasikan stigma tertentu yang cukup. Sudah saatnya bagi kita penduduk asli untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya, budaya, dan kepercayaan kita. Bukan hanya untuk mengoreksi apa yang telah dikenalkan sebelumnya, tetapi juga harus dilihat sebagai pemberdayaan diri dan penemuan diri bagi kita juga,” kata Emmanuela Shinta, pendiri Ranu Welum Foundation, yang menyelenggarakan festival ini.

Meskipun baru penyelenggaraan tahun kedua, yayasan inimulai mengadakan pemutaran film di desa-desa kelompok etnis Dayak di Kalimantan pada tahun 2014. Emmanuela, juga pembuat film asal Dayak, mendirikan International Indigenous Film Festival dan mengadakan tur internasional tahun lalu.

"Kami juga akan menayangkan film-film tersebut di Yogyakarta dan Jakarta akhir tahun ini,” katanya.

Pembukaan festival direncanakan untuk bertepatan dengan Hari Internasional Penduduk Asli Dunia.

Film-film tersebut memiliki tema mulai dari profil organisasi lokal yang bekerja pada pendidikan masyarakat adat, perlindungan lingkungan dan perawatan kesehatan, hingga Kayan di Thailand Utara.

Salah satu film yang akan diputar diproduksi oleh Komik Production Kalimantan Tengah. Film, Di Atas Milenialitas, bercerita tentang Isen, bocah Dayak yang mencoba melestarikan tarian adatnya.

Film lain adalah Kuku, diproduksi oleh rumah produksi Harian Si Anang di Kalimantan Selatan, yang mengikuti Aspi yang menemukan bahwa hal-hal aneh terjadi di sekitarnya setelah dia memotong kuku jarinya di malam hari.


Catatan kaki: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

"Cakep"nya Tradisi Pantun Betawi Sebelummnya

"Cakep"nya Tradisi Pantun Betawi

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya Selanjutnya

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.