Menggugat Cara Kita Merayakan Hari Proklamasi

Menggugat Cara Kita Merayakan Hari Proklamasi

Photo by IvanBE pratama on Unsplash

Agustus adalah bulan “keramat” untuk seluruh bangsa Indonesia, sekaligus bulan penuh suka cita, karena pada bulan inilah pada 1945 lalu untuk pertama kalinya bangsa Indonesia dengan lantang memproklamirkan kemerdekaannya di hadapan dunia.

Maka memang sudah selayaknyalah kita memeringati dengan sungguh-sungguh hari proklamasi ini. Tidak mengherankan perayaan 17-an menjadi tradisi yang turun temurun, dari pemerintah pusat hingga daerah, dari kelompok Dharma Wanita di pusat hingga ibu-ibu di lingkungan RT/RW. Rata-rata merayakannya dengan hiburan, sukacita dan bersenang-senang melalui permainan dan lomba seperti balap karung, makan kerupuk, dan panjat pinang, serta perlombaan lain seperti lomba/karnaval mobil hias, sepeda hias dan karnaval anak-anak dengan hiasan baju adat tradisional, dan lain sebagainya. Kita patut bersyukur, proklamasi masih menjadi momen penting bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa ini.

Namun, pertanyaannya, apakah sebenarnya layak Proklamasi kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah, air mata dan nyawa oleh para pejuang dan pendiri bangsa ini hanya kita rayakan dengan aneka perlombaan seperti itu? Apakah dengan perlombaan-perlombaan tersebut kita makin kenal dengan para pahlawan bangsa? Makin tahu cita-citanya, semangat perjuangannya dan mengapa mereka sampai rela berkorban seperti itu? Karena semakin kita tahu pengorbanan seseorang untuk kita, semestinya kita akan semakin menyangi orang tersebut. Termasuk para pahlawan bangsa ini, semakin kita tahu perjuangan mereka, kita akan makin mencintai Republik ini.

Apakah tidak ada cara lain yang lebih arif, mendidik dan bermartabat demi pembangunan karakter dan generasi yang lebih baik nantinya? Atau memang kita tidak terlalu peduli? Menurut saya, perayaan-perayaan semacam itu telah menghasilkan generasi masa kini yang pragmatis, individualis, hedonis dan materialis akut.

Lantas, kalau ada yang bilang cara kita merayakan proklamasi tidak ada hubungannya dengan keterpurukan bangsa atau dilecehkannya kita oleh bangsa lain, berarti kita kurang memahami korelasi antara masa lalu dengan masa kini, dan masa kini dengan masa depan.

Perlu diingat, setiap apa yg kita lakukan dalam merayakan sesuatu sebenarnya adalah cermin dari diri dan identitas kita sebagai bangsa yang akan berimplikasi kuat dan akan hadir di masa depan. Dari sinilah terlihat bahwa faktanya kita sudah sedemikian pragmatis, individualis dan hedonis-materialis. Perayaan proklamasi misalnya, jadi tidak berjiwa, karena hanya memburu kesenangan belaka. Pesta pora, keriaan, sebatas itu.

Nina bobo yang diberikan oleh Belanda sejak jaman penjajahan masih kita lestarikan. Bermain injak-injakkan, saling kotor-kotoran untuk memperebutkan sesuatu yang nilainya tidak seberapa, tak jarang ada kisah pilu karena memakan korban jiwa. Hanya lucu-lucuan, saling menertawakan, tanpa sadar semakin hari kita semakin melupakan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa. Tanpa sadar penjajahan bentuk baru telah menyerang dengan cepat terhadap bangsa ini. Dimana "soft power" kita lah yang "diserang dan dihancurkan" oleh bangsa lain melalui globalisasi dan modernisasi, melalui kemudahan teknologi dan kenyamanan masa kini, melalui HAM dan demokratisasi ala barat serta liberalisasi ekonomi. Hasilnya, kita menjadi tak berakar, bangsa kita menjadi tak berjiwa, lemah dan mudah putus asa.

Kita terlena, kita dibuai dengan sekonyong-konyongnyanya melupakan masa lalu, kita melupakan tradisi dan kearifan lokal, melupakan asal dan akar tempat kita berpijak. Kita menjadi rapuh, menjadi mudah diadu domba dan dilecehkan oleh bangasa/kelompok lain. Karena kita tidak memiliki rasa dan semangat membela ketika sebagian dari apa yang kita miliki dicabik-cabik oleh bangsa lain, karena kita tidak mengenali dan menyadarinya, bahwa itu milik dan hak kita.

Untuk menghancurkan suatu bangsa, musnahkan ingatan sejarah generasi mudanya!,” kalimat ini sering kami dengungkan di Komunitas Historia Indonesia (KHI). Karena semua problema mendasar di atas saya rasa hanya mampu diselesaikan melalui kesadaran sejarah (history conciousnees) dan kesadaran budaya. Hanya akan selesai jika kita memiliki harmoni antara modernisasi dengan tradisi, antara globalisasi dengan glokalitas, antara masa kini dengan masa lalu.

Untuk itu lah, cara-cara kita berkehidupan seyogyanya berlandaskan pada sejarah dan kebudayaan. Karena disitulah letak kearifan dan kebijaksanaan. Coba saja, kita tanya adik-adik remaja, mungkin juga sebagian dari kita sendiri, apa tahu arti Indonesia? Siapa yang memberi nama Indonesia pertama kali? Kapan? dan seterusnya. Siapa pahlawan yang ada di uang sepuluh ribu yang lama? Apakah kita mengenalinya? Belum lagi jika diminta menyebutkan Pancasila, teks proklamasi, lagu-lagu perjuangan dan nasional maupun daerah, apakah kita mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita tahu letak Pulau Dana, Pulau We dan Rote?

Nah, jika proklamasi masih dirayakan semata-mata hanya untuk kesenangan belaka yang dicari, hasilnya saya yakin kita akan semakin melupakan sejarah dan budaya kita sendiri. Kita akan jadi tidak berjati diri dan tidak berkarakter. Tidak akan ada lagi ruang bagi kita untuk mengasah pemahaman dan membangun harmonisasi kehidupan. Dampaknya, ketika ada klaim sejarah dan budaya dari bangsa lain, kita hanya mampu diam seribu bahasa, karena kita tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan terhadap apa yang diklaim bangsa asing tersebut. Ingat, The knowledges is the power! Akibatnya, kita harus rela kehilangan. Karena kita tidak mengenalinya, karena kita tidak merasa memilikinya. Jika tak kenal, maka tentu kita tak akan sayang. Begitulah kita terhadap bangsa sendiri. Ironis bukan?!

Saya tekankan bahwa, bukan berarti perayaan yang sudah ada sekarang yang sering kita selenggarakan di lingkungan masing-masing semuanya tidak baik dan tidak bermanfaat, tetapi alangkah lebih bijaksana jika kemerdekaan kita maknai sebagai sarana introspeksi, sarana belajar mengenal Indonesia secara mendalam melalui sejarah dan budayanya, sarana membangun kesadaran tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan agar nasionalisme kita tidak semu, agar nasionalisme kita berdasar pada pemahaman sejarah dan budaya yang luhur, sehingga identitas dan jati diri itu terbangun, karena itulah yang disebut sebagai upaya membangun karakter bangsa itu.

Usulan. Coba deh, kita merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba baca teks proklamasi, lomba menyanyikan lagu perjuangan, lomba mirip pahlawan, role playing atau bermain peran tokoh sejarah dan pejuang, memecahkan puzzle sejarah, membuat media interaktif sejarah, nonton bareng film sejarah perjuangan, diskusi dan malam renungan kemerdekaan, napak tilas proklamasi, berkunjung ke Tugu Proklamasi, historia amazing race, kunjungan ke keluarga pejuang, dan banyak kegiatan yang lebih berfaedah lainnya, masih sangat banyak. Kalau itu sudah dilakukan, semestinya kita jauh lebih bangga disebut bangsa terdidik yang bijak, ketimbang disebut sebagai bangsa hedon yang pragmatis, bukan?

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah

Gebyar Perayaan Kemerdekaan Indonesia Ke-74 dari Baku Sebelummnya

Gebyar Perayaan Kemerdekaan Indonesia Ke-74 dari Baku

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon Selanjutnya

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon

Asep Kambali
@asepkambali

Asep Kambali

www.komunitashistoria.com

Sejarawan; Guru Sejarah Keliling; History-preneur; dan Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI)

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.