Tanoto Foundation Kembangkan Modul II Berkarakter Mata Pelajaran

Tanoto Foundation Kembangkan Modul II Berkarakter Mata Pelajaran

Para dosen dan guru sedang bekerja sama praktik melakukan percobaan pemisahan campuran zat cair dengan destilasi sederhana. Mereka sedang bersimulasi dalam pelatihan Modul II Program PINTAR yang berciri khas karakter mapel. © Tanoto Foundation

Jakarta - Tanoto Foundation memfasilitasi sekitar 80 dosen LPTK, guru, dan kepala sekolah bekerja sama mengembangkan Modul II Program PINTAR (pengembangan inovasi untuk kualitas pembelajaran) yang berfokus pada kekhasan karakter mata pelajaran.

Menurut Ujang Sukandi, Kepala Pelatihan Sekolah dan Guru Program PINTAR Tanoto Foundation, setiap mapel (mata pelajaran) memiliki karakter keterampilan dan proses tersendiri yang perlu dilatihkan secara berkelanjutan kepada siswa. Dalam Modul II, guru akan dilatih mengajar yang sesuai kekhasan karakter mapel.

Misalnya, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi; dan proses: penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.

"Jadi dalam belajar matematika, siswa jangan hanya diberikan rumus, tetapi siswa perlu difasilitasi untuk menemukan rumus tersebut," kata Ujang Sukandi dalam acara Persiapan Fasilitator Nasional Modul II di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Mapel yang dikembangkan dalam Modul II Program PINTAR adalah matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, bahasa Inggris, dan Literasi Kelas Awal.

Menurut Ujang, pembelajaran yang mengembangkan karakter mapel tersebut dapat mengembangkan potensi anak, yaitu rasa ingin tahu dan berimajinasi di mana kedua hal tersebut merupakan dasar bagi kreativitas.

Seperti dalam pembelajaran IPS, guru dilatih mengembangkan keterampilan IPS dan sikap sosial siswa. Keterampilan IPS yang dimaksud adalah keterampilan berpikir kritis, mengolah informasi, berperan dalam kelompok, dan mampu mengkonstruksi pengetahuan baru. Sikap sosialnya seperti peduli, jujur, santun, dan bertanggungjawab.

"Guru IPS setiap mengajar harus memastikan keterampilan IPS dan sikap sosial muncul dalam setiap pembelajaran," kata Sukma Erni, dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau, yang menjadi salah fasilitator nasional Program PINTAR Tanoto Foundation.

Sementara pada pembelajaran IPA, kekhasannya ada pada menemukan jawaban dari persoalan dengan cara metode ilmiah.

Menurut Woro Sri Hastuti, dosen Universitas Negeri Yogyakarta yang juga tim penyusun Modul II Program PINTAR, ketika siswa belajar perpindahan panas, tidak cukup hanya dijelaskan secara teori dan atau menghitung rumus. Siswa perlu difasilitasi untuk membuat alat sederhana penahan panas.

"Misalnya, siswa ditugaskan membuat botol yang bisa membuat air panas terjaga panasnya. Mereka akan bereksprimen membuat wadah penahan panas dari berbagai bahan seperti alumunium foil, koran bekas, kain bekas, atau kardus bekas, untuk menemukan bahan yang paling bagus menjaga air tetap panas. Mereka akan belajar penerapan konsep perpindahan panas dalam kehidupan sehari-hari," tukasnya.

Dalam modul pembelajaran bahasa Indonesia, dikembangkan empat strategi untuk memecahkan masalah pembelajaran bahasa Indonesia yang sering terjadi di kelas, yaitu, mengorganisasi informasi menggunakan graphic organizer, menulis cerpen dengan literasi visual, mengidentifikasi informasi dengan menentukan gagasan utama bacaan, dan menulis teks prosedur dengan strategi rekonstruksi kegiatan. "Kami mengembangkan empat strategi tersebut untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi yang bermanfaat belajar pada semua mapel. Misalnya, mengidentifikasi informasi yang sering muncul di kompetensi dasar kurikulum. Hanya saja siswa selama ini sering kesulitan mengidentifikasi informasi karena pembelajaran lebih banyak diceramahkan. Melalui graphic organizer dengan pembuatan peta konsep atau diagram dapat memudahkan siswa mengidentifikasi informasi," kata Pujito guru SMPN 2 Kudus, Jawa Tengah. Sedangkan pada pembelajaran literasi kelas awal, guru dilatih meningkatkan kemampuan literasi siswa melalui kegiatan membaca bersama, membaca terbimbing, dan meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan; dan salah satunya menggunakan 'buku besar'.

Pada Modul II ini juga dikembangkan materi pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berfokus pada transparansi dan akuntabilitas manajemen sekolah, supervisi pembelajaran, dan pengelolaan budaya baca.

Peserta juga difasilitasi untuk mengkaji hasil penerapan Modul 1 Program PINTAR. Terutama untuk mengetahui hal-hal yang sudah baik dan yang perlu ditingkatkan dalam penerapan pembelajaran aktif, MBS, dan budaya baca.

Menurut Stuart Weston, Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, Modul II ini akan dilatihkan kepada 448 fasilitator daerah yang tersebar di lima provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Para fasilitator daerah tersebut akan melatih kembali dan mendampingi 440 sekolah dan madrasah mitra.

"Kami berharap para guru dan kepala sekolah yang dilatih dapat memberikan pembelajaran berkualitas yang membuat siswa mengembangkan potensi terbaiknya untuk meningkatkan kesetaraan peluang," kata Stuart Weston.

Catatan kaki: (Tanoto Foundation, Program PINTAR, UIN suska Riau, Universitas Negeri Yogyakarta)

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tidak Banyak yang Tahu, Inilah Asal Kata Merdeka! Sebelummnya

Tidak Banyak yang Tahu, Inilah Asal Kata Merdeka!

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.