Lompat Batu Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Nias

Lompat Batu Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Nias

Tradisi Lompat Batu | Sumber : mytrip.co.id

Indonesia kaya akan tradisi yang hidup di lingkungan masyarakat, setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang unik serta beragam tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang terus diturunkan dari generasi ke generasi agar kelestariannya tetap terjaga.

Beberapa tradisi yang ada di Indonesia antara lain tradisi potong jari, tradisi pemakaman suku minahasa, tradisi adu betis, tradisi gigi runcing suku Mentawai, tradisi ritual tiwah, dan masih banyak lainnya. Setiap tradisi memiliki makna dan ciri khasnya masing-masing, salah satunya adalah tradisi Lompat Batu yang berasal dari Nias, Sumatera Utara.

Tradisi Lompat Batu ini biasanya dilakukan oleh para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu dengan ketinggian 2 meter dengan tebal mencapai 40 cm, hal tersebut dilakukan untuk menunjukan bahwa mereka sudah pantas dianggap sebagai pemuda dewasa secara fisik.

Menurut masyarakat di sana tradisi ini merupakan media untuk menguji ketangkasan dan kejantanan para pemuda serta sebagai proses pendewasaan para pemuda untuk pembentukan karakter yang kuat dalam menjalani kehidupan.

Tentu tidak mudah bagi para pemuda Nias untuk melakukan tradisi tersebut, di mana perlu keahlian dan latihan rutin sejak berusia 6 tahun. Selain faktor latihan, terdapat pula faktor genetik di mana anak laki-laki dari seorang ayah yang dulunya memang seorang pelompat batu biasanya akan lebih mudah dan cepat untuk menguasai keahlian tersebut.

Masyarakat Nias akan terus melakukan tradisi Lompat Batu tersebut sampai mereka menikah, setelah menikah barulah mereka tidak melakukan tradisi Lompat Batu tersebut.

Rumah Adat Nias Selatan | Sumber : mytrip.co.id

Atraksi Lompat Batu ini bisa dilihat di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanamaya Kabupaten Nias Selatan. Para pelompat biasanya mengenakan pakaian khas Nias dengan bernuansa hitam dilengkapi dengan aksen berawarna kuning dan merah, serta tidak menggunakan alas kaki saat melakukan atraksi tersebut.

Selain sebagai lokasi aktraksi Lompat Batu, Desa Bawomataluo sendiri merupakan destinasi populer di Nias Selatan yang ramai dikunjungi wisatawan, baik pada saat hari biasa maupun hari libur. Desa dengan jumlah 137 rumah adat omo sebua (Rumah Raja) di mana desa ini memiliki pola perkampungan dengan berbentuk T. Lompat Batu menjadi andalan para wisatawan selain berkunjung ke rumah-rumah adat dan lokasi surfing.

Desa Bawomataluo secara harfiah memiliki makna Bukit matahari diperkirakan didirikan antara tahun 1830-1840. Desa tradisional ini berlokasi di atas bukit dengan ketinggian 270 meter diatas permukaan laut, didirikan ditempat yang tinggi agar dapat melihat dengan mudah musuhnya yang datang.

Tradisi dari Nias Sumatera Utara ini bukan hanya sekedar permainan atau ciri khas biasa, tetapi terdapat nilai-nilai penting yang ada di dalamnya terutama dalam nilai kehidupan, kebersamaan, dan kebudayaan.

Lompat Batu atau Hombo Batu awal mulanya merupakan sebuah ritual inisiasi pria muda menjadi pria dewasa dan menjadi seorang prajurit. Sebagai seorang prajurit pria tersebut harus mampu melewati batu yang tinggi, sehingga jika berhasil maka dapat diziinkan untuk ikut berperang. Konon katanya syarat tersebut tercipta karena pada zaman dahulu desa-desa di Nias dikelilingi pagar batu yang cukup tinggi, maka dari itu Lompat Batu sebagai syarat agar saat berperang para prajurit dapat melompati benteng tembok pertahanan saat menyerang musuh.

Tradisi Lompat Batu di Nias masih masih terus dilestarikan hingga saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut sudah bukan menjadi tradisi sebagai syarat untuk mengikuti peperangan, melainkan menjadi salah satu simbol sebagai budaya masyarakat Nias.

Catatan kaki: negerikuindonesia.com | mytrip.co.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia Sebelummnya

Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.