Revolusi Tempe, dari Magic Food Hingga Go Internasional

Revolusi Tempe, dari Magic Food Hingga Go Internasional

Tempe | Foto: toptier.id

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tem.pe /témpé/ adalah makanan untuk lauk nasi, dibuat dari kedelai dan sebagainya yang diberi ragi. Indonesia memiliki banyak jenis tempe yakni tempe benguk, tempe bongkrek, tempe bungkil, tempe gembus, tempe jagung, tempe kacang, tempe keripik, tempe lamtoro, dan tempe turi.

Tertulis pada buku Bunga Rampai Tempe Indonesia oleh Mary Astuti seorang pakar tempe dari Universitas Gadjah Mada, kata ‘kadele’ atau kedelai dalam bahasa Jawa ditemukan dalam Serat Sri Tanjung (abad ke- 12 atau 13). Tak hanya dalam serat legenda Kota Banyuwangi, kata kedelai juga tertulis dalam Serat Centhini, yang ditulis oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno pada 1814.

Menurut Ong Hok Ham seorang sejarawan, dalam Encyclopaedia van Nederlandsche Indie (1922) “kue” merupakan sebutan untuk tempe sebagai makanan yan terbuat dari kacang kedelai yang diproses dengan ragi dan merupakan makanan kerakyatan (volk’s voedsel). Wartawan spesialis sejarah pangan, Andreas Maryoto mengatakan tempe diciptakan oleh rakyat, bukan istana.

Tempe | Foto: wikipedia.org

Saat ini tempe khas Indonesia sudah go internasional bahkan memiliki julukan “magic food” oleh para pecinta tempe dari luar negeri. Salah satu sosok berjasa yang mengenalkan tempe ke kancah internasional adalah Rustono yang juga seorang pengusaha tempe di Jepang. Produknya tembus pasar Meksiko, Korea, Brazil, Polandia, dan Hongaria. Maskapai nasional, Garuda Indonesia rute Osaka-Denpasar menggunakan produk tempe milik Rustono untuk menu penerbangannya.

RUstono dan produk tempenya | Foto: kaskus.id

Rupanya cita rasa dan keunikan tempe begitu memikat hati warga negara asing. Ana Larderet, wanita cantik asal Perancis yang memiliki bisnis tempe di Swiss. Ia mengenal tempe saat mengenyam pendidikan selama setahun di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak saat itu tempe menjadi makanan favoritnya.

Ia sering merindukan cita rasa tempe saat berada di Perancis. Ana yang merupakan teman dekat Rustono seringkali meminta kiriman tempe dari Jepang. Rustono pula yang mengajarkan Ana memproduksi tempe. Ana memproduksi tempe sembari berkuliah S- 2 di Swiss. Meski kegagalan ia alami, kesabarannya berbuah manis. Setelah mendekati diaspora warga Indonesia di Swiss pelanggan mulai berdatangan.

Ana Larderet dan produk tempenya | Foto: Kompas.com

Selain Ana, ada Amita Buissink seorang warga lokal Australia yang memproklamasikan dirinya sebagai duta tempe. Selain memproduksi tempe di Margaret River Tempeh yang berlokasi di Australia Barat, Amita juga mengajarkan ilmu fermentasi tempe kepada anak-anak sekolah.

Setelah tujuh tahun memproduksi tempe, rasa tempe buatannya memiliki cita rasa yang sama dengan tempe produksi Indonesia. Berapa harga tempe di Australia? Tentu lebih mahal, bahkan mencapai delapan kali lipat lebih tinggi daripada harga di Indonesia. Kedelai organik sebagai bahan bakunya memang melimpah di sana, tetapi ragi yang dibutuhkan untuk proses fermentasi harus mengimpor dari Indonesia.

Amita Buissink | Foto: Youtube.com

Apakah kamu pernah mendengar produk tempe bernama Umiyakko Javafood? Produk tempe kaleng oleh Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) asal Magelang yang go internasional. Pada 2017 lalu, sebanyak 100.000 kaleng diproduksi atas pesanan dari Republik Ceko.

Tempe dalam kaleng | Foto: berkabar.id

Kusuma Winata Jati sebagai General Manager Umiyakko Javafood mengatakan tempe kaleng sudah diproduksi sejak 2014 namun membutuhkan riset yang cukup lama. Sejak 2007 riset telah dilakukan. Meski sempat vakum bisa diproduksi kembali dan dipasarkan bahkan tembus pasar internasional. Produk tempe kaleng ini memiliki empat varian rasa yaitu tempe bacem, tempe gurih, tempe kari, dan tempe terik.

Kita patut berbangga dengan warisan leluhur, tetapi jangan lupa melestarikannya. Ayo makan tempe!

Sumber: travel.kompas.com | historia.id | idntimes.com | ekonomi.bisnis.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Good News From Indonesia

Pulau Kakaban, Bersih Tanpa Bangunan Sebelummnya

Pulau Kakaban, Bersih Tanpa Bangunan

Indonesia Masuk dalam Daftar Negara dengan Destinasi Ramah Wanita Muslim 2019 Selanjutnya

Indonesia Masuk dalam Daftar Negara dengan Destinasi Ramah Wanita Muslim 2019

Novita Caesaria
@_novitacaesaria

Novita Caesaria

Mahasiswi yang lagi ikut Magang Seri GNFI~

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.