Dedikasi Mbah Sadiman Pada Lingkungan Lewat Tanaman Beringin

Dedikasi Mbah Sadiman Pada Lingkungan Lewat Tanaman Beringin

Mbah Sadiman | Foto: Hashtage.com

Sadiman adalah seorang kakek berumur 68 tahun yang berasal dari Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jawa tengah. Namanya mulai terdengar ketika dirinya mendapat penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tepatnya pada 1 Agustus lalu di Graha BNPB, Jakarta.

Beliau mendapatkan penghargaan bernama “Reksa Utama Anindha” yang berarti penjaga bumi yang penuh kebijakan.

Penghargaan yang didapat Sadiman dapat karena kegigihannya dalam menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Selain penghargaan, aksinya juga mendapat apresiasi oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), lewat pemberian dana sejumlah RP 100 juta yang diberikan oleh wakil pimpinan BRI Yogyakarta, Joko Sudarmo.

Awal mula aksi Sadiman

Aksi Mbah Sadiman berawal dari keresahannya melihat kondisi bukit di sekitar tempat tinggalnya di lereng Gunung Lawu yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Kenangan masa kecilnya tentang sumber air yang melimpah seakan terancam karena ulah warga yang seringkali menjarah kayu-kayu hutan untuk bahan bangunan atau untuk dijual.

Kayu-kayu tersebut diperoleh dari pohon-pohon sekitar yang mengakibatkan semakin berkurangnya sumber air di kawasan tersebut.

Puncak kerusakan terjadi saat kebakaran besar yang menghanguskan tanaman-tanaman di hutan sekitar tempat tinggalnya pada tahun 1964. Kebakaran tersebut menyebabkan bukit-bukit menjadi tandus yang juga berimbas pada kehidupan warganya.

Sering kali warga kesulitan mendapat air bahkan saat kemarau terjadi kekeringan, karena hal tersebut lahan pertanian dan ternak banyak yang terbengkalai, tak hanya itu banjir juga kerap terjadi karena tak ada tanaman yang menopang air.

Setelah kawasan tersebut sempat terlantar cukup lama, sebetulnya telah dilakukan upaya penghijauan dari pemerintah di bawah Perhutani di Bukit Gendol dan Ampyangan dengan ditanamnya pohon-pohon pinus.

Penanaman yang dilakukan dirasa Sadiman tak banyak mengubah kondisi di sana. Menurutnya fungsi pohon pinus dalam mengikat air minim sehingga pada 1996 ia berinisiatif untuk menanam beringin di kawasan tersebut.

Setelah mendapat izin dari penjaga hutan setempat akhirnya ia pun memulai aksinya yang ternyata tetap ia lakukan selama 23 tahun. Hingga kini setidaknya sudah ada lahan seluas 250 hektare beliau tanami dengan sebelas ribu tanaman.

Alasan pemilihan pohon beringin

Pada awal aksinya, Mbah Sadiman pernah dianggap gila oleh orang-orang. Ketika orang sekitarnya menanam tanaman pangan, beliau malah menanam tanaman yang tidak memberikan keuntungan secara materi.

Tanpa menghiraukan hal tersebut beliau tetap melakukan misi mulianya bahkan semua dilakukan Mbah Sadiman secara mandiri mulai dari membeli bibit, menanam, hingga memupuk dan merawat tanaman.

Beringin sendiri memang memiliki banyak fungsi karena pohonnya yang kuat dan banyak menghasilkan air dan udara. Namun alasan lain Mbah Sadiman memilih tanaman ini adalah karena beringin dipercaya memiliki “penunggu”, sehingga jika ditanam warga akan segan untuk menebangnya.

Hasil dari pengorbanan Mbah Sadiman

Mbah Sadiman saat melakukan kegiatan menanam | Foto: tempo.co

Dalam kesehariannya, Mbah Sadiman kerap kali hanya memakai baju bekas. Sering kali beliau juga mendapatkan bibit beringin dengan mengorbankan usahanya.

Usaha semai bibit jati dan cengkeh yang beliau lakukan di pekarangan rumahnya dijadikan ajang untuk mengembangkan penanaman beringin. Penukaran dua bibit cengkeh dengan satu bibit beringin pun dilakukan untuk kemudian ditanamnya.

Hasil dari komitmen panjang Sadiman akhirnya membuahkan hasil. Desa tempatnya tinggal kini tidak lagi merasakan kekeringan, bahkan telah terbentuk sumber mata air alami yang dapat dinikmati 340 keluarga di Desa Geneng secara gratis.

Saat ini Mbah Sadiman masih berencana mananam 20 ribu lebih pohon lagi guna membantu desa-desa lain di sekitar, dirinya bertekad akan terus melakukannya selama ia masih mampu.

Referensi: tempo.co | detik.com | liputan6.com | suar.grid.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ada apa dengan Bahasa Sunda? Sebelummnya

Ada apa dengan Bahasa Sunda?

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.