Pesona Manik-Manik Khas Dayak Kalbar

Pesona Manik-Manik Khas Dayak Kalbar
info gambar utama

Saat ini aksesoris menjadi suatu kebutuhan yang wajib ada di masyarakat. Aksesoris yang dimaksud bukan hanya yang terbuat dari logam, emas ataupun perak akan tetapi benda seperti manik-manik juga dapat dijadikan sebagai aksesoris.

Kita sebut saja pernak pernik manik-manik yang dibuat oleh Suku Dayak yang ada di Kalimantan, manik-manik sendiri menjadi salah satu ciri khas serta pelestarian budaya dalam suku tersebut.

Dahulu manik-manik dipakai sebagai sebagai bentuk penghargaan kepada yang lebih tua yang artinya orang tua yang telah lebih dulu menjalani kehidupan ataupun yang memiliki gelar tertentu.

Manik-manik sendiri telah menjadi bagian dari suku Dayak sejak lama. Tetapi, sekarang manik-manik bisa dipakai semua kalangan usia dengan berbagai desain yang lebih modern dan tentunya menggemaskan.

Manik-manik yang dibuat juga dirangkai dengan berbagai macam variasi yang membuat mata kita menjadi tertarik untuk membeli. Seperti kalung, anting atau gelang yang dibuat dengan pola simetris atau persegi.

Variasi rangkaian manik-manik bisa untuk anting juga | Foto: Mona Destiana
info gambar

Selain itu, tas, pakaian adat dan ikat kepala manik-manik pun juga disediakan demi memenuhi keinginan dari para konsumen sekaligus menaikkan harga jual dari manik-manik tersebut.

Semakin sulit tingkat pembuatannya maka semakin tinggi pula biaya untuk memproduksi barang tersebut.

Warna dalam setiap rajutan yang dibuat juga memiliki arti tersendiri, seperti warna kuning,merah dan hitam yang divariasikan dengan warna lain yang melambangkan arti persatuan dan keharmonisan.

Bukan hanya warna, motif yang dipakai untuk pernak pernik tersebut juga tidak bisa sembarangan, bunga terong menjadi salah satu simbol serta ciri khas dari aksesoris tersebut. bunga terong sendiri memiliki arti kedudukan yang tinggi dalam suatu suku. Manik- manik dipercaya sebagai penolak bala atau pengusir kekuatan roh jahat.

Cenderamata tersebut juga tidak dapat kita temui di sembarang tempat, itu hanya dapat kita jumpai dalam pekan raya atau ucapan syukur yang diadakan oleh masyarakat Suku Dayak dalam merayakan pesta padi yaitu pesta karena berhasil memanen padi.

Perayaan ini diadakan dua kali dalam setahun yaitu setiap awal tahun dan pertengahan tahun. Biasanya aksesoris itu dijual kepada turis lokal dan asing yang berkunjung ke acara tersebut, dengan harga yang bervariasi dimulai dari 35.000 hingga ratusan ribu tergantung dengan tingkat kesulitan.

Seiring berkembangnya zaman hiasan manik-manik dibuat lebih fashionable dan ringan untuk pemakainya, mengingat orang–orang lebih menyukai sesuatu yang simple.

Suku Dayak membuat manik-manik | Foto: HS Putra/Antara Foto
info gambar

Selain itu, yang lemah dari kerajinan ini pengemasannya yang masih tidak memadai serta kurangnya apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal. Seperti kurangnya pameran pernak pernik budaya dan kurangnya jangkauan masyarakat mengenai informasi ini.

Mirisnya,kebanyakan yang menjadi pengrajin manik adalah orang-orang tua atau sesepuh-sesepuh dari Suku Dayak, mengingat seharusnya yang mewarisi ini adalah anak-anak dari Suku Dayak.

Kebanyakan dari kaum muda dari suku tersebut jarang sekali yang menggunakan atau membuat benda-benda itu karena dianggap sudah kuno dan tidak sesuai dengan zaman. Ditambah lagi dengan tingkat pembuatan yang memerlukan banyak waktu dan konsentrasi yang tinggi.

Maka dari itu, penanaman untuk mencintai budaya sendiri perlu ditanamkan sejak dini, bukan hanya untuk Suku Dayak saja tapi kita yang menjadi bagian dari Indonesia tentunya perlu menjaga kelestarian dari budaya dengan menggunakan kerajinan tersebut, karena semuanya berasal dari kita.

Sumber: ejournal | Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MD
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini