Kemegahan Situs Megalitikum, Warisan Bangsa Indonesia

Kemegahan Situs Megalitikum, Warisan Bangsa Indonesia

Situs Megalitikum Lore Lindu © iNews.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Dahulu saat sebelum mengenal peralatan dari logam, manusia membuat banyak macam jenis perabotan dari apa yang mereka temukan di alam sekitar, seperti kayu, tulang, daun, kulit binatang, serta juga dari batu.

Peninggalan batu-batu besar berbentuk tugu (menhir), bejana batu (kalamba), meja batu (dolmen), tempat jenazah (sarkofagus), dan lain sebagainya merupakan bukti-bukti yang tidak mudah lekang digerus oleh zaman terkait adanya peradaban beratus hingga berpuluh abad silam di berbagai tempat.

Di Indonesia sendiri, salah satu lokasi peninggalan kebudayaan zaman megalitik (batu besar) tertua yang bisa dijumpai di kawasan Lore Lindu. Lore Lindu merupakan cagar budaya yang berjenis Taman Nasional yang terdaftar sebagai kekayaan biosfer dunia. Cagar budaya ini terletak di daerah Sulawesi Tengah yang berdekatan dengan Danau Poso. Taman Nasional ini menyimpan kekayaan megalitikum yang luar biasa menarik.

Peninggalan zaman megalitik pun diperkirakan tersebar luas lebih dari 200 ribu hektare, mulai dari Kabupaten Poso hingga Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kawasan ini masih memiliki karakter vegetasi hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan.

Cagar Budaya Taman Nasional Lore Lindu | Foto : Traveltoday

Di Kabupaten Sigi, kawasan yang mempunyai persebaran megalitik dikenal dengan nama Lindu, sedangkan di Kabupaten Poso terkenal dengan kawasan Lore di mana terdapat tiga lembah yang memiliki persebarannya, yaitu Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada.

Ditinjau dari aspek sejarah, kehadiran cagar budaya kawasan Lore Lindu ini dinilai memberi sumbangan sangat berarti dalam perkembangan migrasi penutur bahasa Austronesia yang secara teoritis masuk ke wilayah Nusantara melalui jalur utara wilayah Sulawesi dan diketahui sebagai warisan moyang bangsa Indonesia.

Biasanya destinasi utama para pengunjung yaitu memasuki kawasan tengah Lore Lindu, Lembah Besoa di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah. Di luar sebagai tempat penelitian burung-burung endemik, Lore Lindu memang menjanjikan petualangan menuju sebuah kampung purba.

Keunikannya yaitu situs megalitikum ini berbentuk sebuah kampung. Para pengunjung dapat menemukan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari batu raksasa, kuburan, dan rumah manusia pada masa neolitikum di era zaman logam.

Situs megalitik di Taman Nasional Lore Lindu ini berjumlah ratusan, namun belum semuanya bisa terpetakan. Salah satu yang dapat diakses yaitu situs Pokekea dan Tadulako, sementara itu ratusan lainnya masih menjadi misteri di kedalaman hutan Lore Lindu.

Di sekitar Lembah Besoa situs megalitik diperkirakan sebagai peninggalan prasejarah yang merujuk tidak adanya bukti tulisan atau prasasti yang terpahat pada batu atau benda-benda lainnya. Hal mengejutakan pada situs Tadulako yaitu terdapat rumah, gerabah, hingga kuburan batu yang masih lengkap dengan tutupnya, kemudian terdapat pula patung-patung yang diduga digunakan sebagai pemujaan agama.

Selain situs batu-batu menhir tersebut, pemandangan di kawasan Lembah Besoa dengan pegunungan dan stepa, sangat memanjakan mata pengunjung.

Kawasan Budaya Situs Megalitikum Lore Lindu | Foto : Pesonaindonesia

Dilansir dari Liputan6.com, situs kawasan cagar budaya Lore Lindu ini sedang dipersiapkan untuk diajukan ke United Nations Educational, Scinetific, and Cultural Organization (UNESCO) agar menjadi warisan dunia. Zakaria Kasimin Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo yang menangani wilayah Sulawesi menargetkan sedikitnya lima tahun kawasan cagar budaya ini siap dicalonkan untuk masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia yang terdapat di Indonesia.

Hal tersebut bisa melengkapi delapan situs yang saat ini memang sudah menjadi warisan dunia, yakni empat situs alam, Taman Nasional Komodo, Ujung Kulon, Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera serta empat situs budaya yaitu, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, dan Subak Bali.

Bagaimana Kawan GNFI, tertarik untuk bertualang di kawasan megalitik ini? Bermain bisa sambil belajar sejarah mengenai asal usul nenek moyang bangsa di Nusantara. Asik bukan?


Catatan kaki: Liputan6.com | Traveltoday

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Bukan sebagai Hal Mistis, Justru Bubur Suro Melambangkan Rasa Syukur Sebelummnya

Bukan sebagai Hal Mistis, Justru Bubur Suro Melambangkan Rasa Syukur

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona Selanjutnya

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.